Eksperimen Keantariksaan; Ide Pelajar Batam Mengorbit di ISS

- Editor

Rabu, 21 September 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Astronot Takuya Onishi memainkan tiga benda berbentuk bola dalam air, terbungkus plastik berpengunci rits. Setelah memegang plastik dalam posisi diam, plastik digerak-gerakkan. Tiga benda di dalamnya turut bergerak ”Permainan” itu jadi istimewa karena dilakukan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), sekitar 400 kilometer di atas muka Bumi.

Apa yang dilakukan Onishi; astronot Lembaga Eksplorasi Keantariksaan Jepang (JAXA), Rabu (14/9), berdasarkan proposal berjudul ”Blocks in Jar” sebagai bagian dari program Asian Try Zero-G. Dan, pembuat proposal adalah siswi SMAN 1 Batam, Kepulauan Riau, Ingrid Dewi Rucita Saragih (16).

”Saya bertanya-tanya, kok, proposal sesederhana dan sesingkat itu diterima.” ucap Ingrid saat jumpa media di Jakarta, Senin (19/9). Proposal eksperimennya berangkat dari rasa ingin tahu: apakah benda yang mengapung di Bumi akan tetap mengapung di luar angkasa. Begitu pula terhadap benda yang di Bumi tenggelam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ingrid harus menyertakan hukum fisika dalam proposal. Ia menjelaskan benda dan air punya massa jenis yang dipengaruhi seberapa besar gaya gravitasi. Benda akan mengapung jika massa jenisnya lebih kecil dibanding massa jenis air, melayang jika sama, dan tenggelam jika lebih besar massa jenisnya.

20160920_114702wBenda semestinya cenderung melayang dalam air jika berada di luar angkasa karena massa jenis benda dan air jadi hampir sama dalam kondisi mikrogravitasi. Itulah yang Ingrid ingin dibuktikan di ISS. Ingrid usul sang astronot menggunakan tiga kotak yang terdiri dari kayu (di bumi mengapung), plastik polietilena, dan aluminium (tenggelam). Ketiganya dimasukkan dalam stoples berisi air.

Dalam prosesnya, astronot menggunakan tiga benda tadi dalam bentuk bola, bukan kotak, serta memakai plastik, bukan stoples. Sebab, barang-barang itu yang tersedia di ISS. Dalam posisi diam, hipotesis Ingrid terbukti. Kayu, polietilena, dan aluminium sama-sama melayang.

Memperkaya ilmu
Untuk memperkaya pengetahuan, Onishi memutar-mutar plastik dan menarik plastik dari kiri ke kanan berulang. Ingrid pun dapat tambahan ilmu. Ia lebih memahami hukum inersia atau kelembaman. ”Kelembaman benda dipengaruhi massa saja, bukan massa jenis, berapa pun gravitasinya ” ujarnya.

Aluminium dalam eksperimen berbobot 72 gram, polietilena 26 gram, dan kayu 15 gram. Berdasarkan hukum kelembaman, aluminium sebagai yang paling berat adalah benda yang paling tertinggal ketika plastik digerak-gerakkan

Proposal Ingrid bagian dari lima proposal terpilih, dari 120-an lebih ide yang dikirimkan pelajar serta peneliti atau perekayasa muda negara-negara Asia melalui program Asian Try Zero-G. Program itu termasuk program Kibo-Asian Beneficial Collaboration through ”Kibo” Utilization atau Kibo-ABC, yang diinisiasi Space Environment Utilization Working Group pada Asia Pacific Regional Space Agency Forum.

Asian Try Zero-G berjalan setiap tahun sejak 2011. Ada dua kategori, yaitu untuk pelajar berusia di bawah 18 tahun serta mahasiswa, peneliti, dan perekayasa muda berusia maksimal 27 tahun. Proposal Ingrid yang pertama lolos dari Indonesia.

”Saya mengajak adik-adik ikut serta di tahun-tahun berikutnya. Setiap tahun, akan ada lomba seperti ini, menantang adik-adik SMA dan perguruan tinggi bagaimana menyampaikan ide-ide terkait keantariksaan,” kata Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Afif Budiyono. Di tengah dunia riset yang suram, ide Ingrid mudah-mudahan turut menumbuhkan budaya riset yang sedang terkulai. (JOG/C04)

Sumber: Kompas, 20 September 2016

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 24 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB