Home / Berita / Evakuasi Mandiri Selamatkan Warga Pulau Sebesi dari Tsunami

Evakuasi Mandiri Selamatkan Warga Pulau Sebesi dari Tsunami

Kesiapsiagaan dan evakuasi mandiri telah menyelamatkan masyarakat di Pulau Sebesi dari terjangan tsunami pada 22 Desember 2018 lalu. Sekalipun banyak rumah hancur, namun korban jiwa di pulau paling dekat kompleks Gunung Krakatau ini korban jiwa sangat kecil.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Gunung Anak Krakatau pada Kamis (31/2) pagi tenang setelah pada 22 Desember 2018 lalu memicu tsunami. Namun hingga saat ini gunung ini masih berstatus Siaga dan masyarakat belum boleh mendekat hingga jarak 5 km.

Pulau Sebesi berpenduduk 2.800 jiwa masuk dalam Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, berjarak sekitar 15 kilometer dari Anak Gunung Krakatau. Sekretaris Desa Tejang Pulau Sebesi, Syamsiar, saat ditemui Kamis (31/1/2019), di Pulau Sebesi, mengatakan, tinggi tsunami rata-rata sekitar 2 meter dan merusak 80 rumah warga.

Namun demikian, di Kampung Gubuk Seng yang berhadapan langsung dengan Anak Krakatau tinggi tsunami mencapai lebih dari 10 meter dan menghancurkan semua rumah warga, yang mencapai 15 unit. “Saat itu saya naik pohon kelapa, tinggi 8 meter tapi tetap kena air,” kata Muhroji (35), warga Dusun Regan Lada yang saat kejadian berada di Gubuk Seng.

Menurut pemantauan di lapangan, banyak rumah tembok di pinggir pantai hancur dan hanya tinggal fondasinya. Sedangkan rumah dari kayu terseret hingga puluhan meter. Batu-batu karang ukuran setengah meter dari laut banyak yang terseret di jalanan desa menuju Gubuk Seng.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Batu-batu karang banayak terdampar di daratan Pulau Sebesi setelah tsunami 22 Desember 2018 lalu, menghancurkan puluhan rumah warga, seperti terlihat Rabu (30/1), dengan latar belakang kompleks Gunung Krakatau. Kompas/Ahmad Arif

Sekalipun kerusakan cukup banyak, namun korban jiwa di Pulau Sebesi satu orang. “Korbannya satu anak umur 5,5 tahun dari Gubuk Seng,” kata Syamsiar.

Sedikitnya korban di Pulau Sebesi, menurut Syamsiar, karena masyarakat bisa segera berlari saat datang tsunami. Yang datang sekitat pulul 21.10 WIB atau sekitar 20 menit lebih awal dibandingkan di pesisir Banten. “Saat itu orang belum tidur dan rata-rata mendengar suara air datang dengan gemuruh. Orang-orang langsung tahu tsunami. Sambil segera menjauhi pantai mereka memperingatkan warga lainnya,” ujarnya.

Mutiara Hadijah (19) warga Sebesi, menuturkan, sebelum terjadi tsunami, ia melihat Gunung Anak Krakatau dari belakang rumahnya seperti menyala. Petir juga menyambar-nyambar di atasnya. “Tidak lama kemudian kami mendengar suara gemuruh, saya langsung lari ke gunung. Baru besok paginya lihat rumah sudah hancur,” ungkapnya.

–Pulau Sebesi berjarak sekitar 15 km dariAnak Krakatau.

Berbeda dari Biasanya
Banyak warga di Pulau Sebesi telah menyadari bahwa letusan Anak Krakatau sejak Sabtu (22/12/2018) itu berbeda dengan biasanya, sehingga sebagian orang mulai berjaga-jaga. “Suara letusannya tidak berhenti, hampir tiap detik. Padahal, biasanya kalau meletus kadang berhenti, baru meletus lagi. Istri saya sempat tanya-tanya kenapa beda. Sampai goyang kaca rumah. Ada anak tetangga yang bilang, tsunami nanti,” kata Mastur (40), warga Desa Desa Tejang Pulau Sebesi.

Perbedaan perilaku Anak Krakatau hari itu juga dirasakan oleh Jefry Aripandi (29), staf Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Lampung yang tinggal di Pulau Sebesi. Saat kejadian dia tengah berpatroli di Cagar Alam Gunung Anak Krakatau. “Kami bersembilan, baru menginap semalam di Pulau Panjang. Sekitar jam tujuh malam tiba-tiba Anak Krakatau meletus tanpa henti. Yang keluar bukan hanya api juga ada petir menyambar-nyambar di atasnya. Kami mulai gelisah,” kata dia.

Sekitar pukul 20.30 WIB, nahkoda kapal mengajak berpindah ke Pulau Sertung yang sedikit lebih jauh dari Anak Krakatau. Dalam perjalanan itu, mereka melintas sekitar 200 meter dari Anak Krakatau. “Tiba-tiba sekitar sembilan lebih sedikit, terjadi letusan besar. Anak Keakatau bocor. Ada semburan api dari samping gunung, di kanan kiri. Lalu gunungnya ambruk hilang ke laut. Tidak lama kemudian terjadi ombak besar,” kata Jefry.

Dia mengaku melihat ombak besar menenggelamkan Pulau Panjang. Hingga saag ini, tanaman di salah satu dari tiga pulau sisa Krakatau tua ini masih mengering akibat tersapu tsunami. “Beruntung kapal kami selamat walaupun sempat terbawa gelombang. Tapi kalau kami masih berkemah di Pulau Panjang pasti habis,” kata dia.

Belajar dari letusan kali ini, menurut Syamsiar, masyarakat di Pulau Sebesi harus senantiasa bersiaga. “Kali ini korban sangat sedikit, tetapi kalau kejadiannya sudah tengah malam atau saat warga tidur, korban bisa lebih banyak lagi,” kata dia.

Selain lebih bersiaga, Syamsiar juga menyambut baik pemasangan sistem peringatan dini tsunami di desanya, yang dilakukan oleh Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan Perikanan (BRSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Ikatan Ahli Tsunami Indonesia serta Joint Research Centre of European Commission (JRCEC).

Peneliti tsunami BRSDMKP Semeidi Husrin mengatakan, untuk melindungi masyarakat Pulau Sebesi, dibutuhkan pemasangan alat deteksi dini tsunami di pulau-pulau sekitar Anak Krakatau. Adapun pemasangan alat di sekitar Pulau Sebesi lebih berguna untuk memberi peringatan masyarakat di pesisir Banten dan Lampung. “Kita akan mengupayakan pemasangan alat di sekitar Anak Krakatau,” ujarnya.

Sekalipun demikian, jarak Pulau Sebesi dengan Anak Krakatau yang sangat dekat membuat golden time atau kesempatan bagi warga pulau ini untuk evakusi juga sangat singkat, bisa kurang dari lima menit. Masyarakat di Pulau Sebesi memang penuh risiko. Mereka merupakan generasi ketiga penghuni ini sedangkan kakek-nenek mereka rata-rata tinggal di pulau ini sejak 1960-an.

Letusan Krakatau pada Agustus 1883 pernah memusnahkan kehidupan di Pulau Sebesi. Ahli botani Belgia, Edmond Cotteau, yang datang ke Sebesi, Mei 1884, menggambarkan dalam bukunya, Krakatau en de Straat Soenda (1886), seluruh pulau ini terkubur lapisan abu bercampur batu apung hingga kedalaman lebih dari 10 meter.

Ia menemukan bekas desa yang telah binasa. ”Di antara sisa rumah yang hancur dan potongan perabot rumah, ada lima puluh kerangka. Beberapa dilapisi sarung berwarna-warni. Orang-orang malang itu tercekik di bawah hujan dingin lumpur,” tulisnya.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 1 Februari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: