Bencana Demografi Jadi Ancaman

- Editor

Sabtu, 12 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bonus demografi tanpa disertai sumber daya manusia berkualitas dinilai dapat mengancam ketahanan bangsa Indonesia. Karena itu, perbaikan mutu pendidikan dan gizi masyarakat harus menjadi prioritas dalam pembangunan.

Hal itu mengemuka dalam acara Diseminasi Kajian Kependudukan 2016 yang diprakarsai Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPK LIPI) bertema “Daya Saing Penduduk Menuju Ketahanan Bangsa”, Kamis (10/3), di Jakarta.

Kepala PPK LIPI Haning Romdiati mengatakan, tantangan yang dihadapi Indonesia dalam bonus demografi adalah peningkatan mutu pendidikan dan penyediaan lapangan kerja. “Terlebih pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN, daya saing mutlak harus diperbaiki,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2015, jumlah tenaga kerja lulusan SD 54,6 juta penduduk atau 45,19 persen dan lulusan SMP 21,5 juta penduduk atau 17,77 persen. Rendahnya mutu penduduk dan masuknya pekerja asing bisa membuat bonus demografi tak terwujud. “Pemerintah perlu menyiapkan banyak lapangan kerja, khususnya pertanian, yang mulai ditinggalkan kaum muda,” ujarnya.

Produktivitas rendah
Bonus demografi di Indonesia diperkirakan terjadi 2025-2035, dengan 70 persen dari populasi penduduk berusia produktif. “Bencana demografi terjadi jika produktivitas dan penghasilan warga rendah. Efeknya fatal, seperti angka pengangguran tinggi, kriminalitas naik, dan rawan konflik sosial,” katanya.

Menurut analisis LIPI, jumlah angkatan kerja akan bertambah 14,8 juta penduduk menjadi 189 juta penduduk pada 2020. Rasio ketergantungan warga ada di titik terendah pada 2030, yaitu 46,9.

Guru Besar Ekonomi Kependudukan Universitas Indonesia Sri Moertiningsih menyebutkan, bonus demografi suatu bangsa hanya terjadi satu kali. Kini, Indonesia ada di posisi 110 dari 188 negara pada Indeks Pembangunan Manusia Badan Program Pembangunan PBB (UNDP).

Perbaikan mutu penduduk bisa dengan membangun kognitif dan karakter dalam 1.000 hari pertama kehidupan manusia. “Itu harus diikuti perbaikan kesehatan anak dan gizi,” ujarnya.

Hasil riset LIPI menunjukkan, tren migrasi penduduk dari desa ke kota atau urbanisasi terus meningkat. Jumlah warga di perkotaan sekitar 49,8 persen dari jumlah total penduduk pada 2010 dan naik menjadi 53,3 persen pada 2015. Jumlah penduduk di perkotaan diprediksi hampir 60 persen pada 2025. Menurut peneliti Mobilitas Penduduk PPK LIPI Mita Noveria, urbanisasi secara masif bisa memicu berbagai masalah kota, seperti pemukiman kumuh. (C08)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Maret 2016, di halaman 14 dengan judul “Bencana Demografi Jadi Ancaman”.

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB