”Earthing”

- Editor

Rabu, 26 November 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Manusia modern memandang tanah permukaan bumi seperti musuh. Gaya hidup modern semakin mengasingkan manusia dari bumi yang diinjak, dengan penggunaan secara luas karet isolator, sepatu bersol sintetis, lantai berkarpet, tempat tidur tinggi, dan lain-lain.
Berjalan tanpa alas kaki merupakan bagian peradaban yang terlupakan. Dari kecil, anak bahkan dilarang berjalan di tanah tanpa alas kaki. Hubungan langsung antara tubuh dan bumi yang memberikan energi hidup, dulu hanya terjelaskan melalui kisah-kisah legenda. Ilmu pengetahuan kemudian mengungkap bahwa tanah, bagian kerak bumi yang tersusun dari lapis-lapis mineral dan bahan organik itu, mengandung energi penyembuhan tak terbatas.

Energi itu berasal dari bumi sebagai sumber elektron bebas yang terus-menerus diisi oleh radiasi matahari dan petir. Permukaan bumi mengandung sinyal listrik halus yang mengatur mekanisme rumit yang membuat tubuh kita bekerja, seperti mencolokkan steker pada stop kontak untuk menyalakan lampu dan alat-alat elektronik.

”Begitu telapak kaki menyentuh bumi, secara fisiologi tubuh kita berubah dan pada saat itulah keran anti peradangan terbuka. Orang mengalami peradangan karena tak pernah bersentuhan dengan bumi, sumber elektron bebas, yang menetralkan radikal bebas dalam tubuh, penyebab penyakit dan kehancuran sel,” ujar James L Oschman PhD, ahli biologi dan biofisika, penulis buku Energy Medicine: The Scientific Basis (2000).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peradangan ditengarai sebagai isu kesehatan penting yang merupakan subyek tak terelakkan dari investigasi akademik dan disertasi doktoral di masa datang.

Energi tua
Saat ini lingkungan hidup kita terpapar medan elektromagnetik yang merangsang tumbuhnya radikal bebas. Radikal bebas yang bersifat positif itu menggerakkan molekul-molekul tubuh dan menyebabkan terjadinya peradangan.

Kontak langsung dengan bumi mengalirkan energi listrik alami secara instan ke dalam tubuh karena bumi merupakan sumber tak terbatas dari elektron-elektron bebas bermuatan listrik negatif. Jantung, otak, sistem saraf, otot, dan sistem kekebalan tubuh secara esensial merupakan subsistem kelistrikan yang bekerja di wilayah tubuh ”bio-kelistrikan”.

Saat bersentuhan langsung dengan tanah, aliran energi dari bumi menetralkan dampak dari radikal bebas di dalam tubuh. Proses itu menyebabkan perubahan fisiologis dan meningkatkan kesehatan secara optimal. Itu sebabnya berjalan di atas tanah tanpa alas kaki memberikan sensasi rasa nyaman yang telah menguap dari kehidupan banyak orang.

Pada 1980-an, kelompok peneliti terkemuka yang dipimpin Albert Szent-Gyorgyi, penerima Nobel Kedokteran 1937, mengeksplorasi aspek kelistrikan dalam hidup di Laboratorium Biologi Kelautan di Woods Hole, Massachusetts, Amerika Serikat. Tim itu juga melibatkan insinyur listrik dan ilmuwan fisika untuk mempelajari bidang biologi kelistrikan.

Penelitian panjang terkait hal itu juga dilakukan ahli elektronik dan perintis TV kabel, Clinton Ober. Ia, bersama ahli jantung Dr Stephen Sinatra dan senior editor Heart MD Institute, Martin Zucker, memaparkannya dalam Earthing: The Most Important Health Discovery Ever? (2010).

Buku itu menyusuri penemuan Clinton Ober tentang manfaat kesehatan dari ”Earthing”, istilah yang diciptakan terkait persentuhan langsung kulit tubuh dengan permukaan bumi di luar rumah. Atau tidur di atas alas dari bahan pengantar listrik dan bantalan, dihubungkan dengan sebatang logam yang ditancapkan di tanah di luar jendela kamar tidur.

Di situlah untuk pertama kalinya ia tidur nyenyak tanpa obat dan bangun lebih segar. Ia bahkan bisa menyingkirkan obat-obatan yang telah dikonsumsi selama bertahun-tahun untuk menahan rasa sakit akibat penumpukan berbagai penyakit.

Penelitian terkait ”Earthing” juga dikembangkan para dokter Polandia, antara lain untuk melihat dampaknya pada pasien osteoporosis, diabetes dan tiroid, serta respons sistem kekebalan tubuh yang diukur dengan peningkatan kadar gamma globulin.

Orang boleh menganggap bahwa penemuan itu masih bersifat pseudoscience, tetapi bukannya pembuktian ilmiah bisa saja melewati fase ini?

Oleh: Maria Hartiningsih

Sumber: Kompas, 26 November 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Menghapus Joki Scopus
Kubah Masjid dari Ferosemen
Paradigma Baru Pengendalian Hama Terpadu
Misteri “Java Man”
Empat Tahap Transformasi
Carlo Rubbia, Raja Pemecah Atom
Gelar Sarjana
Gelombang Radio
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 20 Agustus 2023 - 09:08 WIB

Menghapus Joki Scopus

Senin, 15 Mei 2023 - 11:28 WIB

Kubah Masjid dari Ferosemen

Jumat, 2 Desember 2022 - 15:13 WIB

Paradigma Baru Pengendalian Hama Terpadu

Jumat, 2 Desember 2022 - 14:59 WIB

Misteri “Java Man”

Kamis, 19 Mei 2022 - 23:15 WIB

Empat Tahap Transformasi

Kamis, 19 Mei 2022 - 23:13 WIB

Carlo Rubbia, Raja Pemecah Atom

Rabu, 23 Maret 2022 - 08:48 WIB

Gelar Sarjana

Minggu, 13 Maret 2022 - 17:24 WIB

Gelombang Radio

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB