Home / Berita / Dengan ”Bonek”, ITS Bersaing di World Solar Challenge

Dengan ”Bonek”, ITS Bersaing di World Solar Challenge

TAK selalu istilah bonek atau bondho nekat (modal nekat) selalu berarti negatif, tetapi lebih pada perjuangan sekalipun dengan modal cekak. Istilah bonek yang telanjur melekat pada arek-arek Surabaya ini tampaknya tak terkecuali bagi para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember ketika dihadapkan dengan tantangan untuk mengikuti lomba World Solar Challenge di Australia, 6-13 Oktober 2013.

”World Solar Challenge ternyata memang merupakan lomba yang sangat berat sekaligus menguras semangat, emosi, dan juga finansial,” kata Muhammad Nur, dosen pembimbing yang mengikuti perjalanan para mahasiswanya. Lomba dari Darwin ke Adelaide itu berjarak 3.600 kilometer yang harus ditempuh dalam waktu delapan hari.
Jika tak berhasil menempuh jarak seperti yang diharuskan, peserta akan diangkut dengan trailer.

Dengan modal semangat itulah para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia, harus berjuang dengan tanpa pengalaman mengikuti lomba kelas dunia ini. Jika peserta seperti dari Universitas Michigan, AS, menyediakan trailer khusus bagi timnya, pendukung dari Surabaya itu hanya mampu menyewa sebuah minibus L300 untuk mengawal kendaraan sel surya Sapu Angin atau Widya Wahana IV.

”Tim ITS berangkat ke Australia dengan bondho nekat. Bayangkan saja dengan dana yang sangat minim untuk ukuran lomba ini, tim hanya berhasil mendapatkan sponsor sebesar Rp 500 juta ditambah dana pembuatan mobil sebesar Rp 1 miliar dari pemerintah dan ITS. Bandingkan dengan tim-tim besar dari Jepang, Eropa, dan AS yang menghabiskan dana tidak kurang dari 9 juta dollar AS untuk berlaga di Australia ini,” ujar Nur.

Tentu saja tidak asal punya kendaraan sel surya bisa mengikuti lomba, tetapi setiap tim juga harus menjalani ujian sebelum dinyatakan bisa ikut lomba. Pada pengalaman pertama mengikuti lomba ini ITS dinyatakan lolos scrutineering untuk bisa ikut. Dalam tes ini, satu tim dari Cambridge University dengan dana jutaan poundsterling gagal karena desain mereka
dinilai tidak baik dan tidak aman untuk digunakan di jalan raya.

Scrutineering merupakan tahapan wajib di dunia kompetisi kendaraan, khususnya balapan. Tahapan ini melihat secara detail seluruh persiapan teknis kendaraan, baik sebelum maupun sesudah balapan.

Dalam babak kualifikasi di Sirkuit Hidden Valley Speedway, Darwin, sepanjang 2,8 km itu tim mencatat waktu 2 menit 26 detik, lambat 2 detik dari latihan bebas sebelumnya. Secara keseluruhan, mereka menempati urutan ke-11 dari 31 peserta yang berhak mengikuti lomba Darwin-Adelaide. Pada hari pertama, tim berhasil menempuh jarak 146 km, tetapi saat dianalisis performa sel surya terganggu dan hanya membangkitkan daya rata-rata 600 watt, seharusnya di atas 1 kilowatt.

Dengan menurunnya kualitas pembangkitan daya, tim melanjutkan seluruh perjalanan sekalipun sebagian harus menggunakan trailer. Memasuki garis finis di Adelaide, tim masuk peringkat ke-21—berjarak tempuh 784 km murni dengan tenaga sel surya—dari 31 peserta. Hanya 10 tim yang berhasil menempuh 3.600 km tanpa trailer.

Perjalanan berat
Pengalaman menarik, bukan hanya kualitas kendaraan lomba, melainkan juga sarana pendukung dan cuaca. Bagaimanapun, perjalanan dari Darwin menuju Adelaide berat dan keras.

”Kami harus melewati gurun-gurun dengan cuaca sangat ekstrem sampai 42 derajat celsius dan camping di pinggir jalan saat malam tanpa fasilitas air dan toilet. Ini kami lakukan tiga hari. Belum lagi serangan serangga sun flies yang mengakibatkan kulit bentol-bentol gatal dan akhirnya bernanah,” tutur Nur.

Dari cuaca panas ekstrem itu kemudian berubah total ketika tim memasuki daerah Australia selatan selepas Alice Springs. Tim ITS yang telanjur biasa di udara panas tiba-tiba dihadapkan pada suhu dingin sampai di bawah 10 derajat celsius pada malam hari saat tim harus berkemah di pinggir jalan.

Stamina dan kondisi fisik tim diuji coba habis-habisan oleh dinginnya gurun Australia. Saat di Australia selatan, angin berembus sangat kencang. Tim dari Swedia menjadi korban saat mobil mereka terbalik dan hancur. Begitu juga dengan trailer dan mobil surya dari tim Kanada, Bluesky.

”Alhamdulillah, di tengah embusan angin dingin yang sangat kencang, kami berhasil menjalankan mobil setiap hari rata-rata 150 km dengan tenaga matahari,” kata Nur melalui surat elektronik saat menunggu kepastian timnya kembali ke Tanah Air.

Sekalipun gagal memenuhi harapan masuk 10 besar dunia, catatan sukses pada tahap-tahap awal merupakan harapan pada masa depan. Bagaimanapun, jika dilihat dari keseluruhan proses, tim telah mengalami penempaan mental yang luar biasa komplet lahir dan batin. Bonek tidak selalu negatif, ”stupid but spirit”. (AWE)

Sumber: Kompas, 17 Oktober 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: