Home / Artikel / Demam Lama Belum Tentu Infeksi HIV

Demam Lama Belum Tentu Infeksi HIV

Saat ini tidak sedikit pasien, keluarga pasien dan dokter yang memikirkan penyebab demam lama (lebih dari 1 bulan) adalah infeksi HIV-AIDS. Kemudian dilakukan pemeriksaan tes antibodi HIV. Hasilnya sebagian negatif (nonreaktif) atau tidak mendukung ke arah infeksi HIV-AIDS.

Kebetulan pasien tersebut, karena mengalami demam lama, maka nafsu makan turun, sehingga berat badan juga turun. Menambah asumsi bahwa pasien tersebut perlu dipikirkan ke arah infeksi HIV-AIDS.

Padahal, penyebab demam lama tidak hanya infeksi HIV-AIDS. Ada banyak penyakit yang menyebabkan demam lama. Antara lain: penyakit autoimun (gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti SLE = Systemic Lupus Eritematosis).

Penyakit infeksi selain HIV yang menyebabkan demam lama: Citomegalovirus (CMV) yang bisa menyerang otak, hati, Infeksi mononucleosis, Tularemia, Sifilis, TB Paru, danTB di luarparu (TB usus). Penyebab lainnya: keganasan (tumor, kanker), hipersensitif terhadap obat dan UFO (unknown fever origin).

Penyakit autoimun yang menyebabkan demam lama: Artritis rheumatoid, Systemic Lupus Erithematosus (SLE= Lupus), dan Sjogren’s Syndrome. Di samping demam lama (lebih dari 1 bulan). Diantara ketiganya yang paling sering adalah SLE (lebih dikenal sebagai Lupus).

Penyakit demam lama, sering menyebabkan dokter dan pasien frustasi, karena kebingungan mencari penyebab yang belum juga ditemukan.

Diagnosis

Untuk melakukan diagnosis diperlukan wawancara yang teliti tentang riwayat demamnya. Apakah naik turun, terus menerus atau diselingi fase beberapa hari tanpa demam. Apakah ada riwayat bepergian ke daerah tertentu, bagaimana dengan riwayat pekerjaan .Apakah ada riwayat kontak dengan binatang anjing, kucing, tikus.

Adakah riwayat penggunaan obat-obatan tertentu yang potensial menimbulkan demam. Apakah ada riwayat kontak yang erat dengan penderita TB Paru.

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan : pemeriksaan darah rutin lengkap, termasuk fungsi hati dan fungsi ginjal. Laju endap darah dan C Reactive Protein (CRP).Untuk mengarah ke SLE (lupus) diperiksa ANA (Antinuclear Antibody ) dan Anti Ds DNA. Sedangkan pada Reumatoid Artritis diperiksa RhF (Rheumatic Factors).

Pemeriksaan lainnya urin rutin, kultur darah, foto ronsen dada, USG perut.  Semua pasien dengan demam lama sebaiknya dilakukan pemeriksaan skrining terhadap HIV. Jika negatif ditelusuri ke arah sebab yang lain.

Tidak jarang diperlukan pemeriksaan CT Scan abdomen (perut) untu kmelihat apakah ada abses (kumpulan nanah), hematom (kumpulan darah), pembesaran kelenjar getah bening di perut, atau terdapat limfomamaligna (keganasan darah yang dapat diliha tdari CT Scan perut).

Beberapa pasien dengan pemeriksaan USG perut tidak didapatkan kelainan yang berarti, akan tetapi mengingat demamnya masih saja berlangsung maka dengan bantuan CT Scan perut, seringkali didapatkan kelainan seperti: pembesaran kelenjar getah bening, TB rongga perut, atau keganasan kelenjar getah bening (Limfomamaligna).

Apabila dicurigai yang menjadi penyebab demam adalah pemakaian obat maka langkah yang dapat diambil : mencoba menghentikan konsumsi obat yang diduga sebagai penyebab demam dan diganti dengan obat lain yang berfungsi sama. Umumnya demam akan turun dalam tiga hari setelah obat tersebut dihentikan. Meskipun pada sebagian kasus demam bisa saja turun setelah 2 minggu obat disetop.

Penanganan

Prinsip penanganan pasien dengan demam lama, dievaluasi adakah kekurangan cairan akibat penguapan yang berlangsung lama. Sebagian kasus demam lama akan mereda dengan pemberian gabungan obat penurun panas, kortikosteroid atau NSAID (non Steroid Anti inflamasi drugs).

Hati-hati dengan penggunaan antibiotik jangka lama. Sebab sebagian pasien dengan demam lama mendapatkan antibiotik dalam waktu lama. Padahal ada keadaan demam yang justru dipicu oleh pemberian antibiotik yang lama (fever ascociated antibiotic). Begitu antibiotiknya dihentikan malah demamnya turun.

Penanganan berikutnya tentu diseuaikan dengan penyebab demam yang ditemu­kan.Kalau ternyata ada TB di luar paru, maka diberikan obat anti tuberculosis dalam waktu lebih lama (9 bulan) dibandingkan obat TB paru yang 6 bulan pemberian.

Jika desebab kan oleh keganasan, seper tilimfomamaligna, maka perlu dilakukan biopsy (pengambilan sebagian jaringan tubuh) untuk menentukan jenis sel kanker maupun stadiumnya. Lalu ditentukan apakah akan mendapat Kemoterapi (terapi serial obatkankera­tauRadioterapi (terapipenyinaran yang biasanyasampai 24 kali). (11)
— Dr Muchlis AU Sofro, SpPD-KPTI, FINASIM SpesialisPenya­kit Dalam RSUP Dr Kariadi – FK Undip Semarang

Sumber: Suara Merdeka, 10 April 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Menyoal Kenetralan Pendidikan

Riset pendidikan matematika telah mengungkapkan secara jelas bahwa mengajar matematika merupakan ”highly political act” atau ...

%d blogger menyukai ini: