Home / Berita / Demi Tingkatkan Profesionalisme, Beasiswa Dosen Akan Ditambah

Demi Tingkatkan Profesionalisme, Beasiswa Dosen Akan Ditambah

Pemerintah terus berupaya mengembangkan sumber daya manusia para dosen dan peneliti guna mendorong munculnya inovasi demi inovasi. Dana beasiswa bagi mereka diupayakan untuk ditambah, terutama untuk meningkatkan profesionalisme para dosen di daerah.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti) Ali Ghufron Mukti, Rabu (9/10/2019), di Jakarta, mengatakan, pemerintah kini terus mengembangkan SDM dosen dan peneliti demi mempercepat kemajuan Indonesia.

DOKUMENTASI KOMPAS–Foto dokumentasi, Juli 2018: Mahasiswa dan dosen Indonesia yang berhasil menerima beasiswa Erasmus. Harapannya, mereka dapat kembali dengan wawasan untuk memajukan Indonesia.

Saat ini, para dosen dan peneliti dituntut untuk memiliki daya saing yang tinggi, berkarakter, dan bisa menjadi pemenang.

”Mereka diharapkan bisa memunculkan inovasi-inovasi untuk kesejahteraan. Hal itu hanya bisa berjalan dengan SDM yang unggul,” kata Ali saat berbicara pada Simposium SDM Iptek Kelas Dunia: Capacity Building untuk Peningkatan Daya Saing Global, Rabu, di Jakarta.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN–Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti) Ali Ghufron Mukti.

Laporan Indeks Daya Saing Global 2019 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia menyebutkan, kemampuan inovasi Indonesia berada pada peringkat ke-74 dari 141 negara dengan perolehan 38 poin. Hal tersebut turut memengaruhi menurunnya peringkat daya saing Indonesia.

Turun lima peringkat
Saat ini Indonesia berada pada peringkat ke-50 atau turun lima peringkat dari tahun 2018, dengan skor yang diperoleh ialah 64,6 poin. Sebagai perbandingan, Malaysia menduduki peringkat ke-27 dengan perolehan 74,6 poin dan Thailand ada di peringkat ke-40 dengan 68,1 poin.

Beberapa langkah telah diupayakan untuk pengembangan SDM. Mulai dari pembangunan kapasitas peneliti melalui pelatihan dan simposium, membuat desain besar pengembangan SDM, serta membuat rencana induk penelitian. Kerja sama dengan banyak universitas dan pusat penelitian dunia juga terus dijalin.

Menurut Ali, diaspora Indonesia di seluruh dunia, baik yang bertindak sebagai dosen, asisten dosen, maupun peneliti telah didorong untuk turut berkontribusi. Kemristek dan Dikti juga telah menjalin jaringan laboratorium di seluruh dunia demi mendukung peningkatan daya saing para peneliti.

Sementara itu, desain besar SDM iptek dikti dimaksudkan agar seluruh kebutuhan SDM di perguruan tinggi bisa disesuaikan dengan pembangunan nasional hingga tahun 2024, bahkan tahun 2030.

Misalnya, jika ingin memenuhi visi sebagai pusat maritim dunia, perlu ada pemetaan apa saja jenis SDM yang dibutuhkan, baik di laut maupun darat.

”Jadi, program studi yang menghasilkan SDM tersebut harus bekerja keras. Mereka harus link and match dengan industri, termasuk perkembangan industri 4.0,” ujar Ali.

Langkah pengembangan SDM secara profesional sebenarnya sudah dilakukan oleh Kemristek dan Dikti sejak 2013 melalui research and inovation in science and technology program (Riset Pro). Riset Pro merupakan salah satu program beasiswa luar negeri untuk gelar dan non-gelar yang berlangsung hingga 2020.

”Sudah ada sekitar 460 peneliti yang dikirim untuk program gelar dan 1.670 peneliti untuk non-gelar,” kata Sekretaris Project Management Office Riset Pro Adhi Putranto.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN–Sekretaris Project Management Office Riset Pro Adhi Putranto

Menurut Ali, hingga 2015, dana dukungan untuk Riset Pro baru digunakan 33 persen. Dalam tiga tahun terakhir, daya serapnya sudah mencapai 90 persen. Riset Pro sendiri disokong oleh dana pinjaman dari Bank Dunia lebih kurang Rp 85 juta dollar AS atau lebih dari Rp 1 triliun.

Ali juga berharap agar para alumni Riset Pro terus meningkatkan kontribusinya dalam bidang iptek. Bukan hanya pada tahapan publikasi, melainkan juga komersialisasi. Mereka diharapkan terus memunculkan inovasi-inovasi sekaligus menggandeng pihak industri sebagai mitra.

Dana pengembangan
Anggota Panitia Khusus (Pansus) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU Sisnas Iptek) Andi Yuliani Paris akan mengupayakan agar dana pengembangan SDM iptek ditambah.

Andi Yuliani juga menyarankan agar beasiswa untuk melanjutkan studi bagi dosen dan peneliti tidak hanya berasal dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) saja. ”Selama ini kalangan peneliti, perekayasa, atau pengkaji yang didanai oleh LPDP presentasenya masih sangat sedikit,” katanya.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN–Anggota Panitia Khusus (Pansus) Undang-Undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU Sisnas Iptek) Andi Yuliani Paris.

Menurut Andi, salah satu kebutuhan yang juga mendesak adalah mengembangkan SDM dosen dan peneliti yang ada di daerah. Masih banyak kualifikasi pendidik pada perguruan tinggi negeri ataupun swasta di daerah yang perlu ditingkatkan.

”Syarat beasiswa dari LPDP cenderung sulit. Misalnya persyaratan IELTS yang sulit dipenuhi oleh para dosen di kabupaten-kabupaten. Selain itu, bidang-bidangnya juga terbatas,” ujarnya. –FAJAR RAMADHAN
Editor PASCAL S BIN SAJU

Sumber: Kompas, 10 Oktober 2019

Share
x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: