Home / Berita / Dua Bulan Tersisa untuk Kumpulkan Air

Dua Bulan Tersisa untuk Kumpulkan Air

Kebutuhan Sekat Kanal Mendesak untuk Antisipasi Kekeringan
Replikasi pembangunan sekat kanal perlu dilakukan masif mengingat musim hujan tersisa dua bulan lagi. Jika periode emas menyimpan air dilewatkan, rawa gambut akan kian mengering dan kebakaran yang menimbulkan asap pekat kembali tak terelakkan pada musim kemarau.

Bersamaan dengan itu, koordinasi dan antisipasi pengampu kepentingan di setiap daerah langganan kebakaran agar lebih ditingkatkan. Kebakaran lahan di Riau menjadi peringatan bahwa peristiwa serupa bisa terjadi di daerah lain.

“Kalau dilihat data curah hujan tidak sampai 40 mm dalam satu bulan. Padahal, di bawah 100 mm saja sudah kategori kering,” kata Siti Nurbaya Bakar, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Senin (14/3), di Jakarta, seusai bersama Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, serta Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead memimpin Rapat Koordinasi Restorasi Gambut dan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan.

Ia mengatakan, kondisi di antara risiko kebakaran di Riau dan kesempatan mengumpulkan air dari hujan tersisa membuat tindakan di lapangan harus simultan. Jika terpantau titik api, segera dipadamkan dan memasifkan pembuatan sekat kanal.

Secara terpisah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebutkan, sejumlah lokasi di Riau mulai masuk musim kemarau sejak Februari 2016. Provinsi Riau memiliki pola musim ekuatorial karena berada di sekitar garis khatulistiwa. Kondisi kering selama kemarau di Riau saat ini berpeluang lebih lama dibandingkan dengan kondisi normalnya sehingga menambah risiko kebakaran hutan dan lahan.

Wilayah-wilayah dengan pola musim ekuatorial memang memiliki dua kali musim kemarau dan hujan dalam setahun. Kepala BMKG Andi Eka Sakya menerangkan, untuk kemarau pertama, fase kurangnya curah hujan biasanya berlangsung hingga pertengahan Maret.

“Namun, fase itu pada tahun ini diprediksi mundur 10-20 hari hingga medio April,” katanya.

Menurut Andi, peluang curah hujan lebih dari 50 milimeter per dasarian (per 10 hari) baru mulai terlihat pada dasarian kedua April. Pada dasarian-dasarian sebelumnya, peluang curah hujan serupa di sebagian besar Riau masih 50 persen ke bawah.

Curah hujan di Riau umumnya di bawah normal, terutama wilayah pesisir timur, seperti Dumai, Bengkalis, Siak, Rokan Hilir, dan Meranti. Di sisi lain, wilayah Riau memang rentan dengan kebakaran hutan dan lahan pada Maret mengingat curah hujan di provinsi ini periode Maret pada 11 dari 15 tahun terakhir berkategori rendah.

Tanggung jawab
Mengutip data World Resources Institute, Nazir Foead menyebutkan, lokasi kebakaran 40 persen di areal konsesi, 20 persen di hutan lindung/hutan konservasi, dan 30 persen di lahan masyarakat. Kebakaran di konsesi bisa disebabkan kelalaian ataupun kesengajaan dengan berbagai modus.

“Pemerintah meminta tanggung jawab perusahaan dengan restorasi,” katanya. Di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pemilik konsesi diberi waktu dua tahun. Jika gagal memperbaiki tata kelola air dan terus terjadi kebakaran, dilakukan tindakan tegas, seperti pencabutan izin. Aturan serupa sedang disusun untuk konsesi hak guna usaha, seperti kebun, di Kementerian Agraria dan Tata Ruang serta Kementerian Pertanian.

Gubernur Jambi Zumi Zola mengatakan segera turun ke lapangan untuk mengecek pembangunan sekat kanal di perusahaan dan masyarakat. “Kalau ada perusahaan lalai, tidak peduli, atau lelet, saya rekomendasikan izin dicabut. Kalau itu gubernur yang memberi izin, besok langsung saya tanda tangan (pencabutan). Tidak masalah,” katanya.

Ia mengimbau agar perusahaan membantu masyarakat melalui dana sosial untuk pembukaan lahan tanpa bakar dan memasang sekat kanal. “Kami sudah sampaikan kepada perusahaan, waktunya sudah singkat. Keberadaan sekat kanal sangat penting dan mendesak,” katanya.

Luhut mengusulkan agar dana desa menjadi hadiah atau hukuman. Jika pemda berhasil menjaga wilayah dari kebakaran hutan dan lahan, dana desa ditingkatkan. Begitu sebaliknya.(JOG/ICH)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Maret 2016, di halaman 13 dengan judul “Dua Bulan Tersisauntuk Kumpulkan Air”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: