Home / Artikel / Catatan Iptek; Kisruh UPS

Catatan Iptek; Kisruh UPS

Ribut-ribut dana siluman dalam anggaran DKI Jakarta, adakah distributor penjual perangkat penyulang daya sementara—dikenal dengan uninterruptible power supply—seharga Rp 6 miliar?

Kalau ingin memesan rancangan khusus sistem UPS seharga itu, tentu bukanlah hal mustahil. Namun, apa urgensinya UPS buat sekolah menengah?

Perangkat penyokong daya ini dibutuhkan hanya sekitar 15 menit, yaitu saat pemasok utama dari PLN terputus mendadak. Dengan kecepatan sepersekian detik, daya PLN yang mati segera tergantikan oleh daya dari UPS.

Hanya rangkaian elektronis yang mampu menyulang secepat itu. Daya cadangan seperti generator listrik masih membutuhkan hitungan waktu menitan untuk mencapai kondisi stabil, dengan tegangan dan frekuensi sama dengan listrik PLN. Itulah fungsi krusial pada UPS: dalam waktu singkat memberi kesempatan menyelamatkan data atau menghidupkan genset cadangan.

Sungguh sulit membayangkan pemenuhan kebutuhan sekolah dengan UPS Rp 6 miliar. Padahal, dengan dana Rp 150 juta, sudah bisa didapatkan UPS 30 kVA. Artinya, gedung sekolah itu memiliki daya listrik sedikitnya 30 kVA atau sekitar 27.000 watt, yang dengan daya setengahnya saja sekolah sudah bisa menghidupi 100 komputer meja.

Jelas tidak ada tuntutan kebutuhan listrik tanpa putus selama 24 jam, apalagi sebagian besar aktivitas berlangsung pagi sampai sore. Sangat berbeda dengan kepentingan lembaga terkait pusat data, seperti bank, bandara, mal, pabrik, atau rumah sakit.

Semakin ironis, harga komputer sekolah pasti jauh lebih murah dari harga UPS. Padahal, para siswa belajar menguasai pemakaian komputer, bukan penggunaan UPS yang relatif sederhana. Sesekali kehilangan hasil pekerjaan juga bukan sesuatu yang buruk. Maka, pengadaan perangkat pendukung yang super mahal itu, kalau benar ada, adalah sikap konsumtif yang amat berlebihan.

”Kenapa tak memilih panel surya kalau prinsipnya menyediakan daya tanpa putus. Dengan anggaran Rp 5,7 miliar–Rp 5,8 miliar, tiap sekolah bisa mendapat listrik tenaga surya berkapasitas 400.000 watt. Daya ini sudah berlebihan dan sisanya bisa dijual ke PLN,” kata Bambang Sumaryo Hadi, praktisi sel surya.

Prinsip dasar kerja, baik UPS maupun panel surya yang tegangannya diubah menjadi bolak-balik PLN sebenarnya sangat mirip. Pada keduanya terdapat inverter, yaitu rangkaian elektronik yang berfungsi mengubah arus searah (DC) menjadi bolak-balik (AC) sinusoidal, seperti sifat gelombang listrik PLN.

Saat ini, Bambang Sumaryo telah berhasil membangun sel surya di rumahnya sebesar 6.300 VA atau sekitar 6.000 watt dengan biaya Rp 100 juta. ”Uang total Rp 12,1 triliun ini bisa membuat 1 GW panel surya dan melistriki 200.000 rumah dengan kapasitas masing-masing 5.000 VA. Bayangkan, saat ini rumah dengan listrik 2.300 VA sudah besar,” katanya.

Teknologi inverter pada panel surya juga sudah sangat maju, selain mampu menghasilkan gelombang listrik pure sine, juga bisa sinkron dengan gelombang sinus pada listrik PLN. Dengan kondisi ini, listrik dari panel bisa disubstitusikan ke jaringan PLN. Melalui meteran khusus ekspor-impor yang dikeluarkan PLN, bisa diketahui jumlah aliran arusnya.

Dengan panel sel surya, apalagi aktivitas umumnya saat Matahari bersinar, sekolah bisa lebih produktif. Di Jakarta, dengan kondisi listrik PLN relatif stabil, listrik PLN cukup menjadi cadangan, terutama malam hari. Untuk memanfaatkan listrik panel surya saat malam, gunakan saja storage seperti aki. Aki besar berkapasitas 100 Ah (Ampere-jam) bisa menyimpan daya 100 watt selama 12 jam dan jika ingin daya lebih besar, tinggal mengalikan.

Jadi, apa perlunya UPS di sekolah menengah? Silakan menyimpulkan.

AW Subarkah
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Maret 2015, di halaman 14 dengan judul “Kisruh UPS”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: