Catatan Iptek; Lembah ”Uncanny”

- Editor

Rabu, 28 Mei 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KETIKA ilmu pengetahuan semakin luas dan teknologi penciptaan robot semakin berkembang, akankah mereka mengancam martabat dan kemanusiaan kita?
Dalam film Star Wars yang legendaris, robot R2-D2 yang ahli mekanik dan C-3PO yang ahli budaya—menguasai lebih dari enam juta bentuk komunikasi, etik, dan adat istiadat seluruh galaksi—berperan besar memenangi pertempuran para ksatria Jedi melawan Darth Vader dan pasukannya.

Kehadiran R2-D2 dan C-3PO tidak hanya membantu kebenaran melawan kejahatan, tetapi juga menghibur dengan segala kekonyolannya. Dalam dunia nyata, kemajuan teknologi robot yang semakin mirip dengan manusia justru mengundang banyak tanya dan kekhawatiran.

Fenomena ketidaknyamanan
Masahiro Mori, pakar robot yang disegani dari Jepang, sudah mengenali fenomena itu sejak 1970-an. Ia menyebutnya sebagai fenomena uncanny valley atau lembah aneh yang membuat perasaan tidak nyaman. Pendek kata: seram.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perasaan itu biasanya muncul ketika manusia berhadapan dengan Android alias robot humanoid yang dalam banyak hal bertindak dan berwujud mirip manusia (California Institute for Telecommunications and Information Technology dalam Encounters with The Thing That Should Not Be, 2011).

”Robot akan lebih mudah diterima publik jika tidak terlalu menyerupai manusia,” kata Ayse Pinar Saygin dari University of California, San Diego, AS, yang meneliti fenomena ini.

Bersama timnya, Saygin menguji reaksi 20 subyek berusia 20-36 tahun pada manusia, robot, dan robot humanoid yang dibuat mirip manusia. Hasilnya, manusia ternyata tidak takut jika obyek yang dilihatnya adalah manusia dan bertindak seperti manusia atau obyek seperti robot dan bertindak sebagaimana robot. Masalah baru muncul jika obyek hanya mirip-mirip manusia dan bertindak meniru manusia.

spouseTidaklah mengherankan jika masyarakat menyambut baik R2-D2, C-3PO, maupun Asimof karena penampilannya memang masih sangat ”robot”. Namun, begitu berhadapan dengan humanoid terbaru Jepang, Q2, yang perancangannya menggunakan model manusia, muncullah fenomena uncanny valley (Your Brain on Android, UCSD News, 2011).
Pijakan ke depan

Penelitian ini penting karena akan menjadi pijakan pengembangan robot ke depan. Saygin bahkan menyarankan dilakukannya uji uncanny valley sebelum memutuskan untuk investasi dalam industri robot.

Meskipun demikian, telaah terbaru menyebutkan bahwa fenomena uncanny valley muncul jika bentuk robot mirip manusia, tetapi bergerak tidak alamiah sehingga orang mempersepsikannya sebagai tidak normal atau sakit. Penjelasan ini kurang lebih sama dengan fenomena kemunculan perasaan jijik saat orang melihat kotoran atau daging yang membusuk.

Maka dalam dunia robotik yang berkembang luar biasa, para ahli kini justru bersaing merancang membangun robot humanoid yang tidak bisa dibedakan lagi dengan manusia yang sesungguhnya. Itulah yang terjadi ketika Peter Kahn mengunjungi Laboratorium Humanoid Karl MacDorman’s di Indiana University. Dalam Robots: Is the Uncanny Valley Real (BBC News, 2013), Rose Eveleth menulis bahwa Kahn meminta izin istrinya sebelum menyentuh robot humanoid Jepang yang cantik mungil dalam balutan blazer merah jambu.

Ke depan, bisa jadi muncul uncanny valley ketika melihat orang jatuh cinta dan hidup berpasangan dengan robot. Inikah ancaman kemanusiaan yang sesungguhnya? Waktu yang menjawabnya.

Oleh: Agnes Aristiarini

Sumber: Kompas, 28 Mei 2014

Informasi terkait

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Berita ini 32 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Senin, 27 Juli 2026 - 18:53 WIB

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Berita Terbaru

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB

Artikel

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Senin, 27 Jul 2026 - 18:53 WIB

Berita

Terkubur untuk Hidup

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:20 WIB

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB