Catatan Iptek; Kisruh UPS

- Editor

Rabu, 18 Maret 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ribut-ribut dana siluman dalam anggaran DKI Jakarta, adakah distributor penjual perangkat penyulang daya sementara—dikenal dengan uninterruptible power supply—seharga Rp 6 miliar?

Kalau ingin memesan rancangan khusus sistem UPS seharga itu, tentu bukanlah hal mustahil. Namun, apa urgensinya UPS buat sekolah menengah?

Perangkat penyokong daya ini dibutuhkan hanya sekitar 15 menit, yaitu saat pemasok utama dari PLN terputus mendadak. Dengan kecepatan sepersekian detik, daya PLN yang mati segera tergantikan oleh daya dari UPS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hanya rangkaian elektronis yang mampu menyulang secepat itu. Daya cadangan seperti generator listrik masih membutuhkan hitungan waktu menitan untuk mencapai kondisi stabil, dengan tegangan dan frekuensi sama dengan listrik PLN. Itulah fungsi krusial pada UPS: dalam waktu singkat memberi kesempatan menyelamatkan data atau menghidupkan genset cadangan.

Sungguh sulit membayangkan pemenuhan kebutuhan sekolah dengan UPS Rp 6 miliar. Padahal, dengan dana Rp 150 juta, sudah bisa didapatkan UPS 30 kVA. Artinya, gedung sekolah itu memiliki daya listrik sedikitnya 30 kVA atau sekitar 27.000 watt, yang dengan daya setengahnya saja sekolah sudah bisa menghidupi 100 komputer meja.

Jelas tidak ada tuntutan kebutuhan listrik tanpa putus selama 24 jam, apalagi sebagian besar aktivitas berlangsung pagi sampai sore. Sangat berbeda dengan kepentingan lembaga terkait pusat data, seperti bank, bandara, mal, pabrik, atau rumah sakit.

Semakin ironis, harga komputer sekolah pasti jauh lebih murah dari harga UPS. Padahal, para siswa belajar menguasai pemakaian komputer, bukan penggunaan UPS yang relatif sederhana. Sesekali kehilangan hasil pekerjaan juga bukan sesuatu yang buruk. Maka, pengadaan perangkat pendukung yang super mahal itu, kalau benar ada, adalah sikap konsumtif yang amat berlebihan.

”Kenapa tak memilih panel surya kalau prinsipnya menyediakan daya tanpa putus. Dengan anggaran Rp 5,7 miliar–Rp 5,8 miliar, tiap sekolah bisa mendapat listrik tenaga surya berkapasitas 400.000 watt. Daya ini sudah berlebihan dan sisanya bisa dijual ke PLN,” kata Bambang Sumaryo Hadi, praktisi sel surya.

Prinsip dasar kerja, baik UPS maupun panel surya yang tegangannya diubah menjadi bolak-balik PLN sebenarnya sangat mirip. Pada keduanya terdapat inverter, yaitu rangkaian elektronik yang berfungsi mengubah arus searah (DC) menjadi bolak-balik (AC) sinusoidal, seperti sifat gelombang listrik PLN.

Saat ini, Bambang Sumaryo telah berhasil membangun sel surya di rumahnya sebesar 6.300 VA atau sekitar 6.000 watt dengan biaya Rp 100 juta. ”Uang total Rp 12,1 triliun ini bisa membuat 1 GW panel surya dan melistriki 200.000 rumah dengan kapasitas masing-masing 5.000 VA. Bayangkan, saat ini rumah dengan listrik 2.300 VA sudah besar,” katanya.

Teknologi inverter pada panel surya juga sudah sangat maju, selain mampu menghasilkan gelombang listrik pure sine, juga bisa sinkron dengan gelombang sinus pada listrik PLN. Dengan kondisi ini, listrik dari panel bisa disubstitusikan ke jaringan PLN. Melalui meteran khusus ekspor-impor yang dikeluarkan PLN, bisa diketahui jumlah aliran arusnya.

Dengan panel sel surya, apalagi aktivitas umumnya saat Matahari bersinar, sekolah bisa lebih produktif. Di Jakarta, dengan kondisi listrik PLN relatif stabil, listrik PLN cukup menjadi cadangan, terutama malam hari. Untuk memanfaatkan listrik panel surya saat malam, gunakan saja storage seperti aki. Aki besar berkapasitas 100 Ah (Ampere-jam) bisa menyimpan daya 100 watt selama 12 jam dan jika ingin daya lebih besar, tinggal mengalikan.

Jadi, apa perlunya UPS di sekolah menengah? Silakan menyimpulkan.

AW Subarkah
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Maret 2015, di halaman 14 dengan judul “Kisruh UPS”.

Informasi terkait

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 28 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:27 WIB

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:40 WIB

Memahami Manusia dari Dua Jalan

Berita Terbaru

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB

Artikel

Memahami Manusia dari Dua Jalan

Selasa, 16 Jun 2026 - 20:40 WIB