Egon Siaga, Warga Diminta Mengungsi

- Editor

Kamis, 14 Januari 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas Gunung Egon di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, terus meningkat sehingga statusnya dinaikkan jadi Siaga (level III) sejak Rabu (13/1) pukul 06.00 Wita. Warga Desa Egon Gahar yang huniannya berjarak 2 kilometer dari kawah Egon direkomendasikan untuk dievakuasi.

Seiring dengan kenaikan status Siaga Gunung Egon, dari 127 gunung api aktif di Indonesia, terdapat 1 gunung berstatus Awas (Sinabung), 5 berstatus Siaga (Egon, Soputan, Lokon, Karangetang, Bromo), dan 14 gunung berstatus Waspada.

Kepala Subbidang Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Devi Kamil Syahbana mengatakan, peningkatan frekuensi kegempaan sangat signifikan sejak Selasa (12/1) pukul 09.36 Wita hingga pagi kemarin. Gempa itu terasa hingga di Desa Egon Gahar di lereng tenggara Gunung Egon.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sejarah letusan Gunung Egon tahun 2004 dan 2008 diawali tanda-tanda gempa swarm berulang, identik dengan proses saat ini. Karena itu, sebagai bentuk mitigasi atas potensi bahaya letusan yang bisa terjadi, statusnya dinaikkan jadi Siaga,” kata Devi.

Letusan besar
Kepala Bidang Pemantauan Gunung Api PVMBG Gede Suantika khawatir letusan Gunung Egon lebih besar daripada sebelumnya. Pengalaman dari letusan-letusan sebelumnya, jangkauan hujan abu tebal dan lontaran lumpur panas mencapai 2-2,5 km dari kawah. “Letusan Egon tahun 2008 memang tidak mencapai Desa Egon Gahar,” ujarnya.

Namun, kata Gede, letusan-letusan sebelumnya diawali kejadian gempa vulkanik dengan jumlah lebih sedikit dibanding saat ini. “Sejak Desember sudah tiga kali gempa terasa, yang diduga berpusat di bawah kawah Egon. Gempa terakhir 12 Januari lalu merusak rumah-rumah dan sekolah,” lanjut Gede.

Mengacu pada letusan gunung lainnya, misalnya Gunung Agung di Bali, sebelum meletus besar tahun 1963 terjadi banyak gempa yang terasa di sekitar gunung. “Kekhawatiran kami, letusan Gunung Egon kali ini lebih besar daripada sebelumnya. Inilah yang jadi pertimbangan mengapa jarak bahaya saat ini minimal 3 km dari kawah,” kata Gede.

Dalam radius bahaya 3 km ini terdapat Desa Egon Gahar yang terdiri atas tiga dusun, yaitu Baokrenget, Welinwatut, dan Lere. “Karena itu, meskipun kejadian letusan tak dapat dipastikan, dibutuhkan upaya peningkatan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana berupa evakuasi penduduk yang bermukim di dalam radius ini,” tutur Devi.

Namun, menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, relokasi warga di zona bahaya tidak akan mudah. “Berdasar pengalaman letusan 2008, masyarakat tak mau diungsikan sekalipun saat itu sudah terjadi letusan. Diperlukan pendekatan lebih baik,” ujarnya.

Data BNPB, Egon beberapa kali meletus, pertama 1888-1891. Terakhir, 15 April 2008, kembali meletus dengan ketinggian kolom letusan 5.700 meter. (AIK)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Januari 2016, di halaman 14 dengan judul “Egon Siaga, Warga Diminta Mengungsi”.
——–
Gunung Egon Siaga, Warga Diminta Mengungsi

Aktivitas vulkanik Gunung Egon di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terus meningkat. Status gunung dinaikkan menjadi Siaga (level III). Kenaikan status ini berlaku mulai Rabu (13/1) pukul 06.00 Wita. Direkomendasikan, warga Desa Egon Gahar yang huniannya berjarak 2 kilometer dari kawah Egon agar dievakuasi.

Kepala Subbidang Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Devi Kamil Syahbana mengatakan, peningkatan frekuensi kegempaan sangat signifikan sejak Selasa (12/1) pukul 09.36 hingga pagi ini. Gempa terasa hingga di Desa Egon Gahar di lereng tenggara Gunung Egon.

“Sejarah letusan Gunung Egon tahun 2004 dan 2008 diawali dengan tanda-tanda berupa gempa swarm berulang, identik dengan proses saat ini. Oleh karena itu, sebagai bentuk mitigasi atas potensi bahaya letusan yang mungkin terjadi, maka statusnya dinaikkan menjadi Siaga,” kata Devi.

Berdasarkan pengalaman letusan-letusan sebelumnya, kata Devi, jangkauan hujan abu tebal dan lumpur mencapai jarak 2-2,5 km dari kawah. Padahal, letusan-letusan sebelumnya diawali kejadian gempa vulkanik dengan jumlah lebih sedikit dibandingkan saat ini. “Inilah yang menjadi pertimbangan mengapa jarak bahaya yang mungkin terjadi saat ini adalah 3 kilometer dari kawah,” kata Devi.

5efb360463214d4dbbbfd92343236f4fKOMPAS/SAMUEL OKTORA–Suasana di jalan negara jalur Maumere-Larantuka, Kilometer 20, Desa Egon, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Rabu (16/4/2008). Jalan itu tertutup abu dari Gunung Egon (kanan) yang meletus, Selasa (15/4/2008) pukul 23.15 Wita. Abu beterbangan saat kendaraan melintas dan membuat mata pedih. Tanpa mengenakan masker, orang bisa sesak napas karena menghirup udara bercampur abu.

Dalam radius bahaya 3 km ini terdapat Desa Egon Gahar yang terdiri dari tiga dusun, yaitu Baokrenget, Welinwatut dan Lere. “Meski kejadian letusan tidak dapat dipastikan, dibutuhkan upaya peningkatan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana berupa evakuasi penduduk yang bermukim di dalam radius 3 kilometer dari kawah ini,” katanya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terkait dengan evakuasi warga di sekitar Gunung Egon.

Berdasarkan catatan BNPB, Gunung Egon beberapa kali meletus, yaitu pada periode 1888-1891, 1907, 1925, kemudian selama 79 tahun tidak dilaporkan adanya peningkatan aktivitas. Pada 28 Januari 2004, gunung kembali meletus hingga Agustus-September 2004. Pada 15 April 2008, Egon juga meletus dengan indeks eksplosivitas (VEI) 2 dan ketinggian kolom letusan 5.700 meter.

Dengan naiknya status Gunung Egon menjadi Siaga, saat ini dari 127 gunung api aktif di Indonesia ada 1 status Awas (Gunung Sinabung), 5 status Siaga (Gunung Egon, Soputan, Lokon, Karangetang, Bromo), dan 14 status Waspada.

AHMAD ARIF

Sumber: Kompas Siang | 13 Januari 2016

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB