Home / Berita / Dua Gempa di NTT Tandai Aktifnya Zona Tektonik

Dua Gempa di NTT Tandai Aktifnya Zona Tektonik

Dua gempa bumi berkekuatan signifikan mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Senin (17/6/2019). Rangkaian gempa bumi ini menjadi peringatan tingginya aktivitas tektonik di Indonesia timur.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, gempa pertama terjadi di wilayah Sumba Timur pada pukul 03.13 WIB berkekuatan M 5. Sekitar sembilan jam kemudian, tepatnya pukul 12.43 WIB, wilayah Laut Sawu dan sekitarnya diguncang gempa tektonik berkekuatan M 5,4.

–Dua gempa bumi yang melanda NTT pada Senin (17/6). Sumber: BMKG, 2019

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan DIni Tsunami BMKG Daryono mengatakan, episenter gempa Sumba Timur berpusat di laut pada jarak 96 km arah selatan Kota Waingapu, dengan kedalaman 28 km. “Gempa ini terjadi akibat deformasi batuan pada kerak samudra Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Pulau Sumba,” kata dia.

Di zona tekukan lempeng ini terjadi peregangan sebelum menunjam ke bawah Pulau Sumba. Gaya tarikan ini memicu terjadinya patahan dengan pergerakan turun hingga memicu gempa bumi.

Menurut Daryono, zona penunjaman selatan NTT merupakan kawasan subduksi tua dan sudah mengalami roll back (gulung balik). Kondisi ini menyebabkan sering terjadi gempa di luar jalur subduksi (outer rise) dengan pergerakan turun.

Pusat gempa Sumba 1977. Sumber: Aditya R. Gusman (2009).–Gempa besar “The Great Sumba” berkekuatan M 8,3 yang terjadi pada 19 Agustus 1977 terjadi di zona outer rise ini.

Kajian Aditya R Gusman di jurnal Seismological Society of America (2009), menyebutkan, gempa Sumba tahun 1977 memacu tsunami yang menyebabkan kerusakan parah di Pulau Sumbawa dan Sumba di Indonesia. Tsunami juga teramati pada alat pasang surut di Australia. Disebutkan, landaan tsunami di pantai mencapai 8 meter dan jarak genangan mencapai 500 m di Lunyuk, Pulau Sumbawa.

“Meskipun gempa Sumba Timur pagi tadi tidak berpotensi tsunami tetapi dampak guncangan dalam skala intensitas III MMI cukup kuat,” kata Daryono.

Sementara itu, gempa di Laut Sawu berpusat di laut pada jarak 68 km arah selatan Kota Larantuka, Flores Timur pada kedalaman 118 km. Gempa ini terjadi dipicu oleh adanya deformasi batuan pada lengan Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi di bawah lantai busur gunung api Kepulauan Sunda Kecil (Lesser Sunda), tepat di bawah Cekungan Sawu.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 17 Juni 2019

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: