Home / Artikel / Evolusi Buatan

Evolusi Buatan

Di harian ini, 13 September 1995, saya menulis artikel tentang ”Gelombang Keempat: Teknologi Gelombang Pikiran”. Saat ini, lebih dari 20 tahun lalu sejak artikel tersebut terbit, kita menyaksikan bersama kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin mendekatkan kita pada terwujudnya hubungan langsung (direct connection) antara komputer dan otak kita; benar-benar secara harfiah.

Lingkaran komunikasi: indera-otak-jari-kibor-prosesor-monitor-indera akan digantikan koneksi langsung otak-prosesor. Amat menarik untuk menunggu, apa yang terjadi jika prosesor disatukan ke otak. Atau sebaliknya: apa yang terjadi jika otak disatukan ke prosesor.

Kemajuan teknologi digital menjadi platform pemersatu berbagai disiplin ilmu sehingga riset-riset inovatif antardisiplin ilmu mampu menghasilkan kreasi-kreasi baru yang bahkan tanpa preseden. Sebagai contoh, riset yang memadukan neurosains, neurologi, kecerdasan buatan, emosi buatan, dan robotik diprediksi dapat mewujudkan gagasan lahirnya manusia hibrida. Walau saat ini kita menganggap itu fiksi, sejarah penuh dengan catatan bahwa fiksi ilmiah dapat menjadi fakta ilmiah.

Tahun 1963, Moore menyatakan bahwa setiap dua tahun kapasitas prosesor meningkat secara eksponensial. Hal ini mendorong berlipat-gandanya kepraktisan teknologi digital. Jika hukum Moore masih valid, tahun 2020 komputer akan semandiri tikus dan tahun 2045 semandiri manusia. Itu menjadi titik sejarah: manusia akan menyaksikan perubahan menyeluruh cara berpikir. Teknologi komputer kuantum akan menggantikan teknologi komputer berbasis biner transistor yang mempercepat kalkulasi. Komputer berkomunikasi antarmereka dan mungkin mengembangkan bahasa unik yang tidak kita (manusia) mengerti.

Menyongsong masa depan
Walau era tersebut amat dahsyat, kita tidak perlu khawatir karena sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita seolah-olah sudah dikondisikan untuk menyongsong masa itu, salah satunya, melalui film-film fiksi yang sudah menjadi hiburan yang menghasilkan miliaran dollar. Fiksi (ilmiah) ditanamkan secara menyenangkan di benak kita sehingga kita pun menginginkan fiksi menjadi fakta. Kita dapat menyebutkan sedikit dari banyak film fiksi hiburan yang membuat kita membayangkan bagaimana kalau fiksi itu menjadi fakta. Sebutlah Matrix, Surrogate, I Robot, Transcendence, Chappie, dan Babylon.

Sebenarnya fenomena yang ada di film-film fiksi bukanlah sepenuhnya monopoli negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang telanjur dianggap sebagai bangsa ilmiah. Bangsa Indonesia, bahkan dalam kehidupan tradisional yang sering kita sepelekan berbau takhayul, memiliki angan-angan yang sebenarnya paralel dengan fiksi ilmiah.

Ambil contoh Gatotkaca dan Iron Man yang sama-sama sakti mandraguna. Bedanya, kalau Gatotkaca ingin terbang, ya, terbang saja. Sementara Iron Man perlu landasan ilmiah supaya terbangnya dapat diilmiahkan. Keduanya memasang bintang di dada mereka. Iron Man menyebutnya teknologi Palladium Arc Reactor. Hebatnya, bagi bangsa kreatif seperti Amerika, tahap fiksi pun sudah menjadi sumber masukan miliaran dollar. Kita sudah lama lupa bahwa nyata dan maya itu relatif. Avatar, misalnya, sudah lama dikenal di budaya Jawa sebagai ngrogo sukmo (astral projection).

Kecerdasan super buatan (artificial super intelligence), emosi buatan (artificial emotion), dan kesadaran buatan (artificial consciousness) terus dikembangkan walau beberapa orang, seperti Stephen Hawking, telah mengingatkan datangnya bencana kemanusiaan apabila pengembangan itu tak terkendali. Sayangnya, kita sudah melewati point of no return, kita tidak mungkin mencegahnya. Jika orang baik-baik (dengan alasan etik dan moral) berhenti, maka orang-orang yang kurang baik (dengan tujuan tidak baik) akan mengembangkannya.

Di masa depan yang tidak terlalu lama lagi, antarmuka antara gelombang pikiran dan teknologi digital akan sampai pada tahap praktis. Data dapat dilakukan timbal balik (unggah-unduh) antara otak dan komputer. Jika saat ini kita kagum bagaimana seorang siswa sekolah dasar mampu menggali informasi internet tanpa batas lewat Google melalui kibor, di masa depan siswa tidak lagi butuh kibor karena otaknya sudah langsung terkoneksi dengan internet.

Versi lain, alih-alih menghabiskan masa kecilnya menghafal pelajaran, seluruh jilid ensiklopedia dapat diunggah ke otak sehingga selalu siap sedia mengikuti kompetisi cerdas cermat. Masih mengkhawatirkan masalah budi pekerti? Tidak perlu, karena empati buatan (artificial empathy) pun dapat diunggah ke otak anak sehingga anak-anak masa depan pun dijamin berperilaku superbaik. Metode pendidikan jelas akan berubah total.

Terkoneksi ke pikiran
Berbeda dengan evolusi alami yang kita kenal terjadi secara gradual, teknologi memungkinkan kita melakukan evolusi buatan (forced evolution) dengan melibatkan teknologi secara instan. Pikiran seseorang dapat seutuhnya diunggah ke komputer (robot), sehingga jika dia meninggal (secara biologis), pikirannya dapat berlanjut tanpa batas waktu (abadi).

Konsep hidup abadi menjadi nyata karena keterbatasan biologis (kematian) tidak ada lagi. Ketika seseorang yakin hidup abadi, mengupayakan keturunan mungkin menjadi tidak terlalu relevan. Itu artinya tingkat kelahiran manusia akan menurun. Ketika kita sebagai suatu bentuk kesadaran menjadi entitas kesadaran digital, bukankah kita dapat masuk ke jaringan digital dan hidup dalam dunia internet sebagai semesta sejajar (parallel universe)?

Perkembangan antarmuka antara kesadaran manusia dan teknologi digital akan berlanjut dengan koneksi ke pikiran bawah sadar (subconscious mind). Koneksi ke pikiran bawah sadar membuka jalan untuk koneksi ke pikiran bawah sadar hewan (nonhuman animal) yang akan mengantar kita pada babak baru komunikasi antarspesies (interspecies communication).

Jika sejauh ini kita baru membayangkan teknologi komunikasi digital yang ada sekarang berbau elektronik, film-film fiksi sudah memberi kita suguhan teknologi alternatif, telepati, yang konon sangat efisien dan efektif. Komunikasi telepati sering dianggap sebagai teknologi komunikasi Tuhan.

Dinosaurus menguasai bumi selama 160 juta tahun, manusia (Homo sapiens) baru 200.000 tahun. Ke depan, bumi akan dihuni oleh manusia (biologis), manusia hibrida (robot dengan otak manusia) dan robot (dengan pikiran mandiri), serta hewan (yang mampu berkomunikasi dengan manusia).

Di dunia pendidikan, diskusi mengenai masa depan relevansi taksonomi Bloom (kognitif-afeksi-motorik) sudah lama marak di internet. Pendidikan 4.0 disebut untuk menyiapkan Revolusi Industri (RI) Keempat yang didominasi oleh penggunaan sistem siber-fisik. Pendidikan macam apa yang perlu kita siapkan, sementara kita juga belum benar-benar yakin akan bertahannya bentuk klasik kognitif-afektif-psikomotorik.

Kecerdasan buatan jelas akan mengambil alih. Tadinya manusia memprediksi bahwa ”mereka yang menguasai data dan mampu mengolahnya akan memimpin”. Namun, data dan pengolahnya lebih melekat (inherent) pada ”makhluk” bernama kecerdasan buatan. Jadi, manusia nanti akan menjadi warga kelas dua.

Tanda-tanda terwujudnya evolusi buatan semakin terlihat. Tak ada salahnya kita bersiap diri dengan menata pendidikan kita menjadi, setidaknya, dua versi. Versi pertama, meneruskan apa yang telah kita capai sejauh ini sambil secara bertahap menyelaraskan arah tujuan pendidikan ke depan. Kita harus berani menerima fakta bahwa di depan akan terjadi evolusi buatan yang tak dapat dihindari, yang mungkin menuntut kita untuk merombak seutuhnya cara kita menyelenggarakan pendidikan. Versi pertama ini berbasis pada kondisi nyata saat ini sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya kekacauan.

Versi kedua, kita menyiapkan sistem pendidikan lompatan (leaping education system) yang benar-benar baru (fresh) untuk menyambut datangnya era evolusi buatan. Kita tidak hanya cukup think out of the box, tetapi juga think out of the mainstream logic; termasuk tidak mengabaikan konsep berpikir lokal yang sering kita anggap takhayul tetapi ternyata padanannya disulap menjadi bisnis jutaan dollar oleh Marvel Cinematic Universe dan Disney Comics.

Era evolusi buatan boleh jadi menjadi tonggak singularitas segalanya, titik reset yang menjadikan semua bangsa mulai dari titik baru bersama; saat yang memberi kesempatan kita melompat dan sejajar dengan bangsa lain. Yang perlu kita lakukan mulai saat ini adalah membuka pikiran kita seluas-luasnya dan tak mudah terperangkap dengan pikiran kaku apa pun. Globalisasi memaparkan kita pada tren teknologi yang sama. Namun, kita perlu menyingkirkan perilaku primitif kita dalam memakai teknologi.

Prasasto Satwiko Guru Besar di Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Sumber: Kompas, 6 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: