Home / Berita / Ekstraksi Sumber Daya Alam Mengkhawatirkan

Ekstraksi Sumber Daya Alam Mengkhawatirkan

Ekstraksi sumber daya alam yang meningkat pesat telah menyumbang 50 persen gas rumah kaca dan menyebabkan hilangnya 90 persen keragaman hayati dan cadangan air tanah. Karena itu, butuh perubahan kebijakan dan perilaku bisnis, selain juga upaya di tingkat individu, untuk mencegah kehancuran.

Laporan terbaru Global Resources Outlook 2019 yang diluncurkan di sela-sela Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan (United Nations Environment Assembly/UNEA) Ke-4 di Nairobi, Kenya, Selasa (12/3/2019), menunjukkan, ekstraksi sumber daya alam, seperti bahan tambang, telah meningkat tiga kali lipat dalam 50 tahun terakhir. Pada tahun 1970-an, ekstraksi yang dilakukan sebesar 27 miliar ton dan menjadi 92 miliar ton pada 2017). Melihat trennya, kondisi ini diperkirakan berlipat ganda lagi pada 2060.

Sementara itu, dalam kurun yang sama, jumlah penduduk bertambah dua kali lipat. Hal itu menunjukkan, pertumbuhan esktrasi sumber daya alam melebihi pertumbuhan penduduk.

–Suasana pembukaan Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Lingkungan (United Nations Environment Assembly/UNEA) yang ke-4 di Nairobi, Senin (11/3). Pertemuan ini akan berlangsung hingga Jumat (15/3). Kompas/Ahmad Arif

Menurut laporan tersebut, “ekstraksi dan pengolahan material, bahan bakar, dan makanan menyumbangkan sekitar setengah dari total emisi gas rumah kaca global dan berkontribusi terhadap lebih dari 90 persen hilangnya keanekaragaman hayati dan tekanan air.”

“Global Resources Outlook menunjukkan bahwa kita sedang membajak sumber daya yang terbatas di planet ini seolah-olah tidak ada hari esok, menyebabkan perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati,” kata Joyce Msyua, Penjabat Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB. “Terus terang, tidak akan ada hari esok bagi banyak orang kecuali kita berubah.”

Global Resources Outlook 2019, disiapkan International Resource Panel, mengkaji tren dalam sumber daya alam dan pola konsumsi di dunia sejak tahun 1970-an. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung pembuat kebijakan dalam pengambilan keputusan strategis dan transisi ke ekonomi berkelanjutan.

“Situasi Bumi sepertinya memburuk sampai adanya langkah sistematis yang diambil dalam menggunakan sumber daya alam,” kata Janez Potocnik, ketua bersama Panel Sumber Daya Internasional PBB yang menyusun laporan itu.

Negara Berkembang
Menurut Potocnik, seluruh pemimpin politik harus menyadari pentingnya menjaga sumber daya alam yang tersisa. “Sumber daya alam di negara berkembang saat ini dalam kondisi kritis karena eksploitasinya melebihi pertumbuhan ekonomi,” kata dia.

Sejak tahun 2000, pertumbuhan ekstraksi sumber daya alam secara global telah meningkat menjadi 3,2 persen per tahun. Situasi ini terutama didorong oleh investasi besar dalam infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang dan yang mengalami transisi, terutama di Asia.

Meski demikian, jika di rata-rata, pengonsumsi terbesar sumber daya alam tetap di negara kaya. Rata-rata penduduk di negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat membutuhkan 9,8 ton bahan material per orang pada tahun 2017.

Laporan itu juga mencatat adanya peningkatan penggunaan bijih logam sebesar 2,7 persen setiap tahun yang berdampak pada kesehatan manusia dan mempercepat perubahan iklim selama 2000-2015. Penggunaan bahan bakar fosil meningkat dari 6 miliar ton pada 1970 menjadi 15 miliar ton pada 2017. Biomassa meningkat dari 9 miliar ton menjadi 24 miliar ton, sebagian besar untuk makanan, bahan baku, dan energi.

Dengan memakai data dari tren historis, laporan tersebut memproyeksikan, dari 2015-2060 penggunaan sumber daya alam akan tumbuh 110 persen. Jika itu terjadi, hutan akan berkurang lebih dari 10 persen dan pengurangan habitat lain seperti padang rumput sekitar 20 persen. Kondisi itu akan memperparah perubahan iklim, karena akan meningkatkan emisi gas rumah kaca 43 persen.

Laporan ini merekomendasikan, efisiensi penggunaan sumber daya alam hingga di level individu. Selain itu, berbagai inovasi dibutuhkan untuk memperpanjang umur produk, desain produk yang cerdas dan efisien, serta daur ulang.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 13 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: