Capung, Serangga Penting nan Minim Riset

- Editor

Senin, 14 September 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Capung hingga di atas dahan kering di kolam Taman Piknik di Jalan Manunggal II, Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Minggu (7/7/2019). Taman Piknik seluas 1,4 hektar dilengkapi kolam resapan, taman bermain anak, tempat duduk dan toilet. Taman tersebut kini menjadi alternatif bagi warga sekitar utuk menikmati udara segar di ruang terbuka. Pencapaian target ruang terbuka hijau seluas 30 persen dari luas wilayah Jakarta bisa jadi sulit terwujud mengingat lahan yang terbatas. Aneka inovasi dibutuhkan untuk menambah luasan RTH. Berdasarkan Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030, Jakarta menargetkan total luas ruang terbuka hijau mencapai 30 persen dari luas wilayah DKI pada tahun 2030. Namun, Dinas Kehutanan DKI menilai angka tersebut tidak realistis. Dengan luas Provinsi DKI 64.457 hektar, luas RTH pada tahun 2030 semestinya sekitar 19.337,15 hektar.
Adapun 1 persen dari luas total wilayah DKI adalah lebih kurang 650 hektar atau setara delapan taman Monas yang seluas 80 hektar.


Kompas/AGUS SUSANTO (AGS)
7-7-2019

Capung hingga di atas dahan kering di kolam Taman Piknik di Jalan Manunggal II, Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Minggu (7/7/2019). Taman Piknik seluas 1,4 hektar dilengkapi kolam resapan, taman bermain anak, tempat duduk dan toilet. Taman tersebut kini menjadi alternatif bagi warga sekitar utuk menikmati udara segar di ruang terbuka. Pencapaian target ruang terbuka hijau seluas 30 persen dari luas wilayah Jakarta bisa jadi sulit terwujud mengingat lahan yang terbatas. Aneka inovasi dibutuhkan untuk menambah luasan RTH. Berdasarkan Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030, Jakarta menargetkan total luas ruang terbuka hijau mencapai 30 persen dari luas wilayah DKI pada tahun 2030. Namun, Dinas Kehutanan DKI menilai angka tersebut tidak realistis. Dengan luas Provinsi DKI 64.457 hektar, luas RTH pada tahun 2030 semestinya sekitar 19.337,15 hektar. Adapun 1 persen dari luas total wilayah DKI adalah lebih kurang 650 hektar atau setara delapan taman Monas yang seluas 80 hektar. Kompas/AGUS SUSANTO (AGS) 7-7-2019

Meski capung dekat dengan kehidupan masyarakat, berjasa terhadap lingkungan, dan memiliki jenis yang beragam, riset dan sumber informasi capung masih sedikit di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/AGUS SUSANTO—Capung hinggap di atas dahan kering di kolam Taman Piknik di Jalan Manunggal II, Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Minggu (7/7/2019).

Capung memiliki manfaat, keanekaragaman, dan sumber inspirasi bagi masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia. Namun, sampai saat ini riset, kajian, buku, ataupun informasi terkait capung di Indonesia masih sedikit. Oleh karena itu, riset hingga pengumpulan informasi capung perlu ditingkatkan agar satwa jenis serangga ini terjaga kelestariannya.

Ketua Indonesia Dragonfly Society (IDS) Wahyu Sigit Rahadi dalam diskusi daring bertajuk ”Melindungi Satwa Menjaga Ekosistem”, Sabtu (12/9/2020), menyampaikan, capung sangat dekat dengan kehidupan masyarakat karena mudah dijumpai di sejumlah habitat, seperti sawah, sungai, parit, hutan, danau, rawa, dan kubangan.

Kedekatan capung dengan masyarakat ditunjukkan dari banyaknya sebutan lokal untuk serangga ini, seperti kinjeng, papatong, kasasiur, ponda, dudhug, andarinyo, kotrik, dan semprang. Masyarakat juga kerap mengaitkan capung dengan mitologi, legenda, cerita, lagu, atau teman permainan. Bahkan, capung sering menjadi sumber inspirasi untuk pengembangan teknologi, seni budaya, dan pendidikan.

Menurut Wahyu, capung juga memiliki jasa bagi lingkungan khususnya ekosistem pertanian sebagai pengendali alami serangga hama yang merusak tanaman. Sebagai hewan karnivora, capung membantu menjaga produktivitas tanaman dengan cara memakan serangga hama tersebut.

Namun, keberadaan capung untuk menjalankan fungsi ekosistemnya ini terancam oleh penggunaan bahan kimia berlebihan yang membuat perairan sawah tercemar. Padahal, untuk menjaga kelangsungan hidupnya, capung memerlukan habitat berupa perairan sawah yang baik dan sehat.

”Untuk ekosistem urban, capung sangat efektif untuk pengendalian nyamuk atau lalat. Persoalannya, di masyarakat urban, limbah rumah tangga luar biasa tidak terkendali, apalagi dunia industri turut memberi ancaman untuk kesehatan perairan dan buruknya kualitas udara akibat kendaraan bermotor,” ungkapnya.

KOMPAS/SUCIPTO—Capung hinggap di antara kangkung yang ditanam oleh kelompok tani Bumi Subur di Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Balikpapan Utara, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (25/5/2019).

Selain itu, capung dewasa juga dapat menjadi salah satu aspek pemantauan kualitas lingkungan suatu kawasan, seperti perairan air tawar, hutan, dan lanskap. Hal ini karena ada banyak spesies capung yang hanya akan tinggal di daerah dengan vegetasi tumbuhan cukup lengkap dan berkanopi serta memiliki intensitas cahaya rendah. Capung juga akan pergi ketika habitat alaminya mengalami perubahan atau kerusakan.

Dari aspek keanekaragaman, Wahyu menyatakan, saat ini terdapat 5.000-6.000 jenis capung yang ada di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, lebih kurang 1.125 jenis capung terdapat di Indonesia atau sekitar 20 persen dari total jenis yang ada di dunia.

Minim riset
Meski dekat dengan kehidupan masyarakat, berjasa terhadap lingkungan, dan memiliki jenis yang beragam, riset dan sumber informasi capung masih sedikit di Indonesia. Dari catatan IDS, hanya ada 13 buku tentang capung yang terdiri dari enam buku karya orang asing dan tujuh buku karya orang Indonesia.

Publikasi ilmiah tentang capung juga hanya terdapat 20 hingga 25 kajian. Ahli atau peneliti capung Indonesia tercatat hanya ada enam orang, yang semuanya berasal dari luar negeri. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada peneliti atau penulis yang menerbitkan buku panduan tentang identifikasi capung Indonesia.

—-Kiri-kanan: Capung jemur bercak hitam (Urothemis signata), capung sayap oranye (Brachythemis contaminata), capung tombal loreng (Ictinogomphus decoratus).

”Ketika ditanya berapa jumlah data capung di Indonesia, saya tidak bisa jawab karena memang belum ada data yang bisa menampilkan secara valid tentang keragaman capung di Indonesia. Walaupun sebenarnya kami sedang bekerja untuk mengumpulkan data dari penelitian atau referensi lama tentang capung di Indonesia,” tutur Wahyu.

Sekretaris Program Studi Magister Biologi Universitas Nasional Fitriah Basalamah mengatakan, sulitnya menjumpai capung di lingkungan sekitar menjadi pertanda bahwa saat ini telah terjadi kerusakan lingkungan. Beberapa jenis capung semakin terancam karena adanya perburuan dan perdagangan untuk para kolektor serangga.

”Siklus hidup capung sangat tergantung pada kondisi perairan. Kita bisa memprediksi, mungkin ke depan perairan kita semakin terganggu. Di tambah lagi intensnya penggunaan antiseptik di masa pandemi yang mungkin berdampak pada keadaan satwa ini,” ujarnya.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 12 September 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 7 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB