Cerita di Balik Layar ‘Kuncen Mbah Google’

- Editor

Kamis, 29 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Coba tanya mbah Google”. Pengguna internet Indonesia kerap kali melontarkan kalimat tersebut ketika ingin mencari tahu jawaban akan berbagai hal. Ya, Google sudah dianggap sebagai gudang informasi tak terbatas yang tahu segalanya.

Di balik dahsyatnya mesin pencari Google, ada seorang sosok sentral yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Dia adalah Ben Gomes, Senior Vice President Google Search. Kebetulan saat berkunjung ke markas besar Google di Mountain View, California, Amerika Serikat, sejumlah media asal Indonesia — termasuk detikINET — berkesempatan berbincang dengannya.

Ben sudah 16 tahun berkarir di raksasa internet itu. Pemegang gelar Ph.D Computer Science dari UC Berkeley ini lahir di Tanzania, tumbuh di Bangalore, India dan sudah menghabiskan bertahun-tahun untuk berkarir di Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gelar sebagai juru kunci alias kuncen Google Search mungkin bisa dialamatkan kepadanya. Sebab ia memiliki posisi strategis dalam operasional dan pengembangan mesin pencari Google tersebut. Mulai dari masa-masa perjuangan awal sampai bertaburnya fitur-fitur yang Anda ketahui sekarang ini.

Ben bercerita, filosofi kerja yang dipegangnya selama ini tak lepas dari kondisi msa kecilnya yang selalu dahaga akan informasi. “Dulu waktu kecil, saya begitu suka dengan buku dan pengetahuan. Cuma di wilayah tempat tinggal saya saat itu cuma ada satu perpustakaan yang dijatah peminjaman bukunya. Ibu saya meminjam empat buku seminggu, saya kebagian dua buku, ibu saya dua lagi. Dan saat perpustakaan tutup, maka saya tak bisa meminjam buku dan tak mendapat informasi,” ceritanya.

Sampai suatu saat lahirlah internet yang mengubah cara orang mendapatkan informasi. Momentum ini disebut Ben telah meruntuhkan tembok besar akan mendapatkan informasi.

“Dalam menjalankan mesin pencari, pekerjaan kita selesai ketika user mendapatkan informasi yang diinginkannya. Dan itu jadi pegangan bagi saya untuk mengemas Google Search sampai saat ini. Kami tidak mau memberikan halaman web yang cuma berisi kata yang Anda cari, tetapi lebih untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya Anda cari? Dan kami coba memberikannya kepada Anda,” ungkap Ben yang bercerita dengan penuh antusias.

Pekerjaan menjadi ‘kuncen Mbah Google’ disebut Ben tak sekadar harus jago coding dan menyusun algoritma yang ciamik. Masalah fundamental yang harus dipecahkan adalah, bagaimana bisa untuk berpikir dan bekerja seperti otak manusia dan mengaplikasikannya ke program komputer.

“Pekerjaan pertama kami bereskan di Google search adalah sinonim. Tak semudah yang dibayangkan, jika saya menulis ‘ubah brightness di monitor’ maka tak berarti ‘ganti brightness di monitor’, banyak varian kata rumit untuk diartikan. Ini yang menjadi tantangan berat,” ujar pria ramah ini.

ada3Jadi untuk mengerti kata dalam sebuah konteks merupakan jalan terjal yang harus dilalui. Hal ini berbeda saat manusia berbicara yang bisa langsung diartikan. Namun saat hal itu diterapkan di komputer, kondisinya sungguh sulit.

Perjuangan selanjutnya Ben dan timnya adalah mengoptimalkan ekosistem Google di mesin pencarinya. Ia yakin, jika Google Search berhasil membantu user mencari suatu informasi, maka user tersebut akan semakin percaya dan bakal terus-terusan untuk mencari informasi lain.

Menghadirkan fitur Spelling Correction di Google Search juga diakui sulit oleh Ben. Pasalnya, mereka tak cuma harus mengakomodir bahasa Inggris, tetapi juga Jerman, Prancis, Italia dan lainnya.

“Pertama yang kita lakukan adalah bagaimana menerapkan algoritma pada Google Search ke semua bahasa, ini sulit. Tetapi kita harus bisa memasukkan algoritma di lintas bahasa yang dipilih. Saya bisa berbicara bahasa Inggris, tetapi tak tahu bicara bahasa Prancis, Jerman dan Italia,” ungkapnya.

Mesin Pencari yang Pintar
Meski sudah digunakan jutaan atau bahkan miliaran pengguna internet, Google Search tak mau berpuas diri. Ben sadar, teknologi tak ada yang sempurna. Termasuk mesin pencari Google yang harus terus dikembangkan untuk mengejar kesempurnaan tersebut.

Alhasil, dalam prosesnya muncul fitur Auto Complete, Images, Video, serta News Search dari layanan ini. “Namun kita ingin terbang lebih jauh lagi, menciptakan mesin pencari yang lebih pintar. Mesin pencari yang bisa menjawab hal lebih detail. Misalnya, ‘siapa Presiden Indonesia?’. Untuk bisa itu, maka kami harus mengerti banyak hal, mulai dari kata yang ditulis sampai tentang obyek yang dicari. Misalnya terkait pertanyaan tadi (siapa Presiden Indonesia?), maka kami juga harus tahu soal Indonesia, yakni negara dengan banyak pulau dan lainnya. Inilah yang kami sebut sebagai Knowledge Graph,” Ben memaparkan.

“Indonesia adalah sebuah negara, dan punya Presiden Joko Widodo, dan ibukotanya berada di Jakarta. Nah, keterkaitan informasi seperti ini yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ini yang kami sebut sebagai Knowledge Graph dan bagaimana caranya komputer harus mengerti proses informasi ini sehingga bisa memberi jawaban yang pas,” lanjutnya.

Knowledge Graph merupakan teknologi di belakang Google Search yang menjadi database dari pengetahuan terstruktur tentang dunia nyata. Sudah banyak hal yang terangkum di dalamnya, tetapi masih banyak hal lain pula yang Google Search belum ketahui. “Dengan menggunakan ini maka kami bisa menjawab banyak pertanyaan,” tegasnya.

Ben lalu melakukan demonstrasi menggunakan Google Voice Search. “Siapa Presiden Indonesia? (dan dijawab ‘Joko Widodo’ oleh Google Search). ‘Hal menarik di Indonesia?’ (Dijawab ada Candi Borobudur, pura di Ubud, Bali dan lainnya’. “Carikan saya gambar Borobudur?’,” lanjut pertanyaan Ben lagi.

“Dulu 3-5 tahun lalu hal ini masih sulit untuk dilakukan. Teknologi masih jauh dari kata sempurna, termasuk Google Search, tapi kami terus berusaha melakukan pengembangan. Itulah masa depan yang kami tengah bangun. Yaitu, kami mengerti apa yang Anda tanyakan, dan kami bisa memberikan jawaban yang dimaksudkan,” tandasnya. (ash/fyk)

Ardhi Suryadhi – detikinet

Sumber: detik.com, Kamis, 29/10/2015

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB
Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Berita ini 3 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 1 April 2024 - 11:07 WIB

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 3 Januari 2024 - 17:34 WIB

Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Berita Terbaru

US-POLITICS-TRUMP

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB