Home / Artikel / Catatan Iptek; Solidaritas untuk ALS

Catatan Iptek; Solidaritas untuk ALS

Lupakan para politisi busuk yang tengah berkonspirasi mengkhianati amanat rakyat. Di tengah huru-hara politik oleh orang-orang yang tidak belajar menerima kekalahan, di dunia justru tengah bangkit solidaritas untuk menggalang kewaspadaan menghadapi ALS, amyotrophic lateral sclerosis.

ALS adalah penyakit penurunan kemampuan saraf yang berlangsung progresif. Penyakit ini menyerang sel-sel saraf yang disebut neuron motorik sebagai sel pengantar impuls. Neuron mengirimkan sinyal dari otak ke sumsum tulang belakang dan kemudian mendistribusikan ke jaringan otot di seluruh tubuh.

Semua otot gerak yang dikendalikan otak terkena dampaknya. Tidak hanya tubuh menjadi lumpuh, tetapi penderitanya juga susah menelan, kehilangan suara, dan bahkan kesulitan bernapas. Mereka yang terkena biasanya sangat menderita karena seluruh aktivitas berhenti total, sementara pikiran tetap sehat.

Penderita ALS paling populer adalah Stephen Hawking. Terserang ALS pada usia 21 tahun, ia bangkit menjadi fisikawan kelas dunia dengan gagasan teori-teori semesta yang menggemparkan. Hawking, lahir 8 Januari 1942 di Oxford, Inggris, mengajak manusia berkelana pikir memahami lubang hitam dan kosmologi kuantum. Buku pertamanya, A Brief History of Time, terjual lebih dari 10.000.000 eksemplar.

Namun, lebih banyak lagi masyarakat biasa yang terkena. Media 69 News mencontohkan penderitaan Ruth Lichtenwalner yang terkena ALS sejak 2005. Terbaring di tempat tidur, makanan harus dimasukkan lewat selang. Komunikasi yang terhambat membuat penderitanya emosional karena sering salah paham.

Menurut Robert Packard Center untuk ALS di John Hopkins University, AS, prevalensi ALS mencapai 2 kasus per 100.000 orang setiap tahun, tanpa membedakan suku, ras, dan kelas sosial. Dengan usia yang terkena 40-75 tahun—umumnya 60 tahun, tetapi kadang usia muda seperti Hawking—ALS mengancam produktivitas dan menjadi beban kesehatan masyarakat.

Data selanjutnya menunjukkan, 50 persen pasien bertahan hidup hingga dua tahun setelah diagnosis, 20 persen bertahan hidup hingga lima tahun, dan 10 persen bertahan hidup hingga lebih dari 10 tahun. Meski sampai sekarang belum diketahui pasti penyebab dan obatnya, penelitian menunjukkan perbaikan nutrisi dan teknik pernapasan bisa meningkatkan daya tahan.

Adalah ALS Association yang berada di balik penggalangan solidaritas ini. Dengan cara sederhana, mengguyur diri dengan seember air es, ALS Association telah membangkitkan kewaspadaan dan mengumpulkan dana dalam jumlah besar.

Berawal pertengahan Juli 2014, ice bucket challenge yang semula dilakukan orang-orang yang terkena dampak ALS tiba-tiba menggelinding seperti bola salju serta melibatkan para selebritas dan orang-orang berpengaruh dunia.

Dari Luna Maya hingga Victoria Beckham. Dari petenis Ana Ivanovic hingga Roger Federer. Dari pesepak bola Cristiano Ronaldo hingga Lionel Messi. Dari CEO Yahoo Marissa Mayer hingga bos Microsoft Bill Gates. Bahkan, telepon pintar Galaxy S5 ikut-ikutan menantang iPhone 5S.

Kuncinya adalah kemampuan memanfaatkan media sosial dengan meminta para penerima tantangan memvideokan aksinya dan menyebarluaskan lewat Youtube dengan hashtag #icebucketchallenge, #alsicebucketchallenge, dan #strikeoutals. Tantangan yang kemudian disertai donasi ini berhasil mengumpulkan dana 113,3 juta dollar AS per 15 September 2014.

Maka, sungguh mengherankan melihat elite yang justru sibuk mencari jurus-jurus demi menguntungkan diri sendiri dan kelompoknya. Kapan memikirkan kesejahteraan rakyat, sementara dunia sudah bergerak menuju solidaritas global?

Oleh: Agnes aristiarini

Sumber: Kompas, 17 September 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: