Cerita tentang Api dari “Si Jantan dan Betina”

- Editor

Minggu, 25 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kamis (22/10) sore, dua mobil bak terbuka memasuki halaman Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Kalimantan Tengah di Palangkaraya. Dua orangutan liar baru saja ditangkap karena masuk permukiman warga di tepian Jalan Trans-Kalimantan di Desa Tumbang Nusa, Pulang Pisau, Kalteng.

Dalam kandang besi berukuran 1,2 meter x 1 meter, orangutan jantan dewasa berusia 18 tahun panik dan ketakutan. Tubuhnya yang berambut hitam dibentur-benturkan ke kandang. Jemarinya mencakar-cakar jeruji hendak membongkar kurungan. Napasnya tersengal.

Si jantan itu terusir dari hutan sejak 14 Oktober 2015 akibat kebakaran lahan dan kabut asap pekat yang menyelimuti Kalteng dua bulan terakhir. Sumber makanan dalam hutan lenyap. Insting dasarnya menuntun masuk kebun warga. Nanas dan buah sawit warga Desa Tumbang Nusa pun dilahapnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dan, warga gempar mendapati orangutan liar di permukiman. Selmi, warga Desa Tumbang Nusa, langsung menghubungi BKSDA Kalteng dan Yayasan Borneo Orangutan Survival agar dapat menangkap orangutan itu agar tak semakin merusak tanaman masyarakat.

Tim penyelamat saat itu berupaya menyisir pekarangan dan hutan yang hangus dilahap api. “Saat dicari, orangutan itu masuk lagi ke dalam hutan karena banyak warga berkerumun dan ada anjing pemburu. Kami yakin orangutan itu akan kembali ke desa karena kelaparan,” kata Koordinator Komunikasi dan Edukasi Nyaru Menteng Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Monterado Fridman, Jumat (23/10).

6649be1bbdf344c292f9d2381580023fKOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO–Orangutan betina berusia sekitar 8 tahun dibius dan diselamatkan tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng dan Yayasan Borneo Orangutan Survival setelah keluar dari hutan yang terbakar dan mencapai Jalan Trans-Kalimantan di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kamis (22/10). Orangutan yang hamil 7-8 bulan itu sementara ini dipindahkan ke dalam kandang di halaman kantor BKSDA Kalteng di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menunggu dilepasliarkan.

Dua hari pencarian gagal. Namun, keyakinan bahwa si jantan akan kembali terbukti pada Kamis (22/10). Tim datang lagi menempuh jarak 32 kilometer dari Palangkaraya. Warga setempat sudah diimbau agar tak mengusik orangutan. “Dengan dua kali tembakan bius, kami berhasil me-rescue orangutan itu,” ujar Monterado.

Namun, “tangkapan” lain menunggu. Tak diduga, saat tim hendak menuju Palangkaraya, mereka mendapat kabar lagi ada seekor orangutan masuk ke hutan penelitian di desa yang sama. Kali ini, orangutan betina usia 8 tahun berkeliaran di sekitar lokasi pembuatan sumur bor. “Jika dilihat dari rambut dan kulitnya yang kering dan retak-retak, mereka mengalami dehidrasi,” kata Monterado.

Karena tak membawa kandang, dalam keadaan terbius, terpaksa si betina dibawa dalam jeratan jaring hingga Palangkaraya. Setibanya di BKSDA, si betina masih tergolek lemas. Hanya bola matanya yang bergerak-gerak. Takut, gelisah, dan pasrah. Seusai diperiksa dokter hewan, betina itu ternyata tengah hamil tua, 7-8 bulan.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Kalteng Yusuf Trismanto menyampaikan, kedua orangutan liar itu akan ditranslokasi ke Taman Nasional Sebangau. Namun, juga masih dilanda kebakaran hebat.

Data sejak 1 September, enam orangutan terusir dari habitat liarnya. Mereka dirawat dan direhabilitasi di Yayasan BOS. Empat orangutan lain juga ditemukan tersesat di permukiman warga dan perkebunan sawit di Kabupaten Pulang Pisau, Katingan, dan Gunung Mas.

Api dan asap adalah bukti kehancuran hutan dan lahan gambut Indonesia yang mahakaya. Namun, alih fungsi dan fragmentasi hutan rumah hayati Tanah Air terus terjadi. Hampir tiada henti. Orangutan jantan dan betina adalah saksi. (DKA)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Oktober 2015, di halaman 14 dengan judul “Cerita tentang Api dari “Si Jantan dan Betina””.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 46 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB