Home / Berita / Delapan Harimau Diselamatkan dari Jeratan

Delapan Harimau Diselamatkan dari Jeratan

Keberadaan harimau kian terancam. Dalam empat tahun terakhir, delapan harimau diselamatkan dari jerat yang diduga dipasang pemburu ataupun masyarakat setempat.

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN–Harimau sumatera jantan bernama Monang Barumun yang pernah diselamatkan dari jerat di Hutan Desa Parmonangan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, tahun 2016.

Jerat satwa menjadi momok bagi kelestarian harimau sumatera di habitat alam. Dalam empat tahun terakhir, aparat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelamatkan delapan harimau dari jerat yang diduga dipasang para pemburu maupun buntut konflik warga dengan satwa liar.

Di tengah pandemi Covid-19 ini pun petugas di lapangan masih terus berpatroli untuk membantu mengurangi tekanan perburuan satwa prioritas untuk dipulihkan tersebut. Penyelamatan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) sangat mendesak karena populasinya di alam diyakini tidak lebih dari 600 ekor berdasarkan analisis data Population Viability Analysis (PVA).

”Di tengah situasi pandemi Covid-19, kita perlu lebih mawas diri dan waspada dalam menjaga keseimbangan ekosistem,” kata Indra Eksploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Senin (13/4/2020), di Jakarta.

Penyelamatan harimau yang terjerat terakhir dilakukan pada 29 Maret 2020 di Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau. Pada masa pandemi Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona baru, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau beserta tim mengevakuasi harimau betina yang terjerat kaki depannya.

Penyelamatan ini merespons laporan dari manajemen PT RAPP, perusahaan pemegang izin hutan tanaman industri setempat. Diakui, penyelamatan ke lokasi relatif tidak mudah karena keterbatasan selama pandemi Covid-19.

Harimau Corina kini dirawat di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) di Sumatera Barat, sekitar 19 jam perjalanan darat dari Riau. Perawatan itu berhasil menyelamatkan nyawa harimau sumatera berumur 3-5 tahun yang diberi nama Corina.

Jerat yang terbuat dari seling atau kawat baja maupun tali tambang acap kali menewaskan harimau maupun satwa lain karena infeksi pada luka. Tak sedikit pula, luka pada kaki harimau yang terlalu parah memaksa dokter hewan untuk mengamputasi kaki harimau.

”Jerat yang dipasang pemburu berdampak serius bagi kehidupan satwa liar yang dilindungi undang-undang, termasuk harimau sumatera. Sebab, satwa tak tahu apakah jerat yang bertebaran di hutan itu berbahaya sehingga patut dihindari atau dilewati,” imbuh Suharyono, Kepala BBKSDA Riau Suharyono.

Kondisi terkini harimau sumatera Corina berdasarkan laporan dari tim PRHSD Sumatera Barat cukup bagus dan nafsu makannya baik. Corina juga aktif di dalam kandang rawat dan sering terpantau berendam di dalam bak air.

KOMPAS/YOLA SASTRA–Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (16/7/2019) sore, menunjukkan bagian kepala kulit harimau sumatera yang disita balai di Bandara Internasional Minangkabau.

Kemajuan proses kesembuhan luka jerat pun dievaluasi cukup bagus serta tim medis menyediakan lampu penghangat dekat tempat tidur Corina dan penutup kandang untuk mengurangi cuaca dingin di areal PRHSD. Corina dilaporkan masih memiliki naluri alami yang ditandai sering menjilati lukanya untuk dibersihkan.

”Luka Corina sangat parah karena seling jerat pemburu yang diperkirakan terjerat dua-tiga hari sebelumnya menempel ke bagian tulang kakinya. Semua otot rusak, tetapi tendonnya masih baik sehingga ada peluang sembuh dengan catatan penyembuhannya baik dan tidak terjadi infeksi sekunder,” kata Indra Exploitasia yang juga seorang dokter hewan.

Ia berharap luka Corina bisa sembuh. Setelah melewati masa rehabilitasi dan habituasi, Corina bisa dilepasliarkan kembali ke habitat alamnya.

Dilepasliarkan
Selain Corina, KLHK mencatat penyelamatan juga dilakukan pada 6 Maret 2020 di Subulussalam, Aceh. Harimau sumatera bernama Dara diselamatkan dari perangkap akibat konflik dengan masyarakat setempat. Harimau Dara dilepasliarkan kembali ke dalam Taman Nasional Gunung Leuser.

Pada 21 Januari 2020, aparat juga menyelamatkan Enim, harimau sumatera di Muara Enim, Sumatera Selatan. Harimau tersebut kini dalam rehabilitasi di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung.

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN–Pada 21 Januari 2020, aparat menyelamatkan Enim, harimau sumatera di Muara Enim, Sumatera Selatan. Harimau tersebut kini dalam proses rehabilitasi di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung.

Pada 2 Juli 2019, Batua, harimau sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Lampung, diselamatkan dan kini menjalani rehabilitasi di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung.

Di Sumatera Barat, pada 18 April 2018, harimau sumatera bernama Sopi Rantang di Kabupaten Agam Sumatera Barat dan 28 Agustus 2018, Bujang Ribut, harimau sumatera di Lubuk Kilangan, Padang, diselamatkan dari potensi konflik manusia-satwa liar.

”Pada tahun 2016 ada upaya penyelamatan harimau sumatera dari jerat pemburu, yaitu harimau sumatera betina Gadis di Taman Nasional Batang Gadis Sumatera Utara dan harimau sumatera jantan Monang di Hutan Desa Parmonangan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara,” lanjut Indra. Dalam proses rehabilitasi, terjadi perkawinan Monang dan Gadis menghasilkan dua anak harimau.

Indra menambahkan, harimau-harimau sumatera yang sehat dan memenuhi syarat bakal dilepasliarkan. Kajian habitat lokasi pelepasliaran perlu dilakukan sebelum harimau dilepasliarkan ke alam, antara lain memastikan ketersediaan satwa mangsa, dukungan ekologi, sumber air mencukupi dan aspek sosial ekonomi warga sekitar, serta endemisitas habitat harimau sumatera.

Indra menambahkan, dalam kurun dua tahun terakhir, KLHK bersama PRHSD-Yayasan ARSARI Djojohadikusumo dan para pihak melepasliarkan harimau sumatera bernama Bonita, Atan Bintang, dan Bujang Ribut.

Masih bertahan
Harimau sumatera dan satwa liar dilindungi lainnya masih menghuni areal hutan produksi Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Itu berdasarkan hasil survei oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Wilayah X Padang Sidempuan di Sumatera Utara, bersama mitra masyarakat, dan Conservation International (CI) Indonesia, dalam siaran pers, 7 April 2020.

Satwa-satwa itu terekam kamera tersembunyi (camera trap) yang dipasang dalam periode Januari-Maret 2020 dengan luasan survei sekitar 30.000 hektar. Satu foto yang diunduh dari kamera memperlihatkan tampak belakang tubuh harimau sumatera dan diperkuat rekaman video yang menampakkan individu itu melintas secara utuh di depan kamera.

Ruang jelajah (home range) satwa ini bisa mencapai luas 500 kilometer persegi atau akan meliputi hampir seluruh hutan di Tapanuli Selatan.

CONSERVATION INTERNATIONAL INDONESIA–Capture dari video hasil kamera tersembunyi yang dipasang tim survei Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPH-P) Wilayah X Padang Sidempuan di Sumatera Utara, bersama mitra masyarakat dan Conservation International (CI) menunjukkan harimau sumatera menghuni daerah itu. Kamera dipasang dalam periode Januari-Maret 2020 dengan luasan survei sekitar 30.000 hektar.

Kepala KPH Wilayah X Zurkarnain Hasibuan menilai hasil survei ini sangat penting untuk dipakai dalam penyusunan rencana pengelolaan. Informasi keanekaragaman hayati di tempat ini minim sehingga hasilnya perlu disosialisasikan ke masyarakat demi mencegah konflik manusia dan satwa.

Survei itu menunjukkan kekayaan keanekaragaman hayati berada di luar kawasan konservasi. Dalam survei singkat ini ditemukan keluarga kucing liar sumatera, yakni harimau sumatera, macan dahan sumatera, kucing emas asia, dan kucing batu.

Selain keluarga kucing, survei juga menangkap keberadaan hewan-hewan dengan status menurut Badan Konservasi Dunia (IUCN) dalam kategori kritis, terancam, dan rentan, yaitu lutung hitam sumatera, trenggiling, tapir, beruang madu, rusa sambar, kambing-hutan sumatera, dan beruk.

Selain itu, penunjang pakan untuk predator paling tinggi seperti harimau sumatera masih banyak tersedia seperti kijang, babi hutan, pelanduk kancil, rusa sambar, dan kambing-hutan sumatera.

KPHP Angkola Selatan seluas 178.000 ha merupakan bagian dari ekosistem Hutan Batang Toru yang berfungsi sebagai koridor di antara dua ekosistem besar, yaitu ekosistem Gunung Leuser dan Bukit Barisan.

Kawasan hutan tersebut memiliki konektivitas dengan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) seluas 108.000 ha. Seluruh kawasan ini juga termasuk di dalam koridor konservasi Aceh-Sumatera Utara seluas 4,7 juta ha, koridor ini merupakan daerah jelajah satwa kunci di Sumatera.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 13 April 2020

Share
x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: