Home / Berita / Denmark Terbanyak Punya Peminum Alkohol, Indonesia Tergolong Rendah

Denmark Terbanyak Punya Peminum Alkohol, Indonesia Tergolong Rendah

Sebuah penelitian global menunjukkan, Denmark adalah negara dengan prevalensi peminum alkohol tertinggi di dunia. Indonesia termasuk dalam golongan prevalensi rendah. Tingginya prevalensi konsumsi alkohol ini perlu menjadi perhatian global karena hasil penelitian itu menunjukkan bahwa tingkat minum alkohol yang paling aman tidak ada.

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA (COK)–Minuman anggur lokal dari Buleleng, Bali, 11 Juni 2016. Minuman beralkohol terbukti tidak memiliki manfaat kesehatan.

Penelitian berjudul “Penggunaan dan Beban Alkohol di 195 Negara dan Wilayah, 1990–2016: Analisis Sistematis untuk Studi Beban Global Penyakit” itu dimuat dalam jurnal The Lancet yang dipublikasikan sciencedaily.com 24 Agustus 2018. Penelitian dilakukan ratusan peneliti di berbagai belahan dunia.

Penelitian ini menilai hasil dan pola kesehatan terkait alkohol antara tahun 1990 dan 2016 di 195 negara dan wilayah berdasarkan usia dan jenis kelamin. Penelitian ini memberikan temuan tentang prevalensi minum alkohol saat ini, prevalensi abstensi, konsumsi alkohol di antara peminum saat ini, dan kematian dan kesehatan buruk secara keseluruhan disebabkan alkohol untuk 23 hasil kesehatan, seperti penyakit jantung, kanker, penyakit hati, penyakit tidak menular, dan cedera.

LASTI KURNIA–Suasana Indonesian Craft Beer dan Asian Food Pairing, di Jakarta, Kamis (8/3/2018). Minum 2 gelas alkohol menyehatkan ternyata hanya mitos.

Penelitian ini menggunakan 694 sumber data pada konsumsi alkohol tingkat individu dan tingkat populasi, bersama dengan 592 studi prospektif dan retrospektif tentang risiko penggunaan alkohol. Lebih dari 500 peneliti dan akademisi dari lebih dari 40 negara berkontribusi dalam penelitian ini.

“Penelitian kami membuat hubungan antara kesehatan dan minum alcohol yang menyebabkan kerugian kesehatan yang besar, dalam berbagai cara, di seluruh dunia,” kata Max Griswold, peneliti senior tim global ini.

Studi ini tidak membedakan antara bir, anggur, dan minuman keras karena kurangnya bukti ketika memperkirakan beban penyakit. Namun, peneliti menggunakan data pada semua kematian terkait alkohol pada umumnya di dunia dan hasil kesehatan terkait untuk menentukan kesimpulan mereka.

KOMPAS/LASTI KURNIA (LKS)–Indonesian Craft Beer buatan Bali, 8 Maret 2018. Alkohol menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Pola konsumsi alkohol bervariasi menurut negara dan berdasarkan jenis kelamin, konsumsi rata-rata per peminum, dan beban penyakit yang dapat diatribusikan. Secara global, lebih dari 2 miliar orang adalah peminum saat ini pada tahun 2016 sebanyak 63 persen peminum alkohol adalah laki-laki.

Konsumsi alkohol rata-rata mengacu pada minuman standar, yang didefinisikan dalam penelitian ini sebagai 10 gram alkohol murni yang dikonsumsi oleh seseorang setiap hari.

Konsumsi rata-rata kira-kira setara dengan segelas kecil anggur merah (100 ml atau 3,4 ons cairan) pada alkohol 13 persen berdasarkan volume; satu kaleng atau botol bir (375 ml atau 12 ons cairan) pada alkohol 3,5 persen berdasarkan volume; atau sebotol wiski atau minuman keras lainnya (30 ml atau 1,0 ons cairan) pada alkohol 40 persen berdasarkan volume.

Regulasi minuman beralkohol
Kesimpulan penelitian ini menyebutkan, pandangan yang luas tentang manfaat kesehatan dari alkohol perlu direvisi, terutama karena metode dan analisis yang ditingkatkan terus menunjukkan seberapa banyak penggunaan alkohol berkontribusi terhadap kematian dan kecacatan global. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat minum yang paling aman tidak ada.

“Mitos bahwa satu atau dua gelas sehari baik untuk Anda, itu hanya mitos. Studi ini menghancurkan mitos itu,” ujar Emmanuela Gakidou, peneliti dari Institut Metrik Kesehatan dan Evaluasi di Universitas Washington, Amerika Serikat.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan sebagian besar pedoman kesehatan, yang mendukung manfaat kesehatan yang terkait dengan mengkonsumsi hingga dua minuman per hari. Penggunaan alkohol berkontribusi terhadap kehilangan kesehatan dari banyak penyebab dan membebani korban sepanjang hidup, khususnya di kalangan pria. Kebijakan yang berfokus pada pengurangan konsumsi tingkat populasi akan paling efektif dalam mengurangi kehilangan kesehatan dari penggunaan alkohol.

Penelitian itu menunjukkan, negara dengan prevalensi peminum terbanyak di dunia tahun 2016 pada pria adalah Denmark, Norwegia, Argentina, Jerman,Polandia, Perancis, Korea Selatan, Swiss, Yunani, dan Islandia. Sebaliknya, negara dengan prevalensi peminum alkohol terendah adalah Pakistan, Bangladesh, Mesir, Mali, Maroko, Senegal, Mauritania, Suriah, Indonesia, dan Palestina.

Penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2016, hampir 3 juta kematian secara global dikaitkan dengan penggunaan alkohol, termasuk 12 persen kematian pada laki-laki antara usia 15 dan 49 tahun.

Pada 2016, delapan dari 10 negara terkemuka dengan tingkat kematian terendah yang diakibatkan penggunaan alkohol di kalangan usia 15 hingga 49 tahun berada di Timur Tengah yaitu Kuwait, Iran, Palestina, Libya, Arab Saudi, Yaman, Yordania, dan Suriah. Dua lainnya adalah Maladewa dan Singapura.

KOMPAS/PINGKAN E DUNDU–Ribuan jenis dan merek minuman beralkohol dimusnahkan di halaman Markas Polres Tangerang Selatan, Banten, beberapa waktu lalu.

Sebaliknya, tujuh dari 10 negara terkemuka dengan tingkat kematian tertinggi berada di kawasan Baltik, Eropa Timur, atau Asia Tengah, khususnya Rusia, Ukraina, Lithuania, Belarusia, Mongolia, Latvia, dan Kazakhstan. Tiga lainnya adalah Lesotho, Burundi, dan Republik Afrika Tengah.

“Risiko kesehatan yang terkait dengan alkohol sangat besar,” kata Gakidou.

Menurut dia, temuan ini konsisten dengan penelitian terbaru lainnya, yang menemukan korelasi yang jelas dan meyakinkan antara minum alkohol dan kematian dini, kanker, dan masalah kardiovaskular. “Konsumsi alkohol nol meminimalkan risiko keseluruhan dari kehilangan kesehatan,” ujar Gakidou.

SATRIO PANGARSO–Endra (20) terbaring lemah di rumahnya pada Rabu (4/4/2018) sore, Depok, Jawa Barat. Ia keracunan minuman beralkohol oplosan yang kerap disebut “Ginseng”.

“Kami sekarang mengerti bahwa alkohol adalah salah satu penyebab utama kematian di dunia saat ini. Kita harus bertindak sekarang. Kita perlu bertindak segera untuk mencegah jutaan kematian ini dan kita bisa,” kata editor The Lancet Richard Horton.

Para pejabat kesehatan di negara-negara itu, kata Gakidou, akan diinformasikan kebijakan dan program untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan penduduk mereka.

KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI)–Rubuan botol minuman keras hasil tangkapan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kanwil Jakarta siap dimusnahkan di lapangan depan Kodim 0501/JP, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (18/12/2014).

“Ada kebutuhan mendesak dan mendesak untuk merombak kebijakan untuk mendorong baik menurunkan tingkat konsumsi alkohol atau tidak sepenuhnya,” ujar Gakidou.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 27 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: