Home / Artikel / Digitalisasi Mushaf Alquran

Digitalisasi Mushaf Alquran

ALQURAN kini terdokumentasi dalam berbagai format dan bahasa. Penyalinan teks kitab suci ini pun berkembang sejalan dengan tren zaman.  Sebelum teknologi mesin cetak ditemukan, mushaf Alquran disalin menggunakan tulisan tangan. Keadaan ini berlangsung sampai abad ke-16 M. Sampai saat ini, setidaknya masih ada empat mushaf yang disinyalir adalah salinan mushaf hasil panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit pada masa Khalifah Usman bin Affan.

Mushaf pertama ditemukan di kota Tasyqand yang tertulis dengan khat Kufy. Dulu sempat dirampas oleh kekaisaran Rusia pada tahun 1917 M dan disimpan di perpustakaan Pitsgard (sekarang St PitersBurg) dan umat Islam dilarang melihatnya.

Pada tahun yang sama, setelah kemenangan komunis di Rusia, Lenin memerintahkan untuk memindahkan mushaf tersebut ke kota Opa sampai tahun 1923 M. Tapi setelah terbentuk Organisasi Islam di Tasyqand, para anggotanya meminta kepada parlemen Rusia agar Mushaf dikembalikan lagi ke tempat asalnya, yaitu di Tasyqand, Uzbekistan.

Mushaf kedua terdapat di Museum al Husainy di kota Kairo, Mesir. Sementara mushaf ketiga dan keempat berada di kota Istambul Turki. Umat Islam tetap mempertahankan keberadaan mushaf yang asli apa adanya. Pasca ditemukannya mesin cetak oleh Gontenberg, Alquran untuk pertama kali dicetak di Hamburg, Jerman pada1694 M.

Pada tahun 1947 M, untuk pertama kalinya, Alquran dicetak dengan teknik cetak offset yang canggih dan dengan memakai huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang ahli kaligrafi turki yang erkemuka Said Nursi.

Teknologi Mutakhir

Dengan bantuan teknologi yang lebih canggih, Alquran bisa dicetak secara cepat dalam jumlah banyak. Misalnya Percetakan Malik Fahd di Arab Saudi yang telah mencetak ratusan juta naskah Alquran. Demikian juga percetakan Alquran di negara Islam yang lain, seperti Mesir, Libya, , Malaysia, Indonesia, India dan lain-lain.

Dokumentasi  Alquran kemudian meningkat dengan perekaman menggunakan piringan hitam atau kaset. Hingga akhirnya muncul Alquran digital dengan berbagai  bentuk, misalnya melalui komputer.

Lewat piranti ini, Alquran dapat dibaca per ayat sesuai keinginan pembaca dan muncullah suara bacaan dari qari terkenal, seperti Syeikh Mahmud Khali Khusari, Syeikh Sudais, Syeikh Saud Syuraim, Syeikh Abdul Basit dan lain-lain.

Sejumlah  negara menempuh kebijakan pendokumentasian   dengan memanfaatkan teknologi mutakhir.  Arab Saudi memiliki Mujamma Al-Malik Fahd, percetakan Alquran terbesar di dunia di Madinah, yang didirikan pada 2 November 1982.  Selain mencetak Alquran, percetakan Mujamma’ Al-Malik Fahd juga memproduksi Alquran dalam versi digital (CD, VCD, dan DVD).

Di era internet saat ini, pendokumentasian dan penyebaran Alquran dilakukan secara online. Seperti yang diprakarsai Musem Walters Arts di Inggris. Dengan dana sebesar 300 ribu dolar AS dari National Endowment for the Humanities, museum ini menempatkan seluruh koleksi Alquran dan karya tulisan islami lainnya dalam format online. Format ini menyajikan tampilan Alquran beresolusi tinggi dan dapat diakses secara gratis oleh siapa saja melalui koneksi internet.  (Kawe Shamudra, penulis lepas, tinggal di Batang)

Sumber: Suara Merdeka, 9 Juli 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Vokasi Maju, Kita Maju

Yang jadi tulang punggung rencana besar menggapai kemajuan ini tak lain ialah anak-anak muda. Jika ...

%d blogger menyukai ini: