Home / Berita / Dell Membuka Pasar Baru dengan Inspiron 15 Gaming Notebook

Dell Membuka Pasar Baru dengan Inspiron 15 Gaming Notebook

Komputer jinjing untuk permainan bukanlah hal yang baru bagi Dell yang memiliki merek Alienware. Dengan spesifikasi mumpuni mulai dari prosesor, RAM, kartu grafis, hingga desain badan yang mencolok, komputer jinjing untuk permainan menempati puncak dari piramida perangkat elektronik untuk konsumen terkait harga jualnya yang setidaknya mencapai Rp 20 juta.

Di luar itu, Dell juga memiliki seri produk yang ditujukan untuk konsumen pada umumnya, yakni Inspiron. Mulai dari Inspiron 3000 yang memiliki rentang harga Rp 3 juta-Rp 5 juta, Inspiron 5000 dengan harga Rp 5 juta-Rp 10 juta, hingga Inspiron 7000 dengan harga Rp 7 juta-Rp 16 juta. Seri XPS juga tersedia di samping Inspiron yang memiliki keistimewaan berupa desain minimalis dan harganya mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 30 juta.

Dua segmen pasar ini ditengahi oleh seri Inspiron 15 yang diluncurkan untuk pasar Indonesia, Selasa (23/2/2016) lalu. Komputer jinjing ini memiliki spesifikasi mumpuni, harga lebih terjangkau, dan mampu memenuhi kebutuhan pengguna yang menuntut perangkat kencang untuk menyelesaikan pekerjaan sambil menghibur diri lewat permainan elektronik terkini.

Inilah seri Inspiron yang didaulat Dell sebagai produk komputer jinjing untuk permainan. Ditawarkan dengan harga Rp 19,4 juta, Inspiron 15 memiliki layar sentuh berukuran 15 inci dengan resolusi ultra HD atau 3840 x 2160 piksel. Perangkat ini diotaki prosesor empat inti buatan Intel generasi keenam atau disebut dengan kode Skylake i7, didampingi kartu grafis dari Nvidia GeForce GTX960M, dan penyimpanan internal hybrid hard drive berkapasitas 1 terabit.

Spesifikasi tersebut memungkinkan Inspiron 15 untuk dioperasikan sebagai perangkat bermain game berat, tetapi tetap produktif. Baik prosesor maupun kartu grafisnya memungkinkan komputer ini menjalankan permainan terbaru, seperti Rise of the Tomb Raider atau Project CARS yang dikenal cukup menuntut spesifikasi komputer yang tinggi. Dua judul tersebut saat diperagakan mampu dijalankan lancar oleh Inspiron 15 dengan tingkat pengaturan grafis pada kategori tinggi.

07e4004a45cc4e16b4bd27ab6e29c427KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Inspiron 15 adalah komputer jinjing untuk permainan (gaming notebook) yang dikembangkan oleh Dell untuk menyasar konsumen yang menginginkan perangkat yang mampu menjalankan permainan yang menuntut spesifikasi mumpuni sekaligus mampu menyelesaikan tugas berat untuk mengolah dokumen hingga file multimedia, Selasa (23/2/2016). Dengan harga jual Rp 19,4 juta untuk satu unit, mereka optimistis segmen ini tetap terbuka di Tanah Air.

Sementara itu, layar sentuh dengan resolusi 4K sebetulnya tidak terlalu sesuai dengan konsep permainan, tetapi membuat komputer ini layak digunakan untuk mengolah file multimedia, seperti menyunting gambar dan video. Belum lagi olah grafis yang membutuhkan resolusi tinggi dan input sentuhan untuk memudahkan kerja.

Saat dijajal, komputer ini bisa lancar menjalankan program penyunting gambar Adobe Photoshop dengan gambar berukuran besar, termasuk mengekspor hasil penyuntingan film di Adobe Premiere dengan cepat.

Itulah mengapa Dell lantas mengemas Inspiron 15 sebagai komputer dengan dua kepribadian, bisa dipakai bermain game tetapi juga bisa dipakai untuk bekerja. Label sebagai komputer jinjing untuk permainan seharusnya juga menjadi petunjuk bahwa perangkat tersebut cukup andal untuk dipakai bekerja, terlebih memiliki kelebihan seperti layar sentuh dan resolusi 4K.

Meski disebut sebagai komputer jinjing untuk permainan, desain produk Inspiron 15 ternyata tidak jauh berbeda dari seri-seri lain yang minimalis. Hal itu disengaja untuk mempertahankan ciri khas seri Inspiron dengan desain yang sederhana. Meski demikian, masih ada beberapa ciri khusus dari komputer jinjing untuk permainan yang bisa ditemui, seperti papan tuts dengan lampu latar belakang serta pengeras suara untuk mendukung permainan para pengguna.

Potensial
Segmentasi terbesar dari komputer jinjing di Indonesia masih didominasi perangkat yang harganya di bawah Rp 4 juta yang komposisinya bisa mencapai 40 persen. Namun, itu tidak berarti bahwa komputer dengan harga di atasnya atau bahkan mendekati harga Rp 20 juta tidak ada pasarnya.

Country Manager Dell Indonesia Catherine Lian mengatakan bahwa masyarakat kelas menengah yang dominan di Indonesia menjadi peluang berharga karena beragamnya kebutuhan untuk mereka. Ditambah lagi rencana pemerintah untuk investasi teknologi yang juga membutuhkan belanja perangkat dengan spesifikasi tinggi di samping kebutuhan sumber daya manusia.

“Dan, semua tidak terpusat di Ibu Kota karena 60 persen sebetulnya ada di luar Jabodetabek,” katanya.

Yohan Wijaya, MNC Sales Director Intel Indonesia, mengatakan, perkembangan teknologi prosesor kian mempersempit jarak antara komputer jinjing dan komputer pribadi yang tidak portabel. Komputer jinjing semula tidak bisa melakoni kerja komputasi berat karena keterbatasan daya dan performa akibat bentuk produk yang kecil. Namun, kendala itu makin teratasi dengan prosesor yang kian kecil dan irit daya.

“Dengan perangkat yang bisa dibawa ke mana-mana, komputer jinjing memiliki kelebihan bagi pengguna untuk tetap bisa berkumpul dengan teman-teman di satu komunitas,” kata Yohan.

Disinggung mengenai pasar komputer jinjing di Indonesia, Yohan tetap optimistis bahwa perangkat dengan rentang harga mana pun akan selalu memiliki pasar asalkan dipasarkan dengan baik oleh produsen.

Krishnakumar, Vice President Consumer and Small Business Dell, menuturkan, Indonesia merupakan pasar yang dibidik serius setelah sebelumnya mereka menjadi pemain tiga besar di lima negara pasar utama, seperti Amerika Serikat, Kanada, Tiongkok, India, dan Brasil.

Komputer jinjing yang menyasar dua dunia ini akan menjadi peluang bagi Dell untuk mewujudkan niatnya.

DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas Siang | 25 Februari 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: