Home / Berita / Emas, Perak, dan Perunggu untuk Negeri

Emas, Perak, dan Perunggu untuk Negeri

Sebanyak 570 medali emas, perak, dan perunggu dipersembahkan pelajar bagi negeri. Tunggu dulu… ratusan medali itu hanya perolehan dalam 5 tahun. Lebih dari 20 tahun Indonesia mengikuti olimpiade keilmuan. Sebuah ilustrasi, betapa negeri ini kaya talenta.

Dalam kurun tahun 2010 hingga 2014, para pelajar sekolah dasar, sekolah menengah pertama, serta sekolah menengah atas dan yang sederajat mengumpulkan medali-medali itu dari berbagai olimpiade kelas dunia, seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, astronomi, kimia, biologi, fisika, dan kebumian. Tepatnya, ada 92 emas, 221 perak, dan 257 perunggu yang diraih. Itu baru menurut catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pencapaian itu belum berhenti. Di Magelang, Jawa Tengah, Joandy Leonata Pratama (17) menambah tumpukan medali. Dia menyumbang emas lewat Olimpiade Astronomi dan Astrofisika Internasional pada 26 Juli hingga 4 Agustus lalu. Dengan nilai tertinggi, melampaui 10 peraih medali emas lainnya, gelar Absolute Winner dan penghargaan Best Observation pun disabet Joandy.

“Saya menargetkan medali emas pada olimpiade kali ini untuk Indonesia,” kata Joandy.

Kebanggaan mengharumkan nama Indonesia juga dirasakan Maria Patricia Inggriani (17). Maria, yang menyumbang medali emas lewat Olimpiade Biologi Internasional di Denmark pada 12-19 Juli 2015, berkata ingin berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Untuk itu, dia melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

“Pengetahuan biologi menunjang untuk mendalami kedokteran. Saya ingin mengobati pasien di Indonesia,” katanya.

Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta kerap menjadi “saksi” kedatangan para pelajar Indonesia seusai “bertarung” di luar negeri. Tak hanya berkompetisi pada lomba bersifat sains, mereka juga menjajal lomba di bidang lain. Nah, betapa semringah senyum I Gede Sthitaprajna Virananda (17) saat menginjakkan kaki di bandara tersebut, Kamis (6/8). Jana, panggilan akrabnya, merupakan satu dari empat pelajar berprestasi yang baru saja mengikuti kompetisi debat bahasa Inggris internasional World Schools Debating Championship di Singapura, 27 Juli-6 Agustus lalu.

Kedatangan Jana bersama rombongan disambut senyum dan pelukan hangat. Spanduk ucapan selamat datang dibentangkan. Meski tak mendapat medali, perjuangan Jana dan kawan-kawan patut diapresiasi. Mereka bersaing dengan 200 pelajar dari 53 negara di dunia.

“Saya bangga mewakili Indonesia. Kami tidak kalah bersaing dengan pelajar dari luar negeri, hanya kalah tipis dari negara-negara yang selalu juara, seperti Singapura, Hongkong, dan Skotlandia,” kata Jana.

Medali pertama
Selama lebih dari 20 tahun, Indonesia mengikuti berbagai olimpiade sains internasional. Indonesia meraih medali emas pertama kali tahun 1999 dalam Olimpiade Fisika Internasional Ke-30 di Padova, Italia. Tak hanya di bidang sains, Indonesia juga aktif mengirimkan delegasi ke festival seni dan olahraga.

Direktur Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Haris Iskandar menuturkan, Indonesia menjadi salah satu negara yang diperhitungkan di dunia. “Ini bukti, jika tekun dan sungguh-sungguh, anak-anak bisa juara dunia,” katanya.

Bagi Direktur Eksekutif Institute for Education Reform Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen, prestasi itu tidak mencerminkan kualitas pendidikan Indonesia secara keseluruhan, tetapi menjadi bukti negeri ini sebenarnya penuh talenta. “Bukti bahwa orang Indonesia ialah generasi unggul di mata bangsa lain,” katanya.

Mereka harus difasilitasi hingga menjadi ahli di bidangnya masing-masing. “Selain itu, harus ada perencanaan, akan ditempatkan di mana orang-orang hebat itu,” kata Abduh.

Kiprah para talenta bangsa itu mulai dirasakan. Sebut saja, Ainun Najib (30), peraih honorable mention pada Olimpiade Matematika Asia Pasifik 2003. Meskipun menetap di Singapura, dia tetap berkiprah bagi Indonesia. Pada 2014, karena resah dengan polemik pemilu presiden, Ainun menggagas situs www.kawalpemilu.org untuk mengawal rekapitulasi suara. Dia mengajak 700 relawan bergotong royong memasukkan isian C1 berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum.

Ainun yang bekerja di perusahaan teknologi informasi (TI) di Singapura itu ingin membangun sistem e-government di Indonesia. Menurut dia, dengan sistem itu, Indonesia dapat lepas dari korupsi dan pelayanan publik lebih efisien.

“Saya tinggal di negara dengan sistem terpadu dan rapi. Saya ingin Indonesia punya sistem seperti itu,” kata Ainun lewat sambungan telepon yang menghubungkan Jakarta dan Singapura. Dia menilai kemampuan orang Indonesia di bidang TI mumpuni. “Orang-orang hebat Indonesia butuh dukungan untuk mewujudkan mimpi,” ucap Ainun. (B08)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Agustus 2015, di halaman 1 dengan judul “Emas, Perak, dan Perunggu untuk Negeri”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: