Cegah Misinformasi dan Hoaks Covid-19, Facebook Hilangkan ”Pseudoscience” dari Target Iklan

- Editor

Senin, 27 April 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dengan memungkinkan audiens ”pseudoscience” menjadi opsi target iklan, Facebook seakan mengakomodasi konten-konten yang dipertanyakan kredibilitas ilmiahnya. Sejak Jumat (24/4/2020) Facebook mencabut kategori tersebut.

FACEBOOK–CEO Facebook Mark Zuckerberg dalam Facebook Communities Summit 2019. Sejak awal 2019, Facebook, Google, LinkedIn, Microsoft, Reddit, Twitter, dan YouTube mengeluarkan pernyataan akan bekerja sama melawan penyebaran misinformasi Covid-19.

Sebagai platform media sosial terbesar di dunia, Facebook juga menjadi salah satu yang paling awal berkomitmen untuk mendukung upaya penanggulangan Covid-19 dengan cara membatasi peredaran konten yang berisi misinformasi dan hoaks.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan Covid-19 sebagai pandemi global, pada 30 Januari 2020 raksasa teknologi yang dipimpin Mark Zuckerberg itu langsung merilis pernyataan bahwa akan menurunkan konten yang berisi teori konspirasi tidak berdasar dan membahayakan kesehatan.

Namun, ternyata pada saat bersamaan dan baru hingga akhir-akhir ini, Facebook masih memperbolehkan pemasang iklan menarget pengguna yang dikategorikan sebagai penyuka pseudoscience alias sains palsu.

Seperti yang diketahui, dengan mengolah berbagai data pribadi hingga ketertarikan, hobi, dan informasi lainnya dari 2 miliar pengguna rutinnya, Facebook memungkinkan seorang pemasang iklan mengirimkan iklan secara lebih spesifik dibandingkan media konvensional.

Dengan memungkinkan audiens pseudoscience menjadi opsi target iklan, Facebook seakan tetap mengakomodasi konten-konten yang dipertanyakan kredibilitas ilmiahnya.

THE MARKUP—Kategori pseudoscience sebagai salah satu kategori target yang dapat dipilih saat merancang iklan di Facebook.

Kini Facebook mencabut kategori ini sejak akhir pekan lalu, Jumat (24/4/2020) menyusul sebuah investigasi yang dilakukan oleh The Markup, media investigatif nonprofit.

The Markup menemukan bahwa pseudoscience menjadi opsi dalam kolom detailed targeting saat merancang sistem penyebaran iklan dalam fitur Facebook Ads Manager. Facebook dinilai memanfaatkan kelemahan orang-orang yang menyukai pseudoscience dan teori konspirasi untuk memercayai konten-konten tidak kredibel lainnya.

”Orang yang suka teori konspirasi biasanya mudah dipengaruhi untuk memercayai teori konspirasi lainnya,” kata Kate Starbird, pakar informatika University of Washington, AS.

Director of Product Management Facebook Rob Leathern mengonfirmasi pencabutan kategori pseudoscience sebagai opsi audiens. ”Kategori iklan ini seharusnya sudah kami hilangkan dalam sebuah evaluasi sebelumnya. Kini kami cabut,” kata Leathern kepada Techcrunch.

Kompas pun memastikan pada Minggu (26/4/2020) sudah tidak ada kategori pseudoscience dalam kolom pilihan kategori saat merancang target iklan yang dirancang.

Kategori dengan sejumlah kata kunci, seperti conspiracy theory, pun tidak muncul ketika diketikkan di kotak pencari. Coronavirus juga tidak bisa dipilih sebagai kategori.

KOMPAS/SATRIO PANGARSO WISANGGENI—Seorang calon pemasang iklan di Facebook dapat menarget secara spesifik audiens yang ingin diraihnya melalui Facebook Ads Manager, seperti yang terlihat saat diakses pada Minggu (26/4/2020) sore.

Dorongan kepada platform media sosial untuk menekan peredaran konten hoaks semakin membesar di tengah pandemi Covid-19. Infodemics, atau membanjirnya informasi mengenai Covid-19—baik yang benar maupun salah—menjadi salah satu fenomena yang dikhawatirkan mengganggu upaya global menanggulangi pandemi ini.

Terlebih lagi, sejumlah klaim yang tidak berdasar kini tidak disebarkan hanya oleh pengguna biasa, tetapi juga disampaikan oleh pejabat negara. Contoh terbaru adalah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa penyuntikan disinfektan dapat menghilangkan virus dari dalam tubuh.

Bukan pertama kali
Ini bukan kali pertama Facebook diketahui mengakomodasi calon pemasang iklan untuk menarget audiens dengan ketertarikan yang dapat dipertanyakan.

Pada Februari 2019, The Guardian melaporkan bahwa seorang pemasang iklan dapat menargetkan material promosinya kepada audiens yang dikategorikan tertarik terhadap ”kontroversi vaksin”.

Padahal, dunia kesehatan telah mencapai kesimpulan ilmiah bahwa vaksin adalah hal yang penting untuk melindungi kesehatan individu dan kolektif dari penyakit menular.

Pada 2017, investigasi Propublica menunjukkan bahwa seorang pemasang iklan dapat mengeksploitasi sentimen anti-Semitisme atau anti-Yahudi untuk menyebarkan iklannya secara terarah. Saat itu, pemasang iklan bisa menargetkan pemasaran kepada kategori jew hater atau pembenci Yahudi.

Pasca-dua temuan tersebut, Facebook langsung mengambil respons untuk menghilangkan opsi pilihan yang bermasalah tersebut.

Oleh SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Editor: KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 26 April 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 0 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB