Home / Berita / Digitalisasi Menuju Ekonomi Kreatif

Digitalisasi Menuju Ekonomi Kreatif

Noriah Mohamed (70) menyodorkan telepon seluler pintarnya. Pensiunan guru besar Universitas Kebangsaan Malaysia itu ingin menunjukkan tayangan film hitam-putih ”Panji Semerang” bikinan Malaysia tahun 1961, yang mengisahkan asmara Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana sebagai narasi asli Jawa.


”Pembuat film ini sudah mempelajari betul budaya Jawa. Lihat itu, mana ada baju kemben Jawa seperti itu di Malaysia. Dayang Sofia menjadi salah satu pemeran yang paling disukai penonton waktu itu,” kata Noriah kepada Kompas, seusai menjadi narasumber Seminar Nasional Naskah Kuno Nusantara 2014 ”Cerita Panji sebagai Warisan Dunia” pada 27-28 Oktober 2014 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta.

Noriah pernah mengajar di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) Universitas Kebangsaan Malaysia. Bidang sosiobudaya masyarakat Jawa dan Melayu menjadi minat utamanya.

Beberapa buku dibuatnya, seperti Jayengbaya: Memahami Pemikiran Jawa (1995), Jawa di Balik Tabir (2001), Syair Ken Tambuhan (2002), Sastera Panji (2005), Sentuhan Rasa dan Fikir dalam Puisi Melayu Tradisional (2006), dan Tun Syed Nasir: Menghimbau Jasa, Menjunjung Citra (2007).

Ketika menaruh minat sastra Jawa, Noriah tidak bisa berpaling dari narasi asli Jawa berupa Cerita Panji. Inti dari Cerita Panji, disebutkan Noriah, sebagai semarak cinta antara Putra Mahkota Jenggala (Kahuripan) Inu Kertapati dengan putri kerajaan atau sekar kedhaton Dewi (Galuh) Candrakirana dari Panjalu, yang sekarang dikenal sebagai Kediri.

Latar kisahnya antara Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Ada beberapa kerajaan lain yang disinggung, seperti Gegelang atau Singasari. Semua di Jawa Timur pada abad ke-11 hingga ke-12.

Pada tahun 1042, menjelang Raja Kahuripan Erlangga turun takhta, dibagilah kedua wilayah kerajaan itu menjadi dua. Kerajaan Jenggala di barat sungai Brantas dan Panjalu di timur Sungai Brantas.

Abad ke-14, pada masa keemasan Kerajaan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk (1350-1389), Cerita Panji banyak dipertontonkan menjadi seni-seni pertunjukan. Melalui berbagai misi perdagangan dengan berbagai kerajaan, Cerita Panji tersebar sampai Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Satu kisah di antaranya Panji Semerang. Berkat difilmkan di Malaysia, kisah semarak cinta narasi asli Jawa itu mudah dikenang sampai sekarang.

Seni pertunjukan Cerita Panji memiliki keunikan dengan jalan cerita banyak digubah menyesuaikan kondisi lokal masing-masing. Berbagai versi kemudian muncul di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera, Malaysia, Thailand, Kamboja, dan lainnya.

Digitalisasi Manuskrip Kuno”Gubahan Cerita Panji melahirkan naskah-naskah kuno. Di era sekarang, ini menjadi inspirasi membangun ekonomi kreatif melalui berbagai produk seni seperti film atau menjadi seni pertunjukan lainnya,” kata Karsono Harjo Saputra, ahli filologi pada Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Untuk merangsang diskursus atau wacana dialektika masyarakat, akses penelaahan naskah kuno haruslah dipermudah. Teknologi sudah memungkinkan, di antaranya membuat digitalisasi naskah-naskah kuno tersebut.

Karsono mengkritik, program digitalisasi tidak menjadi perhatian penting bagi pemerintah sampai sekarang. Tidak hanya naskah kuno, peninggalan-peninggalan kuno dalam wujud benda lainnya, seperti artefak wayang atau produk seni tradisi lainnya, juga sangat membutuhkan digitalisasi.

Sentuhan teknologi tersebut memudahkan publik dalam menganalisis dan mengaktualisasikan nilai pada naskah kuno menjadi produk ekonomi kreatif.

Ketika digitalisasi naskah kuno tidak berjalan dengan baik, pada akhirnya publik kesulitan mengembangkan narasi sesuai naskah aslinya menjadi produk ekonomi kreatif.

”Coba lihat, sinetron-sinetron di televisi tentang tokoh sejarah masa lalu sering dibuat seadanya. Sering pula tidak sesuai latar peristiwa sejarah ataupun karakternya,” kata Karsono.

Perpustakaan Nasional
Dari 10.000 lebih naskah kuno koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), 9.368 judul menggunakan kertas, sedangkan 799 judul naskah lainnya menggunakan media daun lontar, kulit kayu, kulit bambu, atau kulit hewan. Dari jumlah itu, terdapat 80 judul naskah kuno Cerita Panji.

Setiap naskah Cerita Panji yang ditemukan di lokasi berbeda-beda memiliki jalan cerita masing-masing. Tetapi, alur kisahnya serupa, yaitu pada akhir cerita yang bahagia atas pertemuan asmara antara Inu Kertapati dengan Candrakirana.

Dalam Panji Semerang dari Malaysia, menurut Noriah, Candrakirana menjadi anak tiri Ibunda Paduka Liku. Paduka Liku memiliki anak kandung bernama Galuh Ajeng, adik tiri Candrakirana. Candrakirana mendapat perlakuan buruk. Tetapi, akhir kisahnya bahagia setelah bertemu dengan Inu Kertapati.

Menilik beberapa Cerita Panji koleksi PNRI, naskah Panji Jawa cukup beragam. Di antaranya meliputi Panji Jayakusuma, Panji Angreni, Panji Angronakung, Panji Jayalengkara, Jayalengkara Pamrihan/Sunyawibawa, Jayalengkara Medangkamulan, Panji Dewakusuma, Panji Dewakusuma Kembar, Panji Murtaswara, Panji Kudawanengpati, Panji Suryawisesa, dan Panji Kuda Narawangsa.

Naskah Panji Bali dan Lombok meliputi Panji Jayakusuma, Panji Undakan Pangrus, Malat, Bagus Umbara, Cilinaya. dan Wasengsari.

Naskah Panji Melayu di antaranya Ratu Anom, Ratu Anom Mataram, Tumenggung Ariwangsa, Hikayat Nayakusuma, Hikayat Mesa Gimang, Roman Panji, Hikayat Kelana Anakan Raden Galuh, Hikayat Jaran Kinanti Asmaradana, Hikayat Panji Kuda Semirang, Hikayat Cekel Wanengpati, dan Syair Ken Tambuhan.

”Sebagian besar koleksi itu masih dalam proses digitalisasi supaya mudah diakses publik,” kata Deputi I Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi PNRI Welmin Sunyi Ariningsih.

Ahli naskah Jawa PNRI, Bambang Hernawan, menunjukkan beberapa koleksi naskah kuno yang sudah didigitalisasi. Naskah-naskah itu bisa diakses melalui internet dengan situs opac.pnri.go.id. Jumlah koleksi naskah yang sudah didigitalisasi masih tergolong sangat sedikit.

”Salah satu dampak belum adanya digitalisasi naskah kuno membuat naskah asli harus dipegang ketika ingin dibaca. Ini rentan menimbulkan kerusakan. Akses publik juga menjadi sangat terbatas,” ujar Bambang.

Digitalisasi sebagai proses untuk mengubah tampilan dari bentuk fisik menjadi data digital yang dapat diakses melalui komputer. Langkah konvensionalnya adalah memotret naskah kuno dengan kamera digital dan naskah dijadikan data digital yang mudah diakses dengan komputer.

”Digitalisasi itu murah dan mudah. Tetapi, belum ada kemauan politiknya,” kata Bambang.

Peneliti I Made Suparta dari Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia siang itu terlihat sedang meneliti naskah kuno Jawa berjudul Merapi-Merbabu berangka tahun 1645. Naskah lontar itu juga belum didigitalisasi.

”Naskah Merapi-Merbabu ini dengan aksara Jawa yang rumit. Daun lontarnya juga ada jelaga,” kata Made.

Merapi-Merbabu mengisahkan peradaban Hindu-Buddha, menurut Made, di antaranya berisikan mantra penyucian roh leluhur. Ketika belum didigitalisasi, penelaahannya lebih memakan waktu dan terikat tempat harus di perpustakaan untuk menganalisisnya.

Tari topeng Cirebon
Digitalisasi tidak semata pendokumentasian atas benda diam, seperti naskah kuno atau artefak, tetapi juga perekaman atas sesuatu peristiwa yang bergerak untuk dijadikan data digital video. Ini seperti dilakukan Diah Paramitha, lulusan Institut Kesenian Jakarta, merekam sejumlah jenis tari topeng Cirebon.

”Tari topeng Cirebon sangat beragam. Saya mendokumentasikan berbagai tarian topeng Cirebon selama ini untuk didiskusikan pada forum seniman Cirebon,” kata Diah.

Menurut dia, tari topeng Cirebon merupakan gambaran tuntunan siklus kehidupan yang baik. Tariannya memiliki lima tingkatan, yaitu panji, samba, rumyang, tumenggung, dan klana.

”Tari topeng Cirebon mengungkap nilai falsafah hidup, sedangkan tari topeng lainnya seperti di Malang dan Yogyakarta mengisahkan suatu lakon,” ujar Diah.

Tari topeng panji mengangkat falsafah hidup pada tingkat kelahiran yang bersih dan suci. Tari topeng samba mengangkat nilai kehidupan manusia pada taraf kemampuan menggunakan pancaindera.

Tari topeng rumyang untuk taraf mengenal jati diri sendiri. Tari topeng tumenggung pada taraf menjadi manusia dewasa yang mampu menempatkan diri sesuai lingkungannya.

”Tari topeng klana untuk mengingatkan selagi menjadi manusia dewasa agar selalu mawas diri dan berusaha kembali mencapai siklus panji atau mencapai kondisi suci,” papar Diah.

Tari topeng Cirebon bukanlah lakon, melainkan falsafah kehidupan. Namun, Diah sendiri menjadi lakon nyata dari sedikit orang yang mau peduli untuk membuat digitalisasi tari topeng Cirebon.

Hakikatnya, manusia selalu membutuhkan hiburan yang dimaknai sebagai hasil suatu usaha ekonomi kreatif. Seperti film Panji Semerang yang dipertontonkan Noriah. Itu sebagai hasil usaha ekonomi kreatif yang berbasis pada penguasaan naskah kuno Cerita Panji dari Jawa.

Kini, langkah-langkah kecil digitalisasi naskah kuno, tarian kuno, artefak kuno, dan sebagainya menjadi langkah penting. Ini menciptakan fondasi bagi bangunan usaha ekonomi kreatif.

Oleh: Nawa Tunggal

Sumber: Kompas, 28 November 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: