Home / Artikel / Di Ambang Krisis Energi Nasional

Di Ambang Krisis Energi Nasional

PEMERINTAH Indonesia telah melakukan beberapa usaha guna mengatasi krisis energi nasional. Di antaranya dengan mengeluarkan kebijakan sebagai landasan untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas penyediaan energi ke depan.

Lahirlah kebijakan energi mix, dengan komposisi batu bara 32,7 %, gas bumi 30,6%, minyak bumi 26,2%, PLTA 2,4%, panas bumi 3,8% dan lainnya 4,4%. Tidak hanya itu, pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi. Di samping itu, PLN juga membuat kebijakan tarif berdasar reward and punishment. Yakni, bagi yang mampu menghemat listrik akan didiskon dan bagi yang melampui dari yang ditetapkan akan dikenai pembayaran yang lebih.

Dalam rangka penghematan pula, PLN telah mendistribusikan lampu hemat energi dengan asumsi ketika pelanggan menggunakan lampu yang diberikan oleh PLN, maka akan menghemat energi secara nasional.

Walaupun berbagai macam usaha telah dilakukan, namun efek krisis energi ini masih sangat dirasakan oleh masyarakat. Ketergantungan kita terhadap energi dari bahan bakar fosil akan menjadi ancaman bagi kita sendiri. Antara lain, semakin menipisnya sumber-sumber minyak bumi jika tidak ditemukan sumber minyak yang baru, meningkatnya polusi (CO2) yang dihasilkan dari penggunaan energi dari bahan bakar fosil tersebut sehingga akan memicu efek rumah kaca.

Sebenarnya di Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan dalam jumlah besar. Beberapa di antaranya bisa segera diterapkan di Tanah Air, seperti bioetanol sebagai pengganti bensin, biodiesel untuk pengganti solar, tenaga panas bumi, mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin, bahkan sampah/limbah pun bisa digunakan untuk membangkitkan listrik. Bioetanol sebagai pengganti bensin, dapat diproduksi dari tumbuh-tumbuhan seperti tebu, singkong, ubi, dan jagung yang dapat dengan mudah dikembangkan di negara kita. Salah satu keunggulan dari bioetanol ini adalah tingkat polusi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

Mudah Diperoleh

Biodiesel yang berasal dari minyak tanaman, seperti kelapa sawit, jarak, kelapa, dan lain-lain, juga dengan mudah diperoleh di Indonesia.  Kedua bahan energi dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar fosil. Tetapi kendala yang utama adalah bagaimana membangun rantai produksi energi tersebut mulai dari petani sebagai pelaku utama dalam penyediaan bahan baku sampai ke distribusi energi yang dihasilkan. Ketersediaan dan keberlanjutannya jangan sampai mengganggu produksi pertanian kita.

Panas Bumi

Sebagai negara yang terletak di daerah ring of fire, Indonesia memiliki sumber energi panas bumi yang melimpah, tetapi saat ini baru sebagian kecil yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Untuk daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau oleh jaringan listrik, maka dapat menggunakan energi dari matahari. Solar Home System (SHS) adalah modul sel surya yang digunakan untuk satu rumah dengan daya kecil. Untuk sementara, SHS ini dapat meningkatkan rasio elektrifikasi.

Tetapi pendampingan harus selalu dilakukan agar program ini tidak hanya sebatas gebrakan awal dan selanjutnya masyarakat tidak dapat melakukan perawatan secara mandiri.

Dari sisi ekonomi, SHS termasuk mahal terutama dalam perawatan, karena umur baterai yang tidak telalu lama dan harganya yang masih tinggi.

Mikrohidro merupakan sumber energi yang menarik dan murah. Meskipun daya yang dibangkitkan tidak terlalu besar, tetapi mikrohidro ini termasuk sumber energi yang ramah lingkungan. Tidak terlalu besar lahan yang dibutuhkan, tetapi cukup aliran air yang memiliki perbedaan ketinggian tertentu agar dapat membangkitkan energi listrik. Mikrohidro ini sangat cocok untuk daerah pedesaan yang terdapat sumber aliran air dan jauh dari jangkauan jaringan listrik.

Hampir semua sumber energi tersebut sudah diterapkan, meskipun dalam skala sangat kecil dan belum mampu menggantikan energi dari bahan bakar fosil. Beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengatasi krisis energi ini antara lain, perlu dibangun kepedulian masyarakat akan pentingnya energi dan terbatasnya sumber sumbernya, sehingga dalam memanfaatkan dapat dilakukan secara efisien.

Lebih Murah

Dalam jangka pendek, selain penghematan, maka perlu dibangun pembangkit energi yang lebih murah dan dengan cepat dapat segera digunakan, seperti PLTU dari batu bara ataupun dari gas. Tetapi yang perlu diperhatikan dalam penggunaan batu bara adalah bagaimana menurunkan tingkat emisi yang dihasilkan dari batu bara tersebut. Penerapan clean coal technology perlu dipertimbangkan agar tidak menimbulkan emisi yang merugikan masyarakat.

Juga potensi panas bumi di Indonesia harus digali dan diberdayakan juga untuk kontribusi energi nasional. Untuk jangka panjang, maka perlu diusahakan pencarian sumber- sumber energi baru dan mengintensifkan penggunaannya, termasuk dalam bidang transportasi, karena saat ini konsumsi bahan bakar untuk transportasi sangat tinggi.

Riset terkait konsep hidrogen economy perlu digalakkan menuju konversi energi yang bebas emisi. Kepedulian masyarakat terkait dengan penghematan listrik dan pemerintah terkait dengan kebijakan energi nasional yang taktis dan bertanggung jawab harus segera dibangun secara bersama agar krisis energi ini segera teratasi. (24)

Agung Prihantoro, penulis lepas, pemerhati masalah energi

Sumber: Suara Merdeka, 30 April 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: