Ditutup, Ilmuan Indonesia Ekspansi Layanan Terapi Kanker ke Negeri Tetangga

- Editor

Jumat, 4 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabar ilmuan penemu alat terapi kanker (Electro-Capacitive Cancer Therapy/ECCT) Warsito Purwo Taruno hengkang ke luar negeri semakin ramai. Warsito lantas mengklarifikasi, bahwa yang sekarang sedang digarap adalah ekspansi layanan ECCT di luar negeri. Meskipun begitu dia berharap akar teknologi ECCT tetap bertahan di Indonesia.

Pria kelahiran Karanganyar, 15 Mei 1967 itu menegaskan tidak hengkang ke luar negeri. Menurutnya istilah yang lebih tepat adalah, ia sedang mengembangkan layanan terapi kanker komplementer bersama negara-negara yang ingin bekerjasama.

’’Kami masih berusaha untuk mengembangkan riset dan teknologi serta produksinya di dalam negeri,’’ tuturnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Warsito mengatakan, saat ini dia terus melakukan pelatihan-pelatihan penggunaan piranti ECCT di sejumlah negara.

’’Yang sudah jalan di Jepang, Polandia, dan Jerman. 15 negara lainnya seperti Amerika Serikat, Australia, dan Singapura menyusul berikutnya,’’ urainya saat dihubungi.

Warsito menjelaskan setelah layanan terapinya di Serpong ditutup pemerintah, dia tetap mengepakkan sayap penggunaan teknologinya. Dengan segala kenekatannya dia mengatakan teknologinya itu akhirnya bisa digunakan di tiga negara tadi. Khusus di Jepang, namanya dimodifikasi supaya lolos izin komplementer di negeri Sakura itu.

Warsito mengatakan harga jasa terapinya ternyata jauh lebih mahal ketika dioperasikan di luar negeri. Dia mencontohkan ketika masih beroperasi di Serpong, layanan deteksi kanker berkisar Rp 10 juta per set. Tetapi untuk layanan deteksi, bisa mencapai USD 50 ribu (Rp 672 juta) per set perlengkapan.

Meskipun setelah di luar negeri harga layanan ECCT melonjak, Warsito mengatakan masih ada pelanggannya yang memburunya. ’’Ada yang nekat terbang sampai ke luar negeri,’’ katanya. Dia berharap dengan alasan kesehatan dan keilmuan, pemerintah Indonesia segera merampungkan perizinan operasional ECCT karyanya.

Warsito menjelaskan di luar negeri ada aturan tentang penggunaan perangkat komplementer dan paliatif. Contohnya Jerman adalah negara paling banyak mengembangkan teknologi ini. Dia mencontohkan perangkat berbasis te knologi baru non-konvensional terkini adalah imunoterapi yang dipromosikan oleh Joe Biden.

’’Di Jepang dan Polandia teknologi imunoterapi ini digabung dengan alat kami,’’ jelasnya. (wan/flo/jpnn)

Sumber: JPNN, Jumat, 12 Februari 2016

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB