Home / Artikel / Do You Speak English?

Do You Speak English?

PERTANYAAN itu diajukan seorang perempuan muda di sebuah kota kecil Prancis beberapa tahun yang lalu. Mobilnya mogok dan dia ingin bertanya letak bengkel terdekat. Namun, pria berkebangsaan Prancis yang disapanya itu langsung menjawab: “No, I don’t.”

Meski demikian, dia tetap ramah dan menjelaskan dalam bahasa Inggris. Perempuan itu terheran-heran. Dan saat pria lain melintas, perempuan tersebut menyapanya: ”Excuse me… Excuse me… Do you speak English?”

Pria yang baru mendekat itu juga mengatakan hal yang sama, ”No, I don’t. I’m sorry.”

Parodi itu adalah potongan iklan sebuah program yang mendorong masyarakat Eropa belajar bahasa Inggris. Belakangan ini, suka atau tidak suka, bahasa Inggris telah berubah menjadi bahasa dagang yang sangat penting.

Selain digunakan oleh 2 miliar jiwa (terbesar ada di India), bahasa Inggris adalah bahasa yang dipakai ilmuwan-ilmuwan terkemuka dunia. Dewasa ini, lebih dari 90 persen publikasi ilmiah ditulis dalam bahasa Inggris. Kalaupun ada bahasa lain, jarang ada satu bahasa yang menguasai lebih dari 2 persen.

Bahasa ini juga telah menjadi pengantar yang penting dalam komunikasi untuk pengaturan transportasi udara maupun laut.

Sebuah iklan parodi lain yang pernah saya lihat menunjukkan dialog seorang petugas morse berkebangsaan Rusia yang menerima pesan “Mayday…  Mayday… Mayday… We are sinking, we are sinking… Can you hear us, can you hear us?

Karena tidak bisa berbahasa Inggris, petugas berkebangsaan Rusia itu pun menjawab lugu: “What are you thinking about?”

DECISION BIASES
Anda mungkin pernah terkagum-kagum dengan orang-orang yang memiliki kemampuan multibahasa. Selain terlihat intelek, mereka umumnya memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang baik.

Dahlan Iskan fasih berbahasa Tiongkok, Habibie berbahasa Jerman, dan Sri Mulyani berbahasa Inggris. Mereka sangat logic, bilingual.

Baru-baru ini, tiga peneliti (Keysan, Hayakawa, dan Gyu An, 2012) menemukan, ternyata orang-orang yang multilingual memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengambil keputusan. Maksud saya, decision biases yang ditimbulkan dari “romantisme” perasaan bisa lebih ditangani. Bagi saya, itu penting bagi leadership, bahkan pengambilan keputusan bisnis.

Logikanya begini. Pengambilan keputusan itu membutuhkan thinking (berpikir) dan reasoning (penjelasan, justifikasi). Keduanya berada dalam proses kognisi yang saling melengkapi.

Yang satu lebih analitis, sistematis, dan prosedural, satu lagi lebih mengandalkan intuisi, perasaan, dan pemahaman diri.

Karena bahasa asing bukanlah bahasa ibu seseorang, seseorang akan lebih berhati-hati dalam menafsirkan informasi, data, atau pesan yang diterima.

Karena itulah, manusia akan meningkatkan daya kognisinya sekaligus mengandalkan kemampuan kognisi dan afeksinya. Itulah yang ditemukan tiga peneliti tersebut.

Kemampuan berbahasa asing menimbulkan kekuatan untuk berjarak terhadap potensi-potensi bias dalam melihat suatu masalah. Bias itu biasanya timbul karena kedekatan bahasa yang membuat manusia sangat emosional terhadap suatu hal, menjadi lebih romantis.

Perhatikanlah sikap kita terhadap ucapan-ucapan atau kata-kata tertentu yang bisa bermakna sangat dalam bagi pemilik bahasa. Karena berjarak, Anda bisa menjadi lebih rasional, terbebas dari perasaan-perasaan (apakah rasa jijik, tabu, heroisme, atau ekspresi rasa cinta) ketimbang yang memiliki lidah native.

Perasaan berjarak itulah yang ditemukan tiga peneliti tersebut. Karena itulah, mereka yang memiliki kemampuan berbahasa asing, dalam pengambilan keputusan di luar bahasa ibunya, bisa lebih memisahkan perasaan-perasaan emosional sekaligus menjadi lebih analitis, lebih kritis.

Do You Speak Computer?
Tentu saja timbul pertanyaan, apa harus bahasa Inggris? Jawabannya tentu saja tidak. Bahasa Inggris hanyalah salah satu pilihan yang kebetulan telah diterima secara luas. Anda bisa memilih bahasa apa saja yang diterima sangat luas.

Namun, Robert Lane Greene yang mengkaji untuk The Economist mencatat, saingan bahasa Inggris dewasa ini bukanlah bahasa Mandarin, Arab, atau Spanish. Saingannya adalah komputer. Apalagi, sekarang komputer dilengkapi Google Translate dengan kamus untuk mengecek makna-makna lain selain yang diterjemahkan (define). Greene bahkan berteori: ”Dari 7.000 bahasa yang kini aktif digunakan di dunia, separuhnya akan lenyap dalam 100 tahun ke depan.”

Karena itu, Indonesia perlu terus membuka diri. Pendidikan harus berani memajukan generasi baru berbahasa ganda, multilingual. Adalah baik bagi anak-anak berbahasa asing sejak dini tanpa melupakan bahasa ibunya.

Dengan memiliki kemampuan satu–dua bahasa asing yang baik dan benar (bukan bahasa pasaran atau bahasa slang saja), seharusnya bahasa Indonesia seseorang akan semakin kuat.

Asalkan belajarnya dilakukan dengan penuh kesungguhan, kita tidak akan mengkhianati spirit Sumpah Pemuda. Maksud saya, bukan bahasa Inggris Vicky Prasetyo atau bukan pula bahasa artis Cinta Laura.

Ingatlah, bahasa dipelajari bertahun-tahun, tidak hanya di mulut, melainkan juga di tangan dan dalam hati. Ia tak dapat direngkuh dalam sekejap. Tetapi, begitu menguasai, Anda akan menjadi sangat berdaya. (*/che/k1)

CATATAN: RHENALD KASALI, guru besar bidang manajemen di UI. Tulisannya kerap jadi ”oase” bagi para pebisnis.

Sumber: Kaltim Pos, Rabu, 6 November 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: