Bukti Diet Rendah Karbohidrat Meningkatkan Risiko Kematian Dini Bertambah

- Editor

Senin, 3 September 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertengahan Agustus lalu, peneliti Amerika Serikat memublikasikan risetnya tentang diet rendah karbohidrat yang meningkatkan risiko kematian dini di The Lancet Public Health. Studi terbaru yang dilakukan peneliti Polandia, juga menunjukkan hal yang sama.

Studi awal yang dilakukan Maciej Banach dari Universitas Kedokteran Lodz, Polandia menunjukkan orang yang menjalani diet rendah karbohidrat, seperti diet Atkins, diet keto atau hanya memangkas porsi karbohidrat, memiliki risiko kematian 32 persen lebih tinggi dibanding yang tak mengikuti diet karbohidrat.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Aktivitas di dapur Healthybox di kawasan Mampang, Jakarta, Jumat (28/7). Healthybox merupakan katering makanan sehat yang menawarkan berbagai macam program personal katering untuk memenuhi asupan, serta memiliki menu yang bervariasi dengan rasa yang sangat beragam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diet Atkins adalah menghindari makanan tinggi karbohidrat, tapi tidak membatasi asupan protein dan lemak. Sementara diet keto adalah membatasi asupa karbohidrat namun bebas mengonsumi makanan berlemak.

Hasil yang dipresentasikan dalam Kongres Masyarakat Kardiologi Eropa (European Society of Cardiology) di Wina, Austria, Selasa (28/8/2018) juga menemukan orang dengan diet rendah karbohidrat berisiko meninggal 51 persen lebih besar karena penyakit jantung, 50 persen akibat penyakit serebrovaskular (pembuluh darah di otak), dan 35 persen akibat kanker dibanding yang tidak mengikuti diet rendah karbohidrat.

“Pesan penelitian ini jelas, diet rendah karbohidrat dalam jangka panjang harus dihindari,” katanya kepada Live Science.

Riset Banach itu menggunakan data hampir 25.000 orang Amerika Serikat yang terlibat dalam Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional (NHANES) Amerika Serikat antara 1999-2010. Salah satu pertanyaan untuk responden adalah mereka diminta melaporkan diet yang sedang dijalani. Selanjutnya, kondisi kesehatan mereka dipantau selama enam tahun dan hasilnya seperti yang telah dipaparkan.

Enam tahun
Meski demikian, riset yang dilakukan Banach itu memiliki keterbatasan. Periode pemantauan kondisi kesehatan responden hanya berlangsung selama enam tahun. Data pola diet itu juga hanya mengandalkan laporan responden NHANES pada satu waktu saja.

Direktur Laboratorium Nutrisi Kardiovaskuler Universitas Tufts, Medford, Massachusetts, AS Alice Lichtenstein yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan banyak kekurangan dalam riset yang dilakukan Banach. Karena itu, ia memilih bersikap skeptis dengan hasil penelitiannya.

Orang yang sudah memiliki risiko tinggi terkena penyakit jantung, stroke atau hipertensi memang lebih berpeluang mengadopsi diet rendah karbohidrat. Namun, kondisi ini tidak terjelaskan dalam riset Banach. Di sisi lain, hubungan antara diet rendah karbohidrat dan risiko meninggal lebih dini hanya bersifat asosiatif atau saling terkait saja, tak menunjukkan hubungan sebab akibat.

Hal itu berarti responden yang mengadopsi diet rendah karbohidrat bisa jadi sudah memiliki kondisi kesehatan lebih rendah dibanding populasi umum. Dengan demikian, hubungan antara diet rendah karbohidrat dengan lebih tingginya risiko kematian lebih karena kondisi kesehatan mereka lebih buruk, bukan karena pola dietnya.

Meski demikian, Lichtenstein tidak merekomendasikan diet rendah karbohidrat untuk kebanyakan orang karena orang-orang sulit untuk mematuhinya. “Orang harus berpikir jangka panjang, daripada jangka pendek. Pada beberapa kasus, diet yang ekstrem bisa menghambat interaksi sosial mereka karena munculnya rasa khawatir jika ingin bergaul dengan orang lain akan sulit menghindari godaan makanan,” ungkapnya.

Untuk itu, ia menyarankan diet yang sehat untuk semua orang bukanlah diet rendah karbohidrat atau diet sangat rendah lemak. Diet yang baik adalah dengan memperbanyak mengonsumsi buah, sayur, biji-bijian, ikan dan kacang-kacangan, serta membatasi konsumsi asupan dengan gula tambahan dan makanan yang mengandung lemak jenuh. Tentu, semua itu harus dikonsumsi dalam batas kalori yang sehat.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 1 September 2018

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB