Home / Artikel / Diperlukan Perbaikan Gizi Sejak Prakonsepsi

Diperlukan Perbaikan Gizi Sejak Prakonsepsi

KUALITAS sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu persoalan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Karena semakin disadari bahwa pembangunan yang hanya mengandalkan sumber daya alam akan ambruk di tengah jalan. Secara umum unsur gizi menduduki peran yang strategis dalam upaya peningkatan kualitas SDM tersebut, terutama jika dilakukan pada wanita (ibu dan calon ibu). Sebab lebih dari separuh jumlah penduduk adalah wanita dan dari mereka pula akan lahir generasi baru bangsa Indonesia.

Generasi baru yang ingin diwujudkan itu adalah yang berkualitas lahir batin, maju dan mandiri, menguasai iptek, sehingga harus cerdas dan sehat. Kecerdasan berkaitan erat dengan kemampuan otak manusia menyerap dan mengolah informasi.

Otak manusia yang terdiri atas sekitar 100 milyar sel neuron dengan fungsinya masing-masing itu, dibentuk pada saat janin manusia masih dalam kandungan ibunya. Kesempurnaan pembentukan dan tumbuh kembang otak janin tergantung pada keadaan gizi dan kesehatan ibunya sejak prakonsepsi dan selama hamil.

Periode kritis
Organ vital manusia mulai dibentuk pada bulan-bulan trimester pertama kehamilan. Masa-masa itu disebut sebagai periode kritis tumbuh kembang janin, yang secara ilustrasi dapat dilihat pada gambar bagan di atas.

Dari gambar itu tampak bahwa sistem syaraf pusat/otak paling awal dibentuk (akhir minggu kedua dalam masa kritis, sampai minggu keenam). Proses tumbuh kembang otak terus berlangsung hingga anak berusia lima tahun.

Trimester pertama merupakan puncak kebutuhan seluruh zat gizi untuk proses tumbuh kembang janin dan karena itu masa ini sangat sensitif terhadap kekurangan zat gizi.

Dampak negatif kekurangan zat gizi pada saat kritis terhadap perkembangan otak antara lain: Kekurangan asam lemak esensial (omega-3 dan omega-6) kebutuhan sekitar 20 persen dari total kalori/hari akan menyebabkan gangguan koordinasi gerak dan daya ingat.

Kurang vitamin A (kebutuhan 1200 IU/hari) mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan struktur neuron. Kurang folasin (50 ug/hari) menyebabkan retardasi pertumbuhan dan kelainan fungsi otak. Kurang vitamin B12 (0,3 ug/hari) menyebabkan kelainan pertumbuhan myelin sel otak bayi.

Kurang Zn (5,0 mg/hari) menyebabkan hambatan perbanyakan sel otak, kurang Fe (10 mg/hari) menyebabkan gangguan interaksi mental (Karyadi, 1993). Belum lagi akibat lain seperti bibir sumbing (akibat kurang Zn dan Vit. A), bisu, tuli, idiot dan cacat fisik (kurang Iodium dan Zn) dan lain-lain.

Dari data SKRT dan hasil penelitian gizi terakhir terlihat bahwa masalah gizi utama, seperti kurang energi-protein (KEP), kurang Vitamin A (KVA), gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI), dan anemia gizi besi masih terdapat di daerah rawan gizi dan daerah IDT.

Dari 4 masalah gizi utama tersebut yang masih memprihatinkan dan perlu penanggulangan yang saksama adalah masalah anemia gizi besi dan GAKI di daerah endemik gondok.
Data terakhir (Kodiyat, 1995) menunjukkan prevalensi anemia gizi sebagai berikut: ibu hamil 63,5 persen, anak balita 55,5 persen, anak usia sekolah 20-40 persen, wanita dewasa 30-40 persen, pekerja berpenghasilan rendah 30-40 persen, dan pria dewasa 20-30 persen.

Sejak prakonsepsi
Upaya perbaikan gizi yang menonjol dan tercermin dalam kegiatan posyandu selama ini adalah kegiatan kesehatannya, dengan sasaran utama anak balita dan ibu hamil. Meskipun kegiatan tersebut tetap panting dan bermanfaat, namun menurut hasil penelitian gizi terakhir hal itu sudah terlambat untuk perbaikan tumbuh-kembang otak (Crawford, 1993).

Padahal otak merupakan tempat akal berpikir, berkreasi, dan mencipta hal-hal baru. Akal pula yang membedakan manusia dari makhluk Tuhan lainnya.

Berdasarkan periode kritis tumbuh kembang janin manusia, akhir-akhir ini muncul paradigma baru perbaikan gizi dengan sasaran utama kaum wanita/ibu yang dimulai sejak prakonsepsi, yaitu sejak sua tu keluarga merencanakan punya anak.

Beberapa hal yang harus menjadi perhatian serius calon ibu sejak prakonsepsi hingga anak usia balita adalah aspek gizi, kesehatan, psikologis dan aspek agama.

Dari aspek gizi, menumt Prof Darwin Karyadi (1996) ada dua cara untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu sejak pra konsepsi. Pertama dengan suplemen gizi (umumnya zat gizi-mikro seperti zat besi Fe, vit. A), dan kedua, dengan cara food based.

Cara pertama dilakukan dalam keadaan darurat dan sifatnya sementara. Tidak dianjurkan untuk waktu yang lama karana berisiko kelebihan dosis dan tidak ekonomis. Cara yang baik, aman, ekonomis dan efektif adalah memperbaiki pola dan kebiasaan makan ibu (food based).

Keperluan gizi
Zat gizi yang diperlukan dalam proses tumbuh kembang otak tidak hanya karbohidrat, protein vitamin dan mineral, tetapi juga lemak. Lemak merupakan penyusun utama struktur bangunan otak (sekitar 60 persen) yang terdiri dari asam lemak-tak-jenuh-berantai-panjang (PUFA=Polyunsaturated Fatty Acids) atau asam lemak esensial Omega-3 dan Omega-6. Asam lemak ini banyak terdapat dalam ikan, terutama ikan laut dan sayuran berwarna hijau.

Dari aspek kesehatan, perbaikan kesehatan ibu harus dilakukan sejak prakonsepsi, selama hamil, dan terhadap anak balita, seperti imunisasi, vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan lainnya. Hal itu sangat membantu kesempurnaan tumbuh kembang janin dan anak balita, sekaligus juga merupakan upaya pencegahan dan perlindungan terhadap penyakit yang membahayakan tumbuh kembang anak seperti polio, campak, tetanus, dipteri dan hepatitis.

Pada aspek psikologis, selama ini tidak mendapat perhatian yang serius dalam pelayanan kesehatan ibu hamil. Hasil penelitian psikologi terbaru menunjukkan bahwa aspek dilahirkan dari ibu yang keadaan psikologisnya baik, perkembangan mental dan sosialnya juga akan lebih baik, lebih ceria dan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Sejak prakonsepsi calon ibu diajarkan agar selama hamil selalu berusaha merasa senang dan bersikap positif atas kehamilannya. Juga menjauhi hal-hal yang dapat mencetuskan stres atau mengagetkan, alih-alih jatuh atau terpeleset, karena dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang janin yang berlangsung dalam kandungannya.

Pemberdayaan ibu
Upaya perbaikan gizi ibu sejak prakonsepsi akan lebih berhasil jika mendapat dukungan dari kaum wanita itu sendiri. Salah satunya adalah dengan memberdayakan mereka melalui pemenuhan hak-hak wanita seperti mendapatkan pendidikan, informasi dan pelayanan yang baik serta kehidupan yang layak.

Sebagai insan biologis ia dapat melaksanakan kewajibannya sebagai isteri dan ibu dari anak-anaknya dengan baik. Dan sebagai insan sosial ia dapat bersosialisasi dengan lingkungannya secara baik dan harmonis. Diskriminasi ekonomi terhadap kaum wanita perlu dibenahi agar ia mendapatkan hak-hak ekonominya secara wajar dan adil.

Organisasi kemasyarakatan yang menampung kegiatan wanita selama ini, seperti PKK, Dasawisma, P2WK harus lebih dihidupkan lagi dengan kegiatan yang memberdayakan anggotanya, terutama untuk perbaikan gizi.

(Untung S Widodo, peneliti di Puslitbang Gizi Bogor, peserta Program Pascasarjana (S-3) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Mohamad Harli alumnus Jurusan GMSK-IPB, peneliti honorer di Puslitbang Gizi Depkes, Bogor)

Sumber: Kompas, 25 Februari 1996

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Menunggu Jendela bagi Fisika Baru

PARA fisikawan yang berasal dari 11 institusi dari Amerika Serikat, Rusia, Jepang, dan Jerman, yang ...

%d blogger menyukai ini: