Home / Wawancara / CEO dan Founder Reddoorz Amit Saberwal: Dekatkan Teknologi pada Usaha Penginapan Kecil

CEO dan Founder Reddoorz Amit Saberwal: Dekatkan Teknologi pada Usaha Penginapan Kecil

Pemesanan kamar penginapan secara dalam jaringan (daring) mempermudah konsumen yang hendak bermalam. Namun, belum tentu semua penyedia jasa tersebut dapat memanfaatkan teknologi untuk hal tersebut. Celah itu dianggap kesempatan bagi pendiri Reddoorz Amit Saberwal untuk memberikan solusi bagi penginapan-penginapan yang belum optimal memanfaatkan teknologi. Simak dialog Kompas dengan Amit Saberwal, Rabu (15/11).

Tanya (T): Bagaimana ide awal terbentuknya Reddoorz?

Jawab (J): Disrupsi digital ini benar-benar mengubah usaha penginapan. Saya berpikir, bagaimana nasib pemilik-pemilik penginapan kecil yang masih konvensional? Apakah mereka dapat bertahan menghadapi arus teknologi itu? Karenanya, saya turun tangan untuk mendekatkan teknologi pada usaha penginapan kecil. Tujuannya, penginapan-penginapan kecil itu dapat melayani pelanggan secara optimal dengan memanfaatkan teknologi.

T: Apakah banyak yang meremehkan ide Anda pada saat itu? Bagaimana Anda menghadapinya?

J: Tentu saja. Mereka mempertanyakan strategi saya mengeksekusi ide di tengah arus perdagangan elektronik (e-dagang) atau e-commerce. Saya putuskan untuk fokus menggandeng hotel-hotel kecil sebagai mitra karena belum banyak yang memikirkan mereka. Dari segi pasar, saya fokus menyasar anak muda usia 18-35 yang sangat dekat dengan teknologi.

Disrupsi digital ini benar-benar mengubah usaha penginapan. Saya berpikir, bagaimana nasib pemilik-pemilik penginapan kecil yang masih konvensional? Apakah mereka dapat bertahan menghadapi arus teknologi itu?

T: Bagaimana awal eksekusi ide Anda tersebut?

J: Mulainya pada tahun 2015 di India. Tim saya terdiri dari 8 – 10 orang. Saat itu kami belum memiliki kantor sendiri. Kami berdiskusi dan bekerja di ruang kantor bersama. Lalu, kami mencari mitra untuk berinvestasi dan mitra penginapan Reddoorz.

Pada tahun yang sama, kami meluncurkan Reddoorz di Indonesia. Negara berikutnya adalah Singapura pada 2016 dan Filipina pada November 2017.

Prinsipnya, Reddoorz merupakan portal dalam jaringan (online) yang menghubungkan penyedia jasa penginapan kepada pelanggan. Seperti yang sudah saya bilang, penginapan-penginapan yang menjadi mitra kami tergolong usaha kecil. Reddoorz langsung menawarkan kamar, bukan penginapannya.

Adapun standar kamar kami meliputi, akses internet nirkabel, televisi satelit, air mineral, kasur yang bersih, kamar mandi yang bersih, dan perlengkapan mandi.

Reddoorz merupakan portal dalam jaringan (online) yang menghubungkan penyedia jasa penginapan kepada pelanggan.

T: Anda memilih Indonesia sebagai negara kedua setelah tempat kelahiran Anda. Apa alasannya?

J: Saya melihat Indonesia sebagai pasar perjalanan yang besar di Asia Tenggara berdasarkan jumlah populasi pemudanya. Selain itu, ada sejumlah masalah dalam e-dagang Indonesia di bidang penginapan yang solusinya ada pada kami. Misalnya pembayaran secara transfer. Pelanggan masih mencari pilihan membayar langsung tunai di penginapan. Kami menyediakan opsi tersebut.

Kami juga melihat aktifnya pengguna media sosial di Indonesia sebagai kesempatan untuk mempermudah promosi kami.

T: Tantangan apa yang Anda hadapi saat mengembangkan Reddoorz di Indonesia?

J: Keragaman kotanya. Tiap kota memiliki keunikannya masing-masing. Karena itu, pendekatannya ke mitra penginapan dan promosi ke pelanggan berbeda-beda. Misalnya, untuk Jakarta lebih terkait dengan perjalanan bisnis sedangkan Bandung lebih terkait liburan. Ini membuat permintaan kamar di Jakarta lebih stabil tiap harinya. Berbeda dengan Bandung, permintaannya melonjak pada akhir pekan. Strategi saya adalah saya memberikan harga promosi sepanjang hari kerja untuk pemesanan kamar di Bandung. Tujuannya, permintaan kamar pada hari kerja dan akhir pekan di Bandung tidak terlalu senjang.

Strategi saya adalah memberikan harga promosi sepanjang hari kerja untuk pemesanan kamar di Bandung. Tujuannya, permintaan kamar pada hari kerja dan akhir pekan di Bandung tidak terlalu senjang.

T: Secara umum, bagaimana Anda menyikapi tantangan keragaman tersebut dalam mengembangkan Reddoorz di Indonesia?

J: Pertama, kami mengubah cara pandang kami sehingga melihat keragaman bukan sebagai tantangan melainkan kesempatan. Kedua, saya memiliki tim hebat di sini yang memiliki pengetahuan lokal dan kearifan lokal sehingga kami dapat mencari solusi-solusi yang tepat sesuai dengan karakteristik wilayahnya.

Biarpun berbeda-beda, pendekatan terhadap perilaku pelanggan tetap ampuh dalam mengatasi setiap tantangan yang dihadapi Reddoorz. Karenanya, kami memiliki tim pengontrol kualitas di setiap daerah untuk memastikan pelayanan yang optimal dan kepuasan pelanggan. Tim ini dapat mengunjungi mitra penginapan setiap hari hingga sebulan sekali, tergantung dari jumlah pemesanan kamar dan pengalaman pelanggan.

T: Aspek apa yang paling sering disoroti pelanggan?

J: Koneksi internet nirkabel. Kedua, kebersihan kamar.

T: Bagaimana Anda menanggapinya?

J: Kami memang menyediakan pelatihan pelayanan kebersihan bagi mitra penginapan kami. Terkait koneksi internet, itu memang tantangan tersendiri karena dipengaruhi berbagai macam faktor seperti lokasi dan provider. Akan tetapi, kami tengah mengusahakan yang terbaik.

T: Bagaimana pengalaman Anda dalam berkolaborasi dengan orang-orang Indonesia untuk mengembangkan Reddoorz? Adakah yang berkesan?

J: Perlu diketahui, saya adalah orang paling tua dalam tim. Tim saya di Indonesia terdiri dari pemuda-pemuda yang memiliki ide-ide segar dan penuh inovasi. Gagasan-gagasan merekalah yang membuat saya terkesan.

Misalnya untuk menguatkan internal tim kami. Mereka mengadakan acara-acara perayaan Hari Kartini hingga Halloween.

Selain itu, mereka juga memperkuat promosi Reddoorz dengan mengelola media sosial yang mampu menarik perhatian pelanggan.

T: Bagaimana Anda melihat Reddoorz di Indonesia lima tahun mendatang?

J: Reddoorz berada di setiap sudut-sudut jalan. So wherever you go, there will be Reddoorz.

T: Terakhir. Apa makna usaha penginapan dalam hidup Anda?

J: Bagi saya, usaha penginapan bukan sekadar karir. Dalam usaha ini, saya dapat membuat diri saya melayani orang lain secara lebih dan lebih baik lagi tanpa mempedulikan jam kerja. Usaha ini mengajarkan saya untuk memberikan solusi terhadap masalah yang terjadi. Terus terang, usaha ini telah menjadi bagian besar hidup saya.

Sejatinya, usaha penginapan mengedepankan pelayanan kepada pelanggan. Tentu kolaborasi antar penyedia jasa penginapan mampu mengoptimalkan kepuasan pelanggan dalam bermalam. Lebih dari itu, kolaborasi ini seyogyanya saling mengembangkan satu sama lain demi memberikan yang terbaik bagi para pelanggannya. (DD09)–MARIA PASCHALIA JUDITH J

Sumber: Kompas, 15 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: