”E-cardio” untuk Deteksi Dini Penyakit Jantung

- Editor

Selasa, 9 Desember 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peneliti pada Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia mengembangkan e-cardio, sistem berbasis Android untuk deteksi dini dan pemantauan penyakit jantung. Harapannya, sistem itu menjadi solusi ketidakmerataan ahli jantung di daerah dan berkontribusi menurunkan kematian akibat penyakit jantung.


Kepala Departemen Fisika Kedokteran FKUI Edrial Eddin, Senin (8/12), mengatakan, keberadaan e-cardio dilatarbelakangi kenyataan bahwa dokter spesialis jantung tidak terdistribusi merata ke seluruh daerah. Padahal, mereka dibutuhkan mengingat banyaknya kasus jantung dan pembuluh darah yang muncul dan berujung kematian.

E-cardio terdiri dari alat elektro kardiogram (EKG) perekam aktivitas listrik pada denyut jantung, serta aplikasi peranti lunak yang akan dipasang pada ponsel pintar berbasis Android.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berbeda dengan EKG pada umumnya, alat EKG pada e-cardio dibuat kompak.

E-cardio memungkinkan tenaga medis di daerah mengirimkan hasil perekaman EKG kepada dokter ahli melalui jaringan internet. Data diterima ponsel pintar dokter yang sudah dipasangi aplikasi khusus agar tak hanya menampilkan hasil perekaman, tetapi juga memberikan opsi rekomendasi tindakan.

Sebenarnya, kata Edrial, sistem yang hampir sama telah diterapkan di DKI Jakarta, dengan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Bedanya, sistem di DKI Jakarta lebih fokus pada bagaimana mendapatkan data EKG secepatnya dalam berbagai cara.

academic_web_bgOleh karena itu, metode pengiriman data tidak baku. Hasil EKG ada yang dikirimkan melalui faksimile, ada yang difoto lalu dikirimkan melalui aplikasi Blackberry Messenger, atau aplikasi lain.

”E-cardio membakukan pengiriman hasil EKG melalui aplikasi tertentu. Sebab, data medis tidak boleh dikirim melalui saluran publik,” ujar Edrial.

Para peneliti menghabiskan waktu 6-7 bulan untuk survei dan 3 bulan membuat peranti lunak e-cardio. Kini, prototipe alat itu sedang diuji coba di beberapa puskesmas di Jakarta.

Pada penyelenggaraan Asia Pacific ICT Alliance (Apicta) tahun 2014, e-cardio menjadi juara 2 (Merit Award) untuk kategori penelitian dan pengembangan. Apicta adalah ajang tahunan yang bertujuan menyebarluaskan kesadaran teknologi informasi dan komunikasi di dunia.

Dekan FKUI Ratna Sitompul mengatakan, ada banyak inovasi bidang kedokteran yang dihasilkan para peneliti dalam negeri. Namun, selama ini hal tersebut belum terpublikasi dengan baik sehingga kurang dikenal.

Selain itu, pemanfaatan hasil-hasil penelitian oleh pemerintah ataupun industri juga masih belum optimal. (ADH)

Sumber: Kompas, 9 Desember 2014

Informasi terkait

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Berita ini 24 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:30 WIB

Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB