Home / Berita / Astronomi / Bulan Membesar dan Lebih Cerah di Awal Tahun 2018

Bulan Membesar dan Lebih Cerah di Awal Tahun 2018

Awal pergantian tahun 2018, bulan lebih terang dan lebih cerah. Fenomena populer disebut supermoon alias bulan super kembali terjadi, Selasa (2/1). Meski muncul kekhawatiran, peristiwa astronomi biasa itu tak akan memberi dampak berarti bagi bumi.

Bulan super adalah bulan purnama penuh saat Bulan mendekati titik terdekatnya dengan Bumi (perigee). Jarak terdekat Bulan ke Bumi muncul karena lintasan Bulan mengelilingi Bumi berbentuk elips.

Puncak bulan purnama super pada Selasa (2/1) terjadi pukul 09.24 atau pagi hari di seluruh wilayah Indonesia. Sementara Bulan berada di perigee pada pukul 04.48 pada jarak 356.565 kilometer.

Kondisi itu membuat puncak bulan super tak bisa diamati dari wilayah Indonesia. Puncak bulan purnama super bisa disaksikan di wilayah benua Amerika pada Senin (1/1) malam atau di Eropa dan Afrika pada Selasa (2/1) dini hari. ”Bulan super merupakan kesempatan terbaik bagi semua orang untuk melihat bulan,” kata Noah Petro dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard, Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA).

Namun, masyarakat Indonesia masih bisa menikmati bulan super menjelang puncaknya pada Selasa subuh saat bulan terbenam tadi pagi. Jika terlewat, masih ada kesempatan melihatnya petang nanti, sesaat setelah bulan terbit di ufuk timur pada tahap setelah bulan super mencapai puncaknya.

Bisa jadi, bulan super 2 Januari adalah satu-satunya bulan super pada 2018. NASA menyebut bulan purnama 31 Januari nanti sebagai bulan super sehingga bulan super 3 Desember 2017, 2 Januari dan 31 Januari 2018 jadi trilogi bulan super.

Meski demikian, sebagian astronom menilai 31 Januari bukan bulan super karena purnama penuh terjadi 27 jam setelah Bulan di dekat perigee. ”Itu membuat posisi bulan purnama sudah relatif jauh dari perigee,” kata komunikator astronomi dan pengelola situs astronomi langitselatan Avivah Yamani.

Lebih besar dan cerah
Senin (1/1) sekitar pukul 19.00, bulan terlihat lebih besar dan lebih cerah dari biasanya. Kecerlangan itu akan terus meningkat hingga bulan mencapai purnama penuh dan pada jarak terdekatnya dengan perigee.

Saat bulan super di titik terdekatnya dari Bumi, piringan Bulan bertambah 12-14 persen dan kecerlangannya naik 30 persen dibandingkan saat Bulan berada di titik terjauhnya dari Bumi. Jika dibandingkan bulan purnama rata-rata, lebar bulan super bertambah 6-7 persen.

Meski pertambahan ukuran bulan super hanya kecil dibandingkan ukuran bulan purnama rata-rata, fenomena bulan super selalu menimbulkan kehebohan di media ataupun masyarakat. Mereka umumnya terpesona dengan penampakan atau foto bulan purnama yang amat besar di dekat horizon dengan latar belakang gedung, bangunan, gunung, ataupun pesawat terbang.

Ukuran bulan amat besar saat di dekat horizon itu adalah ilusi optik. Ilusi itu muncul karena otak manusia tak sadar kerap membandingkan ukuran bulan di dekat ufuk itu dengan bangunan atau lanskap di depannya yang lebih kecil sehingga bulan tampak lebih besar.

Saat bulan meninggi di atas kepala, tak ada benda yang jadi pembanding ukuran bulan sehingga bulan tampak kecil.

Ilusi optik itu tak ada hubungannya dengan atmosfer bumi. Di masa lalu, ukuran bulan atau matahari besar di cakrawala dianggap karena atmosfer bertindak sebagai lensa yang memperbesar ukuran benda langit. Namun, penjelasan itu sudah ditinggalkan karena berdasar riset atmosfer memengaruhi warna bulan, tapi tidak mengubah ukuran bulan.

Tak terlalu berdampak
Sebutan supermoon adalah istilah astrologi yang diperkenalkan astrolog atau ahli nujum Amerika Serikat Richard Nole dalam majalah Horoscope sejak 1979. Saat itu, Nole mendefinisikan supermoon sebagai bulan purnama atau bulan mati pada jarak 90 persen dari jarak terdekatnya ke bumi. Namun, tak jelas mengapa batasan itu diambil. Nole memprediksi peristiwa itu akan memicu banyak bencana, mulai dari gempa hingga letusan gunung karena Matahari, Bumi dan Bulan berada dalam kesegarisan.

Dalam astronomi, bulan super disebut bulan purnama perigee. Ini adalah peristiwa rutin yang tak akan menimbulkan dampak apa pun bagi bumi. Karena tak ada dampak ditimbulkan itulah, sebagian astronom tak tertarik dengan bulan super.

Kesegarisan Matahari, Bumi, dan Bulan akan menyatukan tarikan gravitasi Matahari dan Bulan pada Bumi. NASA menilai itu tak akan mengganggu keseimbangan energi internal Bumi hingga tak akan meningkatkan aktivitas tektonik Bumi.

Penggabungan gravitasi Matahari dan Bulan saat bulan super meningkatkan pasang air laut setinggi 10-20 cm dibandingkan pasang saat bulan purnama biasa. ”Dampak pasang laut tak besar sehingga warga di pesisir landai tak perlu khawatir,” kata peneliti klimatologi laut Badan Informasi Geospasial Ibnu Sofian (Kompas, 14/11/2016).

Kekhawatiran bulan super memicu rob di Jakarta dinilai berlebihan. Rob berpeluang terjadi jika bersamaan pasang laut maksimum itu ada hujan lebat di Bogor dan Jakarta hingga air hujan tak bisa mengalir ke laut.(M ZAID WAHYUDI)

Sumber: Kompas, 2 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Berdamai dengan Matematika

Matematika sudah bergenerasi memiliki predikat ”momok” bagi siswa. Saatnya memutus stigma tersebut yang bisa dimulai ...

%d blogger menyukai ini: