Home / Berita / Di Bangunan Berlubang Itu Cita-cita Anak Krayan Bersemayam

Di Bangunan Berlubang Itu Cita-cita Anak Krayan Bersemayam

Kabut tipis masih melingkupi tubuh Bukit Paris atau oleh warga setempat disebut Buduk Paris. Udara dingin terasa sedikit menusuk tulang. Namun, itu tidak mengurangi semangat Firman (7), siswa kelas I SDN 018 Kecamatan Krayan Induk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, untuk tiba di sekolah lebih dini. Motivasinya hanya satu, ia ingin bisa duduk di bangku paling depan di kelasnya.

Belum banyak siswa yang datang. Di kelas, baru ada Firman dan Alam (6). ”Aku mau jadi dokter kalau sudah besar supaya bisa sembuhkan orang sakit. Jadi harus rajin belajar,” kata Firman dengan bergairah dan diakhiri dengan senyum yang lebar.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Sejumlah siswa SDN 018 Kecamatan Krayan Induk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Jumat (5/4/2019), tersenyum di depan kelas sebelum pelajaran dimulai. Keterbatasan yang didapatkan di sekolah tidak pernah menyurutkan semangat mereka untuk mengejar cita-cita.

”Aku juga (mau jadi dokter)!” Alam menimpali. Di kelas I, hanya ada 6 siswa. Tiga siswa di antaranya adalah murid ”titipan” karena usianya belum mencukupi, salah satunya Alam. Di kelas II, bahkan hanya ada dua siswa. Keterbatasan fasilitas dinilai menjadi alasan orangtua enggan menyekolahkan anak mereka di sekolah tersebut.

Kelas Firman berada di ujung kanan bangunan panggung berkayu itu. Di dalam kelas, ada lima meja kayu, tujuh kursi plastik, satu lemari kecil, dan papan tulis. Kelas tampak kosong. Dinding dengan lapisan tripleks yang sudah kusam itu pun polos, hanya ada 10 kertas yang berisi gambar siswa yang ditempel di bagian belakang ruang kelas.

Luas seluruh bangunan sekitar 21 meter x 5 meter. Bangunan dibagi menjadi tiga bagian untuk kelas I, II, dan III. Dari luar, tampak bagian bawah bangunan melengkung ke bawah, hampir ambles. Dinding-dinding pun sudah banyak berlubang.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Kepala Sekolah SDN 018 Yanti Royohani (berbaju merah) menunjukkan lubang di lantai kelas I yang ditutup dengan lembaran tripleks tipis. Lubang seperti ini tidak hanya ditemukan di lantai kelas SDN 018 Kecamatan Krayan Induk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tetapi juga di dinding dan atap.

Di kelas I ada tiga lubang yang cukup besar. Pihak sekolah menutup lubang itu dengan tripleks dari dalam. Sementara satu lubang di kelas II belum ditutup. Tak hanya dinding, lantai pun juga berlubang, apalagi atapnya.

Kepala Sekolah SDN 018 Yanti Royohani mengatakan, ia pernah mengajukan proposal untuk pembenahan bangunan sekolah pada November 2017 ke Pemerintah Kabupaten Nunukan. Kepala bidang sarana dan prasarana dinas pendidikan setempat pun pernah melihat kondisi bangunan. Namun, sampai saat ini, belum ada upaya perbaikan di sekolah yang sudah berdiri sejak 30 tahun lalu itu.

Menurut dia, renovasi ringan bangunan pernah dilakukan pada 2008. Setelah itu tidak ada lagi pembenahan. Padahal, sejumlah sekolah lain sudah menjadi bangunan baru. ”Saya enggak tahu kenapa tidak dapat bantuan itu. Padahal, sekolah ini sudah tidak layak,” katanya.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Ruang kelas II SDN 018 Kecamatan Krayan Induk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Terlihat lubang besar terdapat di sudut kelas.

Yanti mengungkapkan, keterbatasan fasilitas pembelajaran tidak hanya pada bangunan sekolah. Buku pelajaran pun menjadi kendala bagi murid di sekolah. Meski sudah empat bulan masuk semester dua, murid-murid belum memiliki buku pelajaran dengan kurikulum terbaru, Kurikulum 2013.

Akhirnya, pembelajaran pun masih berbasis pada buku dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2004 dan 2006. Kondisi buku sebenarnya sudah tidak layak. Sebagian besar halaman buku sudah robek. Ada pula buku yang sudah tak bersampul.

Bulan (10), murid kelas IV, mengatakan, ia sering mendapatkan buku yang sudah robek. Ia pun harus membaca berdua dengan teman sebangkunya agar bisa mengikuti pelajaran. Murid hanya dipinjamkan buku cetak saat pelajaran berlangsung ataupun ketika besok ada tes. Buku-buku ini sudah digunakan sejak angkatan pertama saat kurikulum dimulai.

Buku semester II dengan Kurikulum 2013 yang belum ada saat ini terkendala oleh pengiriman yang sulit dari kabupaten. Pada sementer I, pihak sekolah mendapat bantuan pengiriman dengan pesawat angkatan udara RI. Namun, pada semester ini belum ada bantuan yang bisa didapatkan.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Buku-buku bacaan yang ditemui di ruang perpustakaan SDN 018 Kecamatan Krayan Induk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Saat berkunjung ke ruang perpustakaan, buku bacaan pun sangat terbatas. Buku-buku yang ada justru tidak sesuai untuk bacaan anak sekolah dasar. Judul buku yang ditemukan seperti Membuat Pakaian Tidur dan Pakaian Anak, Budi Daya Jamur, Budi Daya Lele Dumbo, dan Bertanam Melon. Hanya ada satu tumpuk buku yang cukup sesuai untuk dibaca, yaitu Ensiklopedia Sains: Tubuh Kita.

Kendala lainnya adalah masalah ketersediaan guru. Dari enam rombongan belajar yang ada di SDN 018 Kecamatan Krayan Induk, tiga guru adalah guru honorer. Mereka mengampu pada kelas V, III, dan II. Pada Agustus nanti, satu guru honorer yang mengajar di kelas III mendapatkan surat keputusan bupati untuk pindah ke sekolah lain.

”Jadi kosong lagi nanti kelas III. Mau tidak mau, saya sebagai kepala sekolah yang akan menggantikan mengajar. Padahal aturannya kepala sekolah tidak boleh mengajar. Namun apa boleh buat, guru PNS tidak tersedia, guru honorer sudah tidak boleh diangkat lagi,” ucap Yanti.

Ia sebenarnya prihatin dengan nasib guru honorer yang mengajar di sekolah ini. Guru honorer hanya digaji Rp 80.000 per bulan. Pernah, suatu saat dana BOS yang digunakan untuk menggaji guru honorer tidak turun selama tiga triwulan atau sembilan bulan. Selama itulah, guru honorer ini tidak digaji.

Keterbatasan lain adalah alat peraga untuk praktik olahraga serta pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Selama ini anak-anak tidak memiliki fasilitas untuk praktik olahraga, seperti matras, peluru tolak peluru, lembing, dan cakram yang menjadi standar dalam ujian sekolah. Selain itu, sarana dan prasarana untuk pelajaran TIK hanya tersedia satu komputer yang digunakan untuk satu kelas.

Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid menyampaikan, pemenuhan sarana dan prasarana di sekolah di Kabupaten Nunukan disesuaikan dengan prioritas yang sudah ditetapkan. Ia mengaku masih banyak sekolah yang belum dilengkapi dengan fasilitas yang dibutuhkan, termasuk SDN 018 Krayan Induk. Namun, menurut dia, progres pengadaan barang selalu bertambah setiap tahun.

”Banyak sekali wilayah yang belum tersentuh karena memang dana juga terbatas. Guru juga kami usahakan. Setidaknya dari program Indonesia Mengajar cukup membantu memenuhi kekurangan tenaga guru yang ada,” katanya.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Firman (7) duduk di paling kiri bersama Alam (6) saat ditemui sekitar pukul 07.00 di ruang kelas I SDN 018 Kecamatan Krayan Induk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Jumat (5/4/2019).

Jika dirinci, banyak keterbatasan yang dialami oleh murid-murid di Desa Krayan. Namun, itu tak berarti bisa menyurutkan senyum semringah Firman, Alam, Bulan, dan 42 murid lain di SDN 018 Kecamatan Krayan Induk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Mimpi mereka untuk menjadi dokter, guru, pilot, serta tentara tetap menyala dalam sanubari.

Sama seperti kabut di Bukit Paris yang kian memudar ketika fajar meninggi, keterbatasan yang ada seharusnya bisa diselesaikan dengan harapan-harapan pasti. Kepastian untuk membenahi bangunan yang hampir ambruk, kepastian untuk mendapatkan tenaga guru yang cukup dan kompeten, serta kepastian untuk mendapatkan buku pelajaran yang layak.–DEONISIA ARLINTA

Editor ANDY RIZA HIDAYAT

Sumber: Kompas, 7 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: