Home / Berita / Cacing, Gempa, dan Tragedi L’Aquila

Cacing, Gempa, dan Tragedi L’Aquila

Beberapa hari terakhir, masyarakat di Yogyakarta, terutama di Bantul, dikejutkan banyaknya cacing keluar lemas dari dalam tanah. Kabar itu menyebar cepat di media sosial dan media daring. Apalagi, fenomena itu lalu dihubungkan dengan datangnya gempa besar. Apakah cacing bisa “meramalkan” itu?


Gempa bumi bisa sangat menghancurkan seperti di Nepal atau Yogyakarta. Kejadiannya yang tiba-tiba dengan sumber misterius mencipta banyak imajinasi. Hampir setiap bangsa, terutama di zona gempa, punya mitologi sosok “supernatural” yang diam di dasar bumi. Bangsa Manchu, Mongol, dan Turki punya binatang mitologis ikan, katak, kura-kura, kerbau, hingga mammoth yang menyangga Bumi, yang ketika bergerak memicu gempa (Tributsch, 1982).

Kepercayaan itu pun subur di Nusantara, misalnya masyarakat Toba dengan kepercayaan “naga padoha” pemicu gempa. Masyarakat pantai barat Sumatera punya “lembu raksasa” yang jika bergerak memicu gempa, seperti dituturkan Muhammad Radjab (1913-1928) dan manuskrip Takwil Gempa dari abad ke-18 dan ke-19 di Pariaman, Aceh.

Di Jepang, hewan penyebab gempa adalah lele raksasa atau namazu. Shogun Hideshi Toyotomi (1573-1582) pernah memerintahkan perburuan ikan lele setelah istananya hancur karena gempa 1596.

Motoji Ikeya, profesor Fisika dari Osaka University (2004), menyebut, namazu punya akar ilmiah. “Berabad-abad, masyarakat di berbagai tempat membangun cerita perilaku binatang yang aneh sebelum gempa,” katanya. “Namun, tidak menarik minat penelitian ilmiah.”

Hingga Agustus 1971, State Seismological Bureau of China mempelajari perilaku binatang untuk prediksi gempa. Empat tahun kemudian, mereka sukses mengevakuasi warga Kota Haicheng beberapa jam sebelum gempa (M 7,3), 4 Februari 1975. Sebanyak 1.400 orang tewas, tetapi 100.000 orang selamat. Laporan menyebutkan, beberapa hari sebelum gempa, cacing tanah muncul sangat banyak ke permukaan (Ikeya, 2004).

Namun, setahun kemudian, Tiongkok gagal memprediksi gempa Tangshan (M 8,2) yang menewaskan 240.000 orang. Sepanjang 1996 dan 1999, Tiongkok mengumumkan 30 prediksi gempa dan semuanya gagal. Setelah kegagalan demi kegagalan ini, prediksi gempa berdasarkan perilaku binatang terpinggirkan.

82044e7a297849eabead96893f03782aAnak-anak memperhatikan alat peraga rumah tahan gempa di Museum Gempa Prof Sarwidi di kawasan wisata Kaliurang, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (31/5). Gempa sebenarnya tidak membunuh, kualitas bangunan yang buruk menjadi bencana. Hingga kini, akurasi prediksi gempa masih menjadi perdebatan, termasuk kemunculan cacing massal di kawasan Bantul yang ramai diberitakan.–KOMPAS/AHMAD ARIF

Sekalipun begitu, upaya prediksi gempa tak padam. Giampaolo Giuliani, teknisi laboratorium di National Physical Laboratory of Gran Sasso yakin, gas radioaktif, radon (Rn), yang sangat sensitif oleh perubahan, bisa memprediksi gempa.

Prediksi gempa bumi
L’Aquila, kota pegunungan di wilayah Abruzzo, Italia tengah, awal 2009 itu diguncang ratusan gempa kecil ketika Giuliani menemukan sebaran radiasi radon. Ia simpulkan, bakal gempa besar dan mengumumkan lewat pengeras suara dan internet (The Guardian.com, 2009).

Karena prediksi Giuliani, Departemen Perlindungan Sipil Italia memanggil sekelompok ahli gempa dan meminta mengkaji risiko dan memberi klarifikasi ke publik. Tujuh ilmuwan menyimpulkan prediksi Giulani tak bisa dipertanggungjawabkan. Kepala Italy’s National Geophysics Institute Enzo Boschi menyatakan, Giulani keliru.

Giulani dilarang bicara ke publik. Namun, ia tetap melanjutkan riset. Pada 5 April 2009, ia menemukan lonjakan emisi gas radon di tanah di keempat stasiunnya. Simpulannya, dalam 24 jam akan ada gempa besar. Giulani menghubungi kerabat dan membuka pintu rumahnya agar bisa keluar jika gempa. Benar, 6 April 2009, gempa 5,9 skala Richter atau Mw 6,3 mengguncang L’Aquila. Giulani dan keluarga selamat, 300 warga tewas.

Warga yang marah menuntut tujuh ilmuwan terkemuka Italia. Tahun 2012, mereka dinyatakan bersalah dan dipenjara enam tahun. Pada tahun 2014 mereka dibebaskan.

Sejak tragedi L’Aquila, popularitas radon sebagai detektor gempa diperhitungkan meski banyak yang mempersoalkan akurasinya. Jepang memilih membangun peringatan dini melalui deteksi gelombang-P (preliminary tremor) dan gelombang-S (strong tremor) yang merusak.

Cacing Yogyakarta
Drama dari L’Aquila berlanjut. Tahun 2010, Rachel Grant dari Open University memublikasikan temuannya di Journal of Zoology Volume 281, Agustus 2010. Tiga hari sebelum gempa L’Aquila, koloni kodok di lokasi penelitiannya, 74 kilometer dari episentrum gempa, menghilang, dan baru kembali 10 hari setelah gempa susulan berhenti.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah cacing di Yogyakarta terkait gempa? Susah menjawab.

Ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, mengatakan, belum ada alat memprediksi gempa. Binatang dikenal sensitif pada perubahan alam, tetapi apakah bisa jadi prekursor kemunculan gempa masih diperdebatkan.

Geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Eko Yulianto, mengatakan, kemunculan cacing tanah di Bantul tak bisa diabaikan. “Ada catatan, sebelum gempa Pangandaran, beberapa ahli ITB membuat pernyataan gempa tak mungkin di sana. Yang terjadi sebaliknya,” katanya.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, akhir-akhir ini Yogyakarta kerap diguncang gempa meski skalanya kecil. Sebulan terakhir Yogyakarta diguncang tiga kali gempa. “Wajar jika ada yang mengaitkan cacing ini dengan gempa,” ujarnya.

Sejumlah gempa bumi merusak di dunia di antaranya memang diawali kemunculan cacing massal, seperti di Haicheng. Di Taiwan, kemunculan cacing dilaporkan 10 hari menjelang gempa Chi Chi 1999 (Allen dkk, 2000). Beberapa sumber lain yang mengungkap kemunculan cacing menjelang gempa adalah Chen dkk (2000), Rikitake (1979), Whitehead dan Ulusoy (2013), serta Liso dan Fidani (2014).

Mengutip Grant dan Conlan (2015), kata Daryono, kemunculan cacing massal bisa menandai anomali gelombang elektromagnetik frekuensi rendah beberapa hari sebelum gempa. Namun, kemunculan cacing itu selalu didukung data perilaku binatang lain yang tak lazim, seperti kemunculan ular, anjing yang menggonggong bersahutan, hingga ikan melompat-lompat di kolam, dan perilaku lain.

“Munculnya cacing di beberapa tempat di daerah Bantul belum dapat dikatakan petunjuk akan ada gempa bumi. Ini karena fenomena ini berdiri sendiri tanpa didukung data anomali lainnya,” katanya.

Prediksi gempa memang masih diperdebatkan akurasinya. Namun, kita tak boleh menutup mata pada gejala alam. Lebih penting selalu bersiap menghadapi bahaya mengingat Indonesia di zona merah gempa bumi.– AHMAD ARIF
———
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juni 2015, di halaman 14 dengan judul “Cacing, Gempa, dan Tragedi L’Aquila”.

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: