Enam Pernyataan Ilmuwan Paling Mencengangkan Tahun 2013

- Editor

Senin, 30 Desember 2013

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah pernyataan terkait gagasan dan penemuan diungkapkan oleh para ilmuwan. Di antara banyak pernyataan, ada beberapa yang menyedot perhatian publik, membuat publik kagum, ikut berpikir, serta merenungkan.

Di antara banyak pernyataan ilmuwan dalam beberapa artikel di Kompas Sains, berikut beberapa yang paling populer.

Stephen Hawking: Manusia bisa hidup abadi
Dalam wawancara dengan The Guardian, Hawking yang terkenal lewat buku A Brief History of Time serta M-Theory menyatakan bahwa manusia bisa hidup abadi.

“Saya pikir otak seperti sebuah program dalam pikiran, seperti komputer, jadi secara teoretis sebenarnya mungkin untuk menyalin otak ke komputer dan mendukung bentuk kehidupan setelah mati,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya pikir kehidupan setelah mati secara konvensional adalah dongeng untuk orang-orang yang takut pada kegelapan,” imbuhnya seperti dikutip The Guardian, 21 September 2013.

Hasan Djafar: Nusantara bukan wilayah Majapahit
Diyakini banyak orang, Majapahit punya wilayah Nusantara yang teritorialnya seperti Republik Indonesia. Namun, Hasan Djafar, seorang ahli arkeologi, epigrafi, dan sejarah kuno, mengatakan, “Itu omong kosong!”

“Sayang sekali banyak ahli sejarah menafsirkan bahwa Nusantara itulah wilayah Majapahit!” serunya.

Menurutnya, makna “nusa” adalah “pulau-pulau atau daerah”, sedangkan “antara” adalah “yang lain”. Jadi, Nusantara pada masa Majapahit diartikan sebagai “daerah-daerah yang lain” karena kenyataannya memang di luar wilayah Majapahit.

Surono: Kalau letusan Samalas terulang, Indonesia porak poranda
Gunung Samalas yang dahulu terletak satu kompleks dengan Gunung Rinjani pernah meletus dahsyat pada tahun 1257. Letusannya mencapai skala 7, 1.000 kali lebih kuat dari letusan Merapi tahun 2010.

Bila letusan gunung yang kini punya “anak”, yaitu Gunung Barujari, itu terulang pada masa modern, dampaknya tak terkirakan. Letusan Merapi saja sudah mampu membuat 1.000 orang mengungsi.

“Kalau letusan seperti Samalas terulang, yang bisa dibayangkan adalah porak poranda. Semua penerbangan lumpuh, tidak beroperasi. Kerugiannya besar,” demikian kata Surono kepada Kompas.com, 4 Oktober 2013.

Iskandar Zulkarnain: Sumatera bukan sepenuhnya bagian Eurasia
Sebelumnya, Sumatera diyakini merupakan tepian benua Eurasia. Namun, peneliti geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Iskandar Zulkarnain, mengatakan tidak.

“Sumatera bukan sepenuhnya bagian dari lempeng benua Eurasia,” katanya dalam orasinya sebagai guru besar Agustus 2013 lalu.

Berdasarkan riset Iskandar, wilayah barat Sumatera sebenarnya adalah busur kepulauan, tersusun atas lempeng samudra.

“Batasnya adalah sesar Sumatera,” tuturnya.

Chris Hadfield: 40 tahun lagi, manusia bisa hidup di Bulan
Chris Hadfield sejatinya adalah seorang astronot Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa mimpi manusia untuk tinggal di Bulan akan segera menjadi kenyataan dalam 40 tahun lagi.

“Saya pikir dalam masa hidup saya kita akan melihat basis permanen di Bulan. Memulai tinggal di Bulan akan membantu kita mengeksplorasi antariksa lebih baik,” imbuh Hadfield seperti dikutip Telegraph, 16 Desember 2013.

Reza Aslan: Yesus tidak lahir di Bethlehem
Reza Aslan, penulis buku Zealot : The Life and Times of Jesus of Nazareth mengatakan, Yesus tidak lahir di kandang dan Bethlehem.

“Cerita (bahwa Yesus lahir di Nazareth dan di sebuah kandang domba) sendiri tidak pernah dimaksudkan sebagai catatan sejarah kelahiran Yesus. Cerita itu dimaksudkan sebagai argumen akan siapa Yesus saat itu,” kata Aslan seperti dikutip Huffington Post, Sabtu (14/12/2013).

“Dia lahir di rumah dengan keluarganya ada di sampingnya,” imbuhnya.

Penulis    : Yunanto Wiji Utomo
Editor     : Yunanto Wiji Utomo

Sumber: Kompas, Senin, 30 Desember 2013

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 23 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB