E-Dagang; Potensi dengan Catatan

- Editor

Jumat, 20 November 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tidak bisa disangkal, kegiatan e-commerce alias e-dagang di negeri ini berkembang cepat. Nilainya bisnis di e-dagang ini tumbuh seiring dengan peningkatan penggunaan telepon pintar dan juga infrastruktur telekomunikasi internet. Sekalipun demikian, potensi besar e-dagang di Indonesia ini masih diganduli dengan catatan yang perlu segera dibenahi.

Dalam diskusi Forum Ekonomi Nusantara (FEN) yang diadakan Kompas dan BNI di Hotel Santika, Slipi, Jakarta, hari Kamis (19/11), terungkap bahwa nilai bisnis e-dagang di Indonesia tahun 2015 ini sekitar Rp 120 triliun sampai Rp 140 triliun. Naik tajam dari 96 triliun tahun 2013. Nilai ini seakan melonjak tajam menjadi 130 miliar dollar AS pada tahun 2020.

Pada diskusi dengan tema “E-Dagang & Sumbangsihnya terhadap Ekonomi Indonesia” disebutkan bahwa potensi bisnis e-dagang ini masih akan terus bertumbuh seiring dengan penetrasi dan penggunaan telepon pintar di negeri ini. Pengguna telepon pintar di Indonesia sudah 95,8 juta seiring dengan itu pengguna internet mencapai 88,1 juta. Penetrasi penggunaan internet ini sebesar 34,9 persen per tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi penggunaan internet ini kian mendorong tumbuhnya e-dagang. Kini banyak usaha mikro kecil menengah (UMM) mendapatkan manfaat dari kehadiran e-dagang. Penjualan mereka tumbuh dan juga bisa menampung lebih banyak tenaga kerja. Di sisi lain, e-dagang ini juga menumbuhkan kegiatan logistik barang ataupun jasa.

Pelaku e-dagang mengaku, aktivitas bisnis mereka meningkat seiring bertumbuhnya masyarakat kelas menengah dengan berbagai gaya hidupnya. Kelas menengah yang mencapai ratusan juta orang dengan usia yang relatif masih muda dan sangat akrab dengan telepon pintar serta internet, kini gemar melakukan transaksi bisnis jual dan beli menggunakan e-dagang. Akan tetapi, muncul pertanyaan, berapa besar sumbangsihnya bagi perekonomian Indonesia?

Pertumbuhan ekonomi bertumbuh karena UMKM juga bertumbuh. Kegiatan logistik juga berkembang karena terjadi transaksi jual-beli barang lewat e-dagang. Hanya penerimaan pajak sejauh ini praktis terabaikan. Karena semua transaksi praktis belum menjadi target pajak. Yang juga memprihatinkan, banyak transaksi dagang menggunakan pelaku e-dagang yang berpusat di luar negeri. Semua jasa transaksi pengiriman uang masuk ke pihak luar yang, antara lain, menjadi penyumbang defisit pada neraca pembayaran Indonesia.

Ini berbeda dengan transaksi bukan e-dagang (offline) yang dikejar petugas pajak. Petugas pajak memburu mereka dengan menghitung jumlah kursi, pegawai, barang yang dipajang menjadi bahan penghitungan pajak. Belum lagi kalau menjual barang palsu yang bisa langsung disita atau diwajibkan membayar hak cipta intelektual. Ini tidak berlaku untuk e-dagang.

Sekalipun e-dagang terus tumbuh, tetapi pelaku bukan e-dagang tak perlu takut bakal terpukul. Karena e-dagang di negara yang maju, seperti Amerika Serikat, saja hanya tumbuh paling tinggi 18 persen. Berarti, belanja di pusat pembelanjaan tetap menjadi pilihan. Apalagi, sejauh ini, transaksi uang kas juga masih mendominasi sistem pembayaran yang ada.

Melihat potensi e-dagang yang begitu besar tentu saja tidak tertutup potensi kecurangan, penipuan yang merugikan konsumen juga tetap besar. Sejauh ini terjadi uang sudah dibayarkan, tetapi barang tidak diterima. Juga pengiriman barang yang memerlukan waktu yang sangat lama. Tak jarang juga barang yang dipesan tidak sesuai bentuk, warna, kualitas sebagaimana yang terlihat dalam brosur yang ditawarkan.

Karena e-dagang terus berkembang seiring populasi telepon pintar dan internet, sepertinya pemerintah, yakni Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perdagangan, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perlu mulai menata pelaku e-dagang. Ini demi konsumen yang rentan.(PIETER P GERO)
————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 November 2015, di halaman 17 dengan judul “Potensi dengan Catatan”.

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB