Home / Berita / Dunia Bersiap untuk Kondisi Terburuk

Dunia Bersiap untuk Kondisi Terburuk

Kita harus bersiap menghadapi kondisi terburuk dengan kemungkinan meningkatnya suhu hingga 3 derajat celsius pada akhir abad ini. Hal itu seiring alotnya negosiasi untuk menaikkan target penurunan emisi.

Hari terakhir menjelang penutupan Konferensi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Madrid, Spanyol, Jumat (13/12/2019) diwarnai pesimisme bakal ada kesepakatan progresif menurunkan laju emisi global. Itu membuat kita harus bersiap menghadapi kondisi terburuk dengan kemungkinan meningkatnya suhu hingga 3 derajat celsius pada akhir abad.

Unjuk rasa dari berbagai kelompok sipil digelar di area Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC-COP) Ke-25, sejak Jumat pagi, menandai pesimisme itu. Gerakan pelajar Friday for Future merencanakan demonstrasi besar-besaran pada sore hingga malam di luar pintu gerbang keluar konferensi dan di pusat Kota Madrid.

“Hari ini, hari terakhir COP25, saya menyerukan semua delegasi agar memerhatikan sains dan memastikan suhu Bumi tidak akan meningkatkan di atas 1,5 derajat celsius sebagaimana Kesepakatan Paris 2015,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dalam pesan terakhirnya sebelum perundingan.

Para ilmuwan telah menunjukkan segunung bukti bahwa tren peningkat gas rumah kaca bakal membawa Bumi mencapai penambahan suhu hingga di atas 3 derajat celsius akhir abad ini. Salah satu tujuan utama COP25 kali ini adalah merampungkan mekanisme dalam Kesepakatan Paris 2015 yang memerintahkan negara-negara untuk membatasi kenaikan suhu global maksimal 2 derajat celsius, dan diupayakan 1,5 derajat celsius. Salah satu mekanisme penting itu adalah Artikel 6 Perjanjian Paris tentang perdagangan karbon.

Menaikkan target
Pertemuan COP25 di Madrid diawali dengan harapan agar semua negara membuat kesepakatan untuk menaikkan target penurunan gas rumah kaca mereka. Batas waktu meninjau kembali komitmen pengurangan karbon di tiap negar (NDCs) adalah tahun 2020, menjelang konferensi iklim berikutnya di Glasgow, Inggris.

Hingga Kamis (12/12/2019) malam, hampir 80 negara yang digalang Uni Eropa menyatakan akan meningkatkan target emisinya dengan membentuk blok karbon netral pada 2050. Namun, mereka hanya mewakili 10 persen dari emisi global. Apalagi, Polandia yang jadi bagian dari Uni Eropa menolak ikut serta.

Sementara negara-negara emiter atau penghasil emisi terbesar seperti China, India, Brasil, Australia, Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia belum menunjukkan akan menaikkan target emisinya. Demikian halnya Indonesia, yang berada di jajaran negara berkembang dengan emisi besar, yang sekaligus juga rentan terdampak perubahan iklim.

“Kami terkejut dan kecewa pada kondisi negosiasi. Saat ini sedang terpojok. Kami khawatir pada akhirnya harus mengakui terlalu banyak masalah yang akan merusak integritas Kesepakatan Paris,” kata Carlos Fuller, ketua perunding bagi Asosiasi Negara Pulau Kecil (AOSIS), dalam siaran pers. Anggota AOSIS menghadapi ancaman eksistensial karena kenaikan permukaan laut.

Menurut Fuller, para negoisator terbagi menjadi negara pencemar kaya dan negara-negara berkembang, dan masing-masing saling menyalahkan siapa yang harus memangkas emisi gas rumah kaca, dan berapa banyak, serta bagaimana membantu negara-negara miskin yang menghadapi dampak perubahan iklim.

Menteri Energi dan Perubahan Iklim Spanyol, Teresa Ribera, yang menjadi tuan rumah COP25 ini mengakui, negara-negara kaya maupun berkembang sama-sama gagal membuat kesepakatan. “Ada yang ingin bergerak lebih cepat dan ada yang ingin menghindari langkah progresif,” katanya.

Terlalu rendah
Saat ditemui di sela-sela konferensi, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Alue Dohong mengatakan, Indonesia terus berupaya memenuhi target penurunan emisi nasional, yaitu 29 persen dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan bantuan internasional pada 2030. Namun, sejauh ini belum berencana menaikkan target emisi. Indonesia juga mendesak negara-negara maju untuk memenuhi komitmen mendanai pengembangan kapasitas dan teknologi 100 miliar dollar AS per tahun.

Mohammad Reza Sahib, Koordinator nasional Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KRuHA) yang mengikuti COP25 sebagai “observer” atau pemantau mengatakan, target NDC Indonesia terlalu rendah. “Indonesia seharusnya bisa berperan lebih dalam pertemuan kali ini. Hal ini tak mencerminkan penderitaan rakyat Indonesia yang menderita akibat dampak buruk pemanasan global,” ungkapnya.

Tanpa adanya komitmen yang kuat dari negara-negara dengan emisi utama, upaya untuk menekan kenaikan suhu di bawah 1,5 – 2 derajat celsius akan amat sulit dicapai. Apalagi, menurut laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) saat ini suhu rata-rata memanas 1,1 derajat celsius.

Antonio Guterres mengingatkan, kegagalan penurunan emisi akan memaksa kita menghadapi kenaikan suhu global 3 derajat celsius tahun 2100. Fenomena itu harus diantisipasi dengan strategi adaptasi dan tranformasi sosial sejak saat ini. Kegagalan perundingan juga dikhawatirkan memicu gejolak sosial lebih besar.

Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam Rencana Adaptasi Nasional Indonesia yang baru, sekitar 90 persen desa di Indonesia rentan terdampak perubahan iklim skala moderat dan tinggi. Pada tahun 2020, Indonesia berpotensi mengalami kerugian Rp 102,36 triliun dari empat sektor utama, yaitu kelautan dan pesisir, pertanian air, dan kesehatan. Sedangkan pada 2025, Indonesia berpotensi merugi Rp 115,53 triliun dari empat sektor ini.

Oleh AHMAD ARIF DARI MADRID, SPANYOL

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 14 Desember 2019

Share
x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: