Home / Berita / Daun Buas, Pemantik Gemas

Daun Buas, Pemantik Gemas

Wujud, ukuran, dan ”kelakuan” tumbuhan karnivora alias tumbuhan pemakan serangga memang memikat. Para penggilanya keluar-masuk hutan, saling bertukar koleksi tanaman karnivora.

Tampang Anti (32) sungguh gemas waktu mengisahkan koleksi tanaman karnivora suaminya, Aan Saqsono (39). ”Kalau melihat tanaman karnivora berkantong seukuran jari tangan, apalagi yang kantongnya merah, iiiih…, pengin nyubit, deh,” ujarnya.

”Nasib saya, sejak suami berkebun Nepenthes, saya serasa istri kedua. Setiap dia bangun tidur, yang dicari kantong semarnya,” kata Anti tertawa.

Sebelum jadi pencinta Nepenthes, Aan yang bekerja di kantor notaris adalah penggila ular. Perkenalannya dengan Nepenthes alias tumbuhan kantong semar baru terjadi pada 2007 ketika ia mengunjungi pameran tanaman di Lapangan Banteng, Jakarta.

Aan tahu ada tumbuhan kantong semar, tetapi ia tidak menyangka bahwa kantong semar punya banyak spesies. Ia penasaran melihat ukuran kantong semar yang bisa seukuran gelas sampai seukuran jari anak-anak. ”Rasa penasaran jalan terus. Akhirnya berkenalan dengan semakin banyak penggila kantong semar,” ujarnya.

Gara-gara kantong semar pula Slamet Bagyo (40) berkarib dengan Budi Sayekti (32). Mereka dulu bertetangga dan sama-sama hobi berkebun. Tahun 2007, kantong semar memang naik daun, dibincang di mana-mana. ”Saya dan Budi penasaran, berboncengan sepeda motor keliling Jabodetabek, mendatangi penjual tanaman gara-gara penasaran,” kata Bagyo, yang bekerja sebagai kontraktor kelistrikan.

Mereka kemudian menemukan kantong semar jenis N ampullaria pada seorang penjual tanaman di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan. Itulah koleksi pertama mereka. Harganya kala itu Rp 50.000. Mereka terus berburu kantong semar di setiap pameran tanaman. Gara-gara keluar-masuk pameran tanaman, Bagyo dan Budi akhirnya berlabuh di Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia (KTKI). Bertemu dengan berpuluh penggila Nepenthes, seperti Aan, Putra Setiawan (37), dan John Muhammad, membuat Bagyo dan Budi bisa bertukar informasi soal seluk-beluk Nepenthes.

”Ternyata, Indonesia sangat kaya Nepenthes. Dari 121 spesies kantong semar di dunia, 73 spesies tumbuh di Indonesia. Kami bisa menambah koleksi dengan saling bertukar Nepenthes tanaman kami,” kata Bagyo.
Keluar-masuk hutan

Dari mengoleksi tanaman-tanaman kantong semar kebanyakan, para anggota KTKI mulai mempelajari sifat beragam kantong semar. Pupuk apa pun, misalnya, haram diberikan pada kantong semar karena justru bakal membuat kantong semar berkecukupan gizi.

Bagyo mengatakan, kantong semar pada dedaunan Nepenthes adalah bentuk adaptasi dari tumbuhan yang tumbuh di tanah dengan kesuburan rendah. Justru karena hidup serba berkekurangan, daun-daun tumbuhan itu beradaptasi menjadi kantong penjebak serangga. ”Dari serangga itulah mereka mencukupi berbagai kebutuhan hara yang tidak didapat dari tanah. Kalau diberi pupuk, daunnya tak bakal berkantong,” kata Bagyo.

Bagyo kepincut kantong semar setelah mengetahui beragam cara merawat kantong semar bisa memunculkan bentuk kantong berbeda dari sebuah spesies, bahkan dari sebuah tanaman yang sama. Daun-daun yang telah bersalin jadi kantong berlendir ”buas” yang memerangkap serangga itu jadi obyek percobaan banyak pencintanya.

”Ada teman yang memberi makan kantong Nepenthes dengan susu. Ada lagi yang memasukkan beragam jenis serangga. Segala macam uji coba dilakukan demi bentuk dan warna kantong yang berbeda. Karena setiap Nepenthes berkelamin tunggal, kami juga mencoba menyilangkan beragam spesies,” kata Bagyo.

Tumbuh di dalam hutan tropis yang lembab, Nepenthes sangat suka berbasah-basah. ”Itu yang membuat pemelihara Nepenthes bisa dikira gila oleh tetangga,” kata Aan tertawa.

”Bayangkan, setiap hari kami harus menyiram kebun dua-tiga kali. Biar langit mendung, menyiram kebun. Gerimis, menyiram kebun, ha-ha-ha. Pokoknya, kantong semar harus selalu basah,” kata Bagyo.

Anggota KTKI memberanikan diri mengumpulkan beragam kantong semar dari hutan-hutan non-konservasi di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Digawangi sejumlah peneliti biologi dan taksonomis yang duduk sebagai penasihat KTKI, komunitas itu menggelar sejumlah ekspedisi untuk menggiatkan konservasi eksitu Nepenthes. KTKI juga terlibat mengantar sejumlah peneliti biologi yang menginventarisasi habitat atau spesies baru Nepenthes.

Pada 2006, ekspedisi KTKI dimotori M Apriza Suska di Gunung Salak, Jawa Barat, menemukan spesies baru kantong semar, yang sementara dinamai Nepenthes sp salak. Ekspedisi di Sumatera pada 2009 berhasil mengidentifikasi spesies baru N taminii. Ekspedisi 2010 di Gunung Salak kembali menemukan spesies baru lainnya, N adrianii.

”Kami seperti berpacu dengan waktu. Di Kalimantan, Nepenthes dianggap hama,” kata Aan. Nepenthes biasanya dibakar oleh para peladang di hutan Kalimantan. Dari hutan, Aan dan kawan-kawan hanya mengambil satu-dua tumbuhan dari setiap spesies yang mereka temukan. ”Jika berhasil kami tanam dan perbanyak, barulah kami pertukarkan dengan anggota KTKI lainnya,” kata Aan.

Konservasi eksitu

Belasan ekspedisi menjadi modal besar konservasi Nepenthes di luar habitatnya (konservasi eksitu). Peneliti botani dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong Science Center, Muhammad Mansur, menyebut, ekspedisi KTKI tidak hanya menambah koleksi para anggota, tetapi juga menambah koleksi Nepenthes Kebun Raya Cibodas yang dikelola LIPI.

”Peneliti LIPI memiliki keterbatasan melakukan konservasi eksitu seluruh spesies Nepenthes di alam. Kami sangat terbantu dengan banyaknya anggota KTKI yang keluar-masuk hutan non-konservasi untuk mengidentifikasi habitat Nepenthes dan upaya budidaya mereka,” kata Mansur.

Bagi Ketua Harian KTKI John Muhammad (38), misi KTKI adalah berbagi segala pengalaman KTKI kepada publik. ”Sejak KTKI berdiri pada 7 Mei 2006, visi dan misi kami mewujudkan konservasi berbasis komunitas. Kami ingin berbagi apa yang kami miliki kepada publik. Semakin banyak apa yang KTKI miliki diakses publik, kami yakin akan semakin mengurangi ancaman bagi kelestarian kantong semar di habitat aslinya,” kata Ketua Harian KTKI John Muhammad.

Kerja-kerja jangka panjang KTKI membudidayakan beragam jenis Nepenthes menjadi modal bagi Kebun Raya Cibodas membangun Rumah Nepenthes bersama KTKI. KTKI menyumbangkan tidak kurang dari 55 spesies asli dan 50 silangan kantong semar untuk Kebun Raya Cibodas, tepat pada perayaan ulang tahun ke-162 Kebun Raya Cibodas.
(ARYO WISANGGENI G )

Sumber: Kompas, 20 April 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: