Home / Berita / Earth Hour di Indonesia Menyasar Sampah

Earth Hour di Indonesia Menyasar Sampah

Gerakan global Earth Hour yang diniisiasi WWF sejak 11 tahun terakhir akan diisi dengan menyoroti permasalahan lingkungan di masing-masing negara. Earth Hour 2018 akan dimulai serentak secara global pada Sabtu 24 Maret pukul 20:30.

Di Indonesia, WWF Indonesia dan Komunitas Earth Hour di 31 kota memfokuskan pada empat isu utama. Mereka menginisiasi kampanye kawasan bebas sampah di 31 kota, penanaman 26.000 bibit mangrove di lebih dari 15 wilayah seluruh Indonesia, menginisiasi komitmen 9 kampus di 9 kota untuk program pembangunan kesadaran konsumen akan pola konsumsi yang berkelanjutan, serta menggerakkan kampanye pembangunan kesadaran terkait keanekaragaman hayati dan kampanye anti perdagangan satwa liar yang dilindungi pada 310 sekolah di 31 kota seluruh Indonesia.

“Selama 3 tahun ke depan Komunitas Earth Hour bersama WWF Indonesia akan mendukung pemerintah Indonesia untuk pencapaian komitmen pengurangan emisi sebanyak 26 persen pada 2020 melalui gerakan reforestasi,” ujar Dewi Satriani, Manajer Kampanye WWF Indonesia.

IRENE SARWINDANINGRUM–Warga duduk di antara tebaran sampah yang ditinggalkan setelah pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day) di kawasan Jalan Jenderal Sudirman – MH Thamrin, DKI Jakarta, Minggu (24/9). Gerakan Earth Hour tahun ini antara lain menginisiasi kampanye kawasan bebas sampah di 31 kota.

Selama 3 tahun ke depan Komunitas Earth Hour bersama WWF Indonesia akan mendukung pemerintah Indonesia untuk pencapaian komitmen pengurangan emisi sebanyak 26 persen pada 2020 melalui gerakan reforestasi.

Selain itu, gerakan ini juga akan mendukung pencapaian target SDG 12, yaitu pola konsumsi dan produksi berkelanjutan. “Kami mengajak seluruh pendukung baik individu, komunitas, organisasi, pelaku bisnis, pemerintah, media untuk terlibat secara langsung dalam seluruh aksi yang dilakukan,” lanjut Dewi.

Di Kolombia, orang-orang akan menyerukan agar negara tersebut menargetkan zero deforestasi pada tahun 2020. Polinesia Prancis diperkirakan akan bergerak untuk melindungi 5 juta kilometer persegi lautnya untuk melestarikan ekosistem laut. Di Guatemala, seluruh warga akan mengangkat suara mereka mengenai pentingnya konservasi air tawa.

Di India, orang akan berjanji untuk beralih ke gaya hidup yang berkelanjutan. Di Nepal, WWF akan memobilisasi dukungan publik untuk masa depan energi bersih dan terbarukan untuk semua.

Earth Hour awalnya berupa gerakan simbolis mematikan lampu di Sydney Australia pada tahun 2007. Earth Hour kini diselenggarakan di lebih dari 180 negara dan wilayah, sebagai momen solidaritas global untuk planet bumi. Dalam jaringan, tagar #EarthHour dan berbagai tagar lainnya yang relevan, mencatat 3,5 miliar impresi menjelang momen Earth Hour dan menjadi topik paling tren di sedikitnya 30 negara.

Earth Hour awalnya berupa gerakan simbolis mematikan lampu di Sydney Australia pada tahun 2007. Earth Hour kini diselenggarakan di lebih dari 180 negara dan wilayah.

Gerakan ini telah mengubah popularitas isu perubahan iklim dan aksi-aksi konservasi di seluruh dunia. Dan turunnya keragaman hayati global dalam rasio yang belum pernah terjadi sebelumnya, mendorongkan fokus Earth Hour tahun ini pada menggalang dukungan untuk aksi penyelamatan alam.

“Keanekaragaman hayati dan alam telah mendukung kehidupan, ekonomi, kesehatan, kesejahteraan, serta kebahagiaan kita. Ini adalah fondasi bagi seluruh kehidupan kita di bumi. Saat kita mengeksploitasi bumi dan sistem alaminya sampai ambang batas, Earth Hour adalah kesempatan untuk menggunakan kekuatan kita, sebagai individu atau kolektif, untuk menuntut dan mengambil tindakan melindungi jaring kehidupan ini sebagai imbalan atas semua yang diberikannya kepada kita, untuk kepentingan semua kehidupan di Bumi dan masa depan kita sendiri,” kata Marco Lambertini, Direktur Jenderal, WWF International.

Dalam dekade terakhir, Earth Hour telah mengilhami jutaan orang untuk mendukung dan berpartisipasi dalam proyek iklim dan konservasi penting yang dipimpin oleh WWF dan organisasi lainnya, membantu mendorong kebijakan, kesadaran dan tindakan iklim. Di antara yang menarik, gerakan Earth Hour telah membantu penciptaan 3,4 juta hektar kawasan lindung laut di Argentina, hutan Earth Hour seluas 2.700 hektar di Uganda dan membantu undang-undang baru untuk perlindungan laut dan hutan di Rusia.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 9 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: