dana riset; Kendala Bahasa Turut Menghambat Peneliti

- Editor

Sabtu, 27 September 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potensi peneliti Indonesia menghasilkan riset unggulan dinilai cukup bagus. Namun, potensi itu belum tergali maksimal karena hambatan internal, termasuk kemampuan berbahasa yang kadang membuat peneliti tak percaya diri mengakses pendanaan dari lembaga donor asing.

”Potensi peneliti Indonesia sebenarnya sangat luar biasa. Hanya saja, ada sejumlah kendala, bisa karena minim informasi hingga kendala bahasa,” kata Leenawaty Limantara, Ketua Panitia International Conference on Natural Sciences, Natural Science from Laboratory to Industrial Application (ICONS), yang diselenggarakan oleh Universitas Ma Chung, Malang, bekerja sama dengan Alexander von Humboldt Foundation, di Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (26/9). Pertemuan para peneliti dari 15 negara itu berlangsung pada 25-28 September 2014 di Kota Batu.

Leenawaty menambahkan, 60 tahun Humboldt Foundation membantu dana bagi peneliti Indonesia, selama itu juga hanya ada 33 peneliti yang terwadahi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Rektor Universitas Ma Chung tersebut, seharusnya peneliti Indonesia lebih percaya diri mengakses pendanaan internasional karena rata-rata kemampuan akademis mereka tidak kalah. Bahkan, jauh lebih baik dibandingkan peneliti asing. ”Hanya saja, kendala bahasa ini kadang membuat mereka memilih menempuh pendidikan di dalam negeri saja,” tuturnya.

Mengakses lembaga donor internasional, kata Leenawaty, adalah hal yang penting. Jika riset tuntas (salah satunya karena finansial), bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Saat ini, banyak keanekaragaman hayati Indonesia punah karena tidak digarap dan dilindungi baik. ”Jika bisa memanfaatkan pendanaan internasional untuk meneliti dan memanfaatkan teknologi mereka, harapannya bisa mencegah kehilangan keanekaragaman hayati itu. Tentu dengan perjanjian yang baik dan berdasar aturan material transfer agreement yang benar agar tidak dirugikan,” ujarnya.

Kepala Divisi Asia Bidang Sponsorship dan Kerja Sama Alexander von Humboldt Foundation Klaus Manderla membenarkan, potensi peneliti Indonesia sangat besar. Hanya saja, terkadang peneliti Indonesia punya pertimbangan tertentu dalam mengakses lembaga donor.

”Saya melihat peneliti di Indonesia kadang mengajukan beasiswa penelitian saat sudah senior. Padahal, kami lebih mendukung peneliti muda,” katanya. Ada juga akademisi yang memilih melanjutkan pendidikan di tempat tak jauh dari daerah asalnya.

”Mungkin itu sebabnya tidak banyak peneliti Indonesia mendaftar ke kami. Atau, mungkin penyadaran dan informasi mengenai kami kurang,” ujarnya.

Tahun lalu, pendaftar beasiswa Humboldt Foundation asal Indonesia ada tiga orang. Semuanya gagal. Adapun pendaftar dan penerima beasiswa dari negara lain, dengan kemampuan bahasa Inggris tak sebagus Indonesia, jumlahnya lebih banyak. (DIA)

Sumber: Kompas, 27 September 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB