Doktor Kehormatan SBY; Perhatian pada Perdamaian di Aceh Perlu Ditingkatkan

- Editor

Jumat, 20 September 2013

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Universitas Syiah Kuala memberikan gelar doktor kehormatan kepada Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (19/9) malam, karena dianggap berjasa bagi perdamaian di Aceh. Penganugerahan itu diharapkan dapat mendorong pemerintahan SBY semakin menjaga perdamaian dan meningkatkan pembangunan di provinsi ini.

Penganugerahan gelar kehormatan itu dilakukan di Gedung Academic Activity Center Dayan Dawood, Unsyiah, Banda Aceh. Dalam kunjungan ke Aceh ini, SBY didampingi antara lain Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, dan Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo. Sedianya Presiden juga akan membuka acara Pekan Kebudayaan Aceh VI di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Jumat ini.

Rektor Unsyiah Samsul Rizal mengatakan, rencana pemberian gelar doktor kehormatan ini sudah mengemuka sejak lama. Hasil akhir penilaian Senat Unsyiah yang telah ditetapkan pada 3 Mei 2013 menyebutkan, gelar doktor kehormatan kepada SBY dapat dilakukan karena semua persyaratan, baik menyangkut hukum prosedural maupun hukum substansial, telah terpenuhi.

”Beberapa hal yang menjadi pendekatan subyek dan dijadikan pertimbangan untuk pemberian gelar ini adalah kebijakan SBY pascagempa dan tsunami tahun 2004 dinilai sangat meringankan penderitaan rakyat Aceh,” kata Samsul.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedatangan Presiden SBY di Banda Aceh disertai pengamanan ketat. Pengamanan bahkan sudah terlihat sejak dua hari sebelum kedatangan SBY. Personel TNI dan kepolisian terlihat di sudut-sudut jalan, pertokoan, bank, dan kantor pemerintah. Ada yang berpatroli di gang-gang di permukiman kota tersebut. ”Saya sempat kaget ada tentara bawa senjata berjalan-jalan di depan jalan kampung kami. Seperti zaman konflik saja. Saya kira cari penjahat, ternyata Presiden mau datang ke sini,” kata Maulida (37), ibu rumah tangga di Kampung Lambuk, Banda Aceh.

Pro dan kontra
Gelar doktor kehormatan yang diperoleh SBY kali ini merupakan yang kedelapan. Terakhir SBY mendapat gelar ini pada 22 April 2013 dari Universitas Teknologi Nanyang, Singapura.

Pro dan kontra merebak di kalangan masyarakat Aceh terkait pemberian gelar doktor kehormatan untuk SBY di bidang perdamaian tersebut. Namun, mereka berharap setelah penganugerahan gelar itu pemerintahan SBY lebih serius memperhatikan upaya peningkatan perdamaian dan pembangunan Aceh yang masih tertinggal.

Anggota Fraksi Partai Aceh di DPR Aceh, Abdullah Saleh, setuju dengan penganugerahan tersebut. Bersama Jusuf Kalla, SBY berjasa dalam terciptanya perdamaian Aceh, khususnya dengan tercapainya perjanjian damai Helsinki. ”Tentunya pula Unsyiah memiliki kajian yang mendalam atas pemberian gelar tersebut,” katanya.

Dia berharap, dengan sisa masa pemerintahannya, SBY diharapkan mendorong demokrasi dan keadilan pembangunan di Indonesia, khususnya di Aceh.

Pendapat berbeda disampaikan dosen antropologi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Teuku Kemal Fasya. Dia mengatakan, pemberian gelar doktor kehormatan untuk SBY terkesan lebih beraroma kepentingan kekuasaan daripada akademis. Jika serius menelaah siapa yang lebih berperan dalam MOU Helsinki, semestinya Jusuf Kalla yang lebih berhak menerima anugerah perdamaian Aceh.

”Kecuali memang proses penetapan ini tidak dilakukan dengan cermat, hanya pilihan amatiran,” kata Kemal. (HAN)

Sumber: Kompas, 20 September 2013

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 9 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB