Home / Berita / Ekonomi Digital dan Penambangan ”Big Data”

Ekonomi Digital dan Penambangan ”Big Data”

Menjelang akhir tahun 2015 ditutup, Pemerintah Indonesia memantapkan langkah memasuki perekonomian digital. Itu dilakukan lewat program menuju ekonomi digital pada akhir 2020 dengan keberadaan 1.000 wirausaha bidang teknologi di masa tersebut.

Kunjungan Sergey Brin, salah seorang pendiri raksasa mesin pencari dan perusahaan teknologi Google, ke Jakarta pada 20 Desember 2015 semakin menguatkan rencana strategis itu. Brin ingin memberikan kontribusi Google kepada Indonesia, terutama terkait dengan program menuju ekonomi digital pada akhir 2020.

Apakah ekonomi digital? Ekonomi digital diawali dari sebuah konsep yang ditulis Don Tapscott lewat buku fenomenal The Digital Economy (terbit 1994/2014) guna membuktikan kebenaran prediksi Tapscott pada 21 tahun silam.

Ekonomi digital merupakan jaringan manusia lewat perantaraan teknologi dengan tulang punggung jejaring internet, alih-alih jaringan teknologi. Jaringan manusia di seluruh dunia itu membentuk inteligensi kolektif melalui jaringan kecerdasan (networked intelligence).

Mereka melakukan kolaborasi massal dalam konvergensi media dan teknologi untuk mengembangkan pengetahuan, kreativitas, dan menciptakan terobosan produk barang atau jasa yang tidak pernah ada pada masa sebelumnya. Beberapa di antara contohnya adalaha Wikipedia, Linux, Uber, dan Airbnb.

Gagasan Tapscott bukan barang baru. Pada tahun 1937, Ronald H Coase telah menulis gagasan The Nature of The Firm. Tulisan Coase, yang memenangi Nobel Ekonomi tahun 1991, diakui Tapscott telah sangat memengaruhinya dalam menulis The Digital Economy. Penting digarisbawahi, yang dimaksudkan Tapscott dengan ”digital economy” bukanlah tentang teknologi atau komputer yang saling terhubung. Tapscott menjelaskan tentang masyarakat jejaring di seluruh dunia yang saling terhubung. Jaringan antar-kecerdasan manusia.

Program menuju ekonomi digital pada akhir 2020 yang digagas Pemerintah Indonesia tentu saja mesti diletakkan pada kerangka tersebut. Kerangka yang dibentuk dengan informasi-informasi yang diunggah para pengguna internet relatif secara cuma-cuma dalam menjalankan kehidupan mereka.

Jejak digital
Informasi dari jejak digital yang ditinggalkan saat mengunjungi sejumlah situs tertentu, kecenderungan memilih produk tertentu, jaringan hubungan yang dimiliki, riwayat obrolan di jejaring maya, mengetikkan kata kunci tertentu di mesin pencari, dan sebagainya merupakan data berharga yang semuanya kini bisa dikumpulkan dengan relatif mudah. Data dalam ukuran besar dan besar itu (big data) dianalisis dengan model algoritme tertentu guna mencari polanya sebelum kesimpulan ditentukan.

c3455fee5e6a4ee7879e2a31c209f5a6KOMPAS/IWAN SETIYAWAN–Isu terkait “Big Data” menjadi tema dalam ekonomi digital yang saat ini menemukan bentuknya dalam era masyarakat informasi. Tema ini bakal merevolusi cara orang-orang berpikir, hidup, dan bekerja.

Kegunaannya sangat banyak dan nyaris tidak terbatas. Pendataan momentum konsumsi masyarakat, pemetaan tingkat konsumsi masyarakat, dan seterusnya yang menggerakkan perekonomian digital. Salah satu bukti tentang kekuatan jejak digital setelah tertinggal di mesin pencari ialah seperti dilakukan Google pada 2009 lalu, seperti ditulis Mayer-Schönberger dan Cukier (2013) dalam buku berjudul Big Data: A Revolution That Will Transform How We Live, Work and Think.

Ketika itu Google berhasil melakukan pemetaan dan prediksi hingga sampai pada tingkat detail pada wilayah tertentu di Amerika Serikat tempat pandemi flu burung dengan virus subtipe H5N1 meledak. Hasil tersebut diperoleh relatif secara real time dari hasil analisis terhadap sekitar 50 juta istilah pencarian yang berhubungan untuk dibandingkan dengan daftar penyebaran flu musiman antara tahun 2003 dan 2008 yang dikeluarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Google memproses 450 juta model penghitungan matematis guna menguji kata-kata kunci yang dicari tersebut dan membandingkan prediksi mereka dengan serangan flu yang pernah terjadi pada 2007 dan 2008.

Hasil analisis itu belakangan menemukan kombinasi 45 istilah pencarian yang jika dipergunakan bersama ternyata memiliki korelasi kuat antara prediksi Google dan angka resmi secara nasional. Kekuatan Google pada saat itu ada pada kecepatannya yang seketika dibandingkan dengan CDC yang baru bisa mengabarkan kejadian pandemi di wilayah tertentu tersebut sekitar dua pekan sejak faktanya terjadi. Waktu selama dua minggu itu tentu saja berarti besar, terutama jika dikaitkan dengan bagaimana penderita flu burung harus beroleh perawatan agar nyawanya terselamatkan.

Korelasi dan tentang apa yang diinginkan, dibutuhkan, dan dicari orang-orang alih-alih mengapa orang-orang menginginkan, membutuhkan, dan mencari hal tersebut merupakan hal yang lebih penting dalam era big data. Jawaban tentang ”apa” yang telah lebih mudah ditemukan, dan dengan demikian sudah cukup mampu menggerakkan perekonomian digital, tanpa perlu tahu ihwal ”mengapa”.

Rekaman jejak aktivitas orang-orang di dunia maya, tentang apa pun yang dilakukan karena setiap klik atau perhatian pada salah satu laman sudah menjadi data tersendiri, inilah yang menjadi ladang baru bagi sumber daya industri, pemerintahan, sistem politik, interaksi sosial budaya, dan sebagainya. Pada masa ini, boleh dikata tidak ada yang bisa disebut sebagai data sia-sia. Itu karena begitu jumlah data tersebut menjadi banyak dan mencakup keseluruhan populasi, sudah pasti ada pola yang bisa dilihat dan dapat diinterpretasikan makna informasinya.

Inilah era ketika data menjadi bahan bakar atau ”minyak” baru yang menggerakkan atau bahkan menggeser perekonomian dan laju pemerintahan. Dengan demikian, upaya penambangan data (data mining) menjadi titik krusial yang mesti diupayakan agar tetap bisa berkompetisi pada era ini.

Data mining, seperti dikutip dari laman anderson.ucla.edu, didefinisikan sebagai proses untuk menganalisis data dari beragam perspektif dan meringkasnya menjadi informasi yang berguna. Informasi yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan pendapatan, mengurangi pengeluaran, atau keduanya sekaligus. Data mining software merupakan salah satu bentuk perangkat analitis guna menganalisis data. Ini memungkinkan pengguna untuk melakukan analisis data dari beragam dimensi berbeda, mengategorikannya, dan meringkas hubungan-hubungan yang teridentifikasi. Secara teknis, penambangan data merupakan proses untuk menemukan korelasi atau pola dari lusinan bidang dalam basis data besar yang terkait.

Maka, 1.000 wirausaha bidang teknologi dalam program menuju ekonomi digital pada akhir 2020 harus pula memperhatikan data dan informasi sebagai mata uang baru ini. Sektor penambangan data, tak pelak lagi, mesti menjadi fokus utama.–INGKI RINALDI
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Januari 2016, di halaman 30 dengan judul “Ekonomi Digital dan Penambangan ”Big Data””.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: