Home / Berita / Dalam Senyap Melawan Korona

Dalam Senyap Melawan Korona

Di antara huru-hara pandemi Covid-19 ini, ada orang-orang yang bekerja dalam sunyi di laboratorium. Kerja keras mereka untuk menemukan vaksin yang bisa menangkal virus korona baru itu menjadi tumpuan harapan masyarakat.

Di antara huru-hara pandemi Covid-19 ini, ada orang-orang yang bekerja dalam sunyi di laboratorium. Di antara mereka adalah para peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Kementerian Riset dan Teknologi, yang bekerja keras mulai dari mengekstraksi spesimen virus hingga mencari cara membuat vaksinnya.

Dodi Safari (43) telah bekerja menjadi peneliti di Lembaga Eijkman sejak tahun 2001. Sejak itu pula, doktor lulusan University Medical Center Utrecht, Belanda ini telah terbiasa bergelut dengan aneka jasad renik berbahaya, mulai dari bakteri hingga virus. “Kebetulan kami juga pernah menangani virus korona di Indonesia dari surveilans di Sulawesi,” katanya.

Lembaga Eijkman pernah berkolaborasi dengan Joko Pamungkas, Koordinator PREDICT-Indonesia surveilans untuk menemukan virus pada kelelawar dan rodensia (tikus liar), serta manusia di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat pada tahun 2012-2013 dan 2016-2018.

Dari belasan virus yang ditemukan, salah satunya adalah korona, namun jenis berbeda dengan SARS-CoV-2, pemicu Covid-19 yang menjangkiti lebih dari 10 juta penduduk dunia ini.

Dodi menjadi koordinator surveilans virus pada di manusia dari proyek riset kolaborasi dengan PREDICT-Indonesia ini. “Secara teknologi dan sumber daya manusia sebenarnya kami sudah siap sejak awal. Kita juga sudah punya panel untuk memeriksa korona,” kata dia.

Namun, SARS-CoV-2 memang beda. Dia mudah menular dari manusia ke manusia, dan belum ada obatnya. “Tetapi, yang lebih mempengaruhi mungkin tekanan psikologis karena pemberitaan yang gencar,” tuturnya.

Oleh karena itu, ketika ditugaskan melakukan ekstraksi sampel SARS-CoV-2, Dodi awalnya juga dihantui rasa khawatir. “Kami mulai esktraksi spesimen korona di lab BSL3 (biosafety level atau standar keamanan hayati tingkat 3) mulai bulan Maret. Mungkin suasanya seperti di film-film, pakai APD (alat pelindung diri) lengkap, napas pun terasa sesak karena pakai masker N95. Sekalipun suhu ruangan 22 derajat, tetap gerah,” ujarnya.

Kekhawatiran itu juga sempat menghantui Yora Permata Dewi (28), yang baru bekerja di Lembaga Eijkman sejak 2018. “Ini pertama kali masuk dan bekerja di BSL3. Awalnya deg-degan, namun juga jadi kesempatan emas untuk belajar. Untung senior dan teman-teman di sini sangat membantu, karena sistem kerja di lab ini harus berpasangan agar saling mengingatkan dan menjaga,” kata dia.

Sekalipun selalu menaati prosedur, namun Yora mengaku masih kerap merasa was-was, terutama ketika ada berita sejumlah peneliti di laboratorium Universitas Airlangga, Surabaya, terpapar Covid-19. Apalagi, sejak terjadi wabah, mereka dituntut bekerja ekstra keras, dengan menguras pikiran dan tenaga.

Diburu waktu
Kecepatan dan ketepatan riset terkait Covid-19 harus dicapai para peneliti, termasuk Yulia Rosa Saharman, peneliti dari Laboratorium Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. ”Virus ini baru. Banyak kejutan setiap kami mendalaminya. Namun, kami harus cepat menghasilkan riset untuk melawan virus ini,” ujar Yulia yang meneliti deteksi kit Covid-19.

Sebagai peneliti, meski banyak riset virus, SARS-CoV-2 menarik dipelajari lebih mendalam. Banyak hal baru didapatkan dari karakteristik virus itu. Dengan mengenal virus ini, penanganan tepat lebih mudah dilakukan.

“Saat ini banyak yang bekerja sampai malam. Sabtu dan Minggu ada yang bergantian kerja untuk mengoptimalkan lab. Peneliti Eijkman ditunut bekerja ekstra, karena masyarakat membutuhkan kita, baik untuk pemeriksaan spesimen maupun penelitian untuk menemukan vaksin,” kata Kepala Lembaga Eijkman Amien Soebandrio.

Lembaga Eijkman memang menjadi tumpuan bagi penemuan vaksin Covid-19 di Indonesia. “Kita memang startnya terlambat, karena baru Maret 2020 mendapat mandat. Namun, jika tidak ada halangan, vaksin untuk Covid-19 buatan Indonesia ini bisa selesai awal tahun depan,” ungkapnya.

Sekalipun sudah banyak lembaga riset maupun perusahaan di luar negeri yang juga berlomba menemukan vaksin Covd-19, namun keberadaan vaksin buatan Indonesia tetap dibutuhkan. Pemintaan vaksin global yang sangat tinggi di masa depan, menurut Amin, membuat Indonesia harus mandiri untuk menyedikan masyarakat. “Apalagi, minimal 70 persen populasi harus diimunisasi jika mau efektif mengatasi Covid-19 ini,” tuturnya.

Sebagai fondasi, Lembaga Eijkman telah sukses mengurutkan total genom dari 10 spesimen virus SARS-CoV-2 yang ada di Indonesia dan mendaftarkannya ke Global Initiative on Sharing ALL Influenza Data (GISAID). Sebanyak lima urutan total genom SARS-CoV-2 didaftarkan Universitas Airlangga. “Target kami ada 100 spesimen virus yang akan diurutkan total genomnya,” kata Wakil Kepala Lembag Eijkman, Herawati Supolo Sudoyo.

Urutan total genom ini, menurut Herawati, menjadi bekal penting memahami karakter virus yang menular di masyarakat, termasuk mutasinya, dalam rangka membangun vaksin yang sesuai kondisi di Indonesia.

Di balik kesuksesan mengurutkan total genom ini, terdapat kerja keras para peneliti. “Ada dua tim sebenarnya, yaitu yang bekerja di wet lab (laboratorium basah) dan dry lab i. Saya kebetulan bertugas di wet lab, mengonversi sampel sampai siap diurutkan,” kata Edison Johar, peneliti Eijkman.

Setelah diurutkan ini, peneliti bioinformasi Eijkman, Hidayat Trimasanto harus menyusun penggalan data itu hingga menjadi susuan genom virus yang utuh. Ibaratnya seperti menyusun kepingan puzzle, namun jumlahnya mencapai 29.000 – 30.000 keping.

Setelah sukses mengurutkan genom virus ini, menuru Amin, para peneliti Eijkman telah menyelesaikan pembangunan fondasi pembuatan vaksin ini. Mereka baru-baru ini berhasil mengembangkan protein rekombinan dari virus. “Ada dua target, yaitu protein S dan N. Ini baru 10-20 persen dari total penyelesaian vaksin, tapi menentukan ke depannya. Berikutnya akan lebih lancar,” ujarnya.

Bagi Benediktus Yohan (37), peneliti virus demam berdarah dengue di Eijkman yang kini diperbantukan untuk untuk pengembangan vaksin Covid-29, upaya menemukan vaksin untuk virus korona baru ini merupakan pekerjaan sangat berat.

“Biasanya buat vaksin butuh 5-10 tahun. Bahkan, vaksin dengue sudah 30 tahun dikembangkan, walaupun sudah ada yang dipasaran namun masih dianggap belum efektif. Ini kita diminta hanya satu tahun sudah uji klinis,” katanya.

Maka, bekerja lembur dari pagi sekitar jam 8.00 hingga jam 21.00 WIB menjadi normal baru bagi mereka. “Teman-teman yang ngejar tenggat biasa lembur, walaupun di sini tidak ada sistem uang lembur. Tetapi, sebagai peneliti kewajiban moral kami menyelesaikan pekerjaan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Selain berkejaran dengan waktu, para peneliti Eijkman ini juga sambil belajar karena belum semua karakter virus korona ini telah dikenali. “Kami juga belajar dari proses di negara lain,” kata Yohan.

Tak hanya itu, para peneliti ini juga harus menghadapi berbagai kendala teknis, mulai dari keterbatasan bahan yang harus diimpor dari luar negeri. Kini kalau mau pesan barang atau reagen bisa menunggu 1,5 bulan sehingga perencanaannya harus baik.

Namun, kerja keras para peneliti Eijkman ini terbayar dengan besarnya dukungan masyarakat. Selain banyaknya sumbangan APD dan berbagai peralatan, hingga kini ada sejumlah pihak yang setia mengirim makan siang untuk para peneliti, di antaranya Komunitas Jalan Sutra. “Bahkan, terkadang ada orang yang menelepon mau kirim kue-kue buatan sendiri. Ini sangat berarti bagi kami,” kata Yohan. (DEONISIA ARLINTA)

Oleh AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 30 Juni 2020

Share
x

Check Also

Diduga Kuat Covid-19 Bisa Menular Melalui Udara

WHO sedang mengkaji masukan sejumlah peneliti yang menyebutkan virus SARs-CoV-2, penyebab pandemi Covid-19, bisa menular ...

%d blogger menyukai ini: