Home / Berita / Dirasakan Setelah Menggeliat

Dirasakan Setelah Menggeliat

Lima gunung api berstatus Waspada dan 19 lainnya Siaga. Tiga gunung naik status dalam tiga hari secara berurutan; Merapi (29/4), Slamet (30/4), dan Soputan (1/5). Gunung yang dinyatakan Normal pun, seperti Sindoro, menyemburkan asap. Di negara yang memiliki gunung api terbanyak di dunia, fenomena ini sebenarnya hal biasa, tetapi ternyata tetap juga mengagetkan bagi sebagian masyarakat.

Sepekan terakhir, media massa dan media sosial, seperti Twitter dan Facebook, ramai dengan berita tentang peningkatan aktivitas gunung-gunung api di Indonesia. Beberapa grup diskusi di dunia maya, seperti yang dibuat jaringan relawan, Jalin Merapi, juga sangat aktif mendiskusikan perkembangan Gunung Merapi.

”Grup WA (WhatsApp) Merapi diikuti kalangan pemerintah, relawan, akademisi, ataupun masyarakat. Kami bentuk sekitar enam bulan lalu dan seiring naiknya aktivitas Merapi semakin intens,” tutur Mar Widiarto, relawan Jalin Merapi.

Awal pusaran berita tentang keaktivan gunung-gunung itu memang tak jauh dari gejolak Merapi di perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah. Sejak meletus hebat pada 2010, Merapi berperilaku berbeda sehingga kerap membingungkan warga.

Gunung itu beberapa kali mengirim hujan abu, pasir, dan batu pijar, sekalipun statusnya masih Normal. Perdebatan di dunia maya dan di dunia nyata soal aktivitas Merapi kian santer. Hingga 29 April 2014, sekitar pukul 23.50, status Merapi dinaikkan jadi Waspada (level II), setelah gempa meningkat.

Sehari kemudian, 30 April 2014, Gunung Slamet yang berada di Jawa Tengah dinaikkan dari Waspada ke Siaga (level III). Lalu, 1 Mei 2014, Gunung Soputan di Sulawesi Utara juga dinaikkan statusnya jadi Siaga.

Apakah kenaikan tiga gunung api ini saling berkaitan?

Beda karakter
Menurut Kepala Badan Geologi Surono, tiap gunung sebenarnya punya karakter berbeda, tergantung lokasi, batuan penyusun, dan struktur kimianya. ”Semua gunung api dipengaruhi pergerakan lempeng, tetapi arah gerakan lempeng bumi juga beda-beda,” kata dia.

PrintIa mencontohkan karakter gunung api di Sumatera yang berbeda dengan Jawa. ”Seperti Kerinci (Jambi) dan Marapi (Sumetara Barat), jangkauan awan panasnya paling jauh 3 kilometer. Selebihnya abu. Ini karena energi dari tumbukan lempeng di Sumatera yang arahnya menyerong banyak disalurkan dalam bentuk gempa bumi,” tutur dia. ”Sesar di Sumatera efisiensinya sangat tinggi. Dapat energi sedikit saja, memicu gempa. Sebaliknya, energi dari gunung kurang.”

Sebaliknya, gunung-gunung di Jawa relatif lebih eksplosif letusannya. ”Di Jawa, zona subduksi sangat tegak lurus, sesarnya kurang aktif, dan energinya dilepas melalui letusan gunung api,” ungkap dia.

Namun, karakter gunung di Jawa pun ternyata beda-beda. ”Karakter Slamet dan Merapi tidak sama. Sifat magmanya juga berbeda. Jadi, tidak mungkin berhubungan, apalagi berkaitan dengan Soputan yang berada jauh di Sulawesi,” kata Surono.

Karakter magma Merapi, menurut dia, lebih mirip Kelud, yaitu andesit (kental) sehingga berpotensi letusan eksplosif dengan munculnya awan panas. Jangkauan bahayanya pun lebih luas, sedangkan magma Slamet lebih basaltik (encer), kemungkinannya tidak eksplosif, tetapi lebih ke semburan lava pijar dengan jangkauan di bawah 5 km.

Terus bergolak
Dengan perbedaan karakter itu, peningkatan status Merapi, Slamet, Soputan, ataupun Sindoro dan Anak Krakatau dipastikan Surono tak saling berkaitan. ”Setelah gempa Aceh 2004 dan Nias 2005, memang diduga berpengaruh terhadap keaktivan gunung api di Indonesia. Gempa tektonik memang berpengaruh pada aktivitas gunung api, tetapi belum tentu memicu letusan,” ujarnya. ”Kalau kantong magmanya belum penuh, letusan tetap tidak akan terjadi.”

Dengan jumlah gunung api di Indonesia 127 buah—terbanyak di dunia—wajar jika tiap saat terjadi letusan gunung. Data sejarah menunjukkan, letusan gunung api di Indonesia paling mematikan dalam 200 tahun terakhir. Dari 205.550 jiwa korban tewas letusan gunung api di seluruh dunia, sebanyak 138.900 jiwa berasal dari di Indonesia (Timothy Kusky, 2008).

Sebagian letusan gunung di Indonesia juga membawa dampak global, seperti Tambora dan Krakatau (Selat Sunda). ”Orang Jepang mungkin sudah lupa kapan terjadi letusan gunung api besar karena paling dekat terjadinya 7.000 tahun lalu. Di Indonesia, 200 tahun lalu, Tambora meletus hebat sehingga menimbulkan tahun tanpa musim panas di Eropa. Krakatau meletus hebat pada 1883 dan menimbulkan tsunami besar,” papar Surono.

Ia menyebutkan, hingga saat ini ada sekitar 4 juta penduduk Indonesia tinggal di kawasan bahaya gunung api. Jumlah itu terbesar di dunia. Oleh sebab itu, sangat penting bagi masyarakat Indonesia memahami ancaman bencana gunung api. Selain itu, pemantauan dan mitigasi bencana gunung api harus terus ditingkatkan agar masyarakat tidak hidup dengan ketakutan yang dibangun tanpa landasan ilmiah.

Oleh: Ahmad Arif

Sumber: Kompas, 7 Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: