Home / Artikel / Bukan Kampus ”Follower”

Bukan Kampus ”Follower”

Kampus masa depan adalah kampus yang hadir dengan memperhatikan keberadaan perempuan, keberadaan pemuda, keberadaan tanah dan air, serta budaya dan nilai, dan memiliki data semuanya dalam Giga Data Kampus.

Meminjam istilah Alex Ross, industri masa depan adalah yang menguasai data.

Dengan konteks sedikit berbeda, di sini penulis ingin menyampaikan opini tentang masa depan kampus dan kampus masa depan yang kemungkinan tanpa mahasiswa. Tentu bukan kondisi ini juga yang ingin didorong dalam Kampus Merdeka.

Gagasan Kampus Merdeka tentu bukan bermaksud memberikan kebebasan kampus dari kepenatan melayani akademik mahasiswa. Namun, kemerdekaan dalam arti menjadi kampus sebagai ruang yang lebih inklusif dalam menangguk iptek.

Euforia kampus merdeka bukan mendisrupsi peran kampus sebagai pusat interaksi insan ilmiah dalam mencari pemecahan masalah, pendalaman nilai-nilai kehidupan, dan pengembangan inspirasi berbasis penghayatan akal budi. Untuk itu, peran kampus sesungguhnya sentral, sementara kampus 4.0 dan era merdeka adalah instrumen untuk memperkuat peran kampus sesungguhnya. Belum sampai pada pencapaian yang sesungguhnya, kini kampus dihadapkan pada disrupsi melalui revolusi industri 4.0 sehingga revolusi industri 4.0 terlihat berperan sebagai instrumen penguat peran kampus.

Satu hal yang harus kita pahami bahwa revolusi industri 4.0 bukanlah tujuan, melainkan merupakan media yang perlu dikelola. Kenyataan saat ini kampus yang tidak siap dalam instrument 4.0 akan menjadi kampus usang tanpa mahasiswa.

Meski demikian, peran instrumen TI masih terlihat begitu kuat (powerfull) menguasai data dan informasi kampus. Boleh kita bilang, hari ini semua kampus dengan data dan informasi yang dimilikinya menyerah tanpa syarat pada Google dan Youtube. Google dan Youtube menyiapkan semuanya, mulai dari kehadiran mahasiswa, PR, materi kuliah, ujian, pelayan akademik, penggalian inovasi sains, ruang diskusi, sampai hasil publikasi kampus dan ranking.

Kenyataan yang tidak bisa ditolak, terangnya kampus dan pendidikan saat ini tidak bisa lepas dari kehadiran profesor google begitu sebutan mahasiswa. Kalau sudah seperti ini, apa yang menjadi milik bangsa? di mana kedaulatan iptek kita, di mana keunggulan kita dalam mengelola informasi, dalam kontek kampus, masihkan kampus berdaulat? Terus apa lagi yang diperjuangkan kampus untuk tetap eksis saat ini?

Kampus masa depan
Terus seperti apa sebenarnya model kampus masa depan? Era Covid-19 adalah fase disrupsi kedua setelah kehadiran revolusi industri 4.0 itu sendiri. Kampus-kampus mulai dikelola mesin dan bahkan banyak hal sudah mulai dilakukan dengan robot. Rasa kebahagiaan seorang wisudawan di Jepang mulai digantikan dengan robot saat wisuda karena disrupsi Covid-19. Kodefikasi, keamanan, dan megadata sudah menjadi paket sistem industri robotik. Bahkan, industri genomik akan memunculkan kekhawatiran tinggi ketika orang mulai paham arti simbol genetiknya masing- masing.

Kehadiran mesin industri pendidikan tentu akan mendistorsi peran manusia, mempersempit lapangan kerja dan memunculkan kesenjangan baru. Karena, hanya orang-orang tertentu saja yang akan menguasai teknologi dan informasi tersebut. Akibatnya, ekonomi juga akan terpolarisasi pada segelintir orang pemilik dan pengelola teknologi dan data. Perubahan ini akan mengubah polarisasi ekonomi dan politik. Fakta hari ini kuatnya pengaruh China di Indonesia adalah dampak dari masifnya intervensi teknologi dan instrumennya oleh China.

Kecerdasan buatan (artificial intelligence) adalah mesin industri yang memiliki daya hancur yang luar biasa, tetapi tidak mampu memisahkan data yang baik dan buruk sehingga menjadi sangat pelangi warna kehidupan ke depan kalau manusia dikendalikan sepenuhnya oleh mesin. Seperti kita lihat maraknya hoaks dalam industri informasi adalah contoh ketidakmampuan revolusi industri memisahkan benar dan salah, beretika dan tidak.

Dalam konteks Indonesia, apa sebenarnya yang perlu dikelola untuk mengendalikan industri 4.0 saat ini sebagai ruang yang harus diisi kampus masa depan. Ada empat poin yang penting diperhatikan, yaitu keberadaan perempuan, keberadaan pemuda, keberadaan tanah dan air, serta budaya dan nilai.

Kampus masa depan adalah yang memberikan perhatian lebih besar pada perempuan dan anak anak. Kedua insan inilah pencetak generasi sehat dan berkualitas. Ketika informasi masuk, informasi tidak mampu membedakan mana konsumsi dewasa dan anak-anak. Akibatnya, banyak generasi muda masuk kedalam jurang kedewasaan tanpa batas (pre-mature) karena mengonsumsi informasi dewasa.

Kampus masa depan adalah yang mampu mengelola perempuan dengan baik untuk menghasilkan generasi dan SDM berkualitas. Tidak salah ketika ditanya ada ajaran yang mengutamakan pengabdian kepada seorang ibu. Kampus yang mampu menyiapkan edukasi terhadap ibu dan anak-anak akan menjadi pilihan pada masa depan.

Kedua, keberadaan pemuda adalah gambaran calon pemimpin masa depan. Kampus diperlukan untuk menyiapkan pemuda-pemuda penuh ide dan gagasan. Pemuda yang hidup ikut arus (follower) akan tenggelam dalam derasnya aliran revolusi industri 40. Pemuda yang punya gagasan dan ide serta beretika yang akan mampu bertarung dan eksis di masa depan. Mungkin ini penerawangan Bung Karno ketika meminta 10 pemuda untuk mengguncang dunia.

Ketiga, penguasaan terhadap tanah dan air menjadi vital. Kampus yang mengajarkan cara mengelola tanah, air, beserta isi dan yang bergantung pada keduanya akan menjadi pilihan masa depan. Karena, akan mengajarkan bagaimana mencari hidup dan penghidupan dari dua lingkungan itu. Lebih dari 260 juta rakyat Indonesia perlu pangan dan air. Kampus yang menguasai iptek terkait tata kelola tanah, tanaman di atasnya, tata kelola air menjadi pemenang dalam menguasai pangan dan air manusia masa depan.

Selanjutnya, bagian keempat adalah kampus yang mengajarkan budaya dan nilai-nilai. Budaya dan nilai ini ter-deliver dalam revolusi industri 4.0 tanpa penjiwaan. Kita bisa saja menyaksikan video yang isinya sikap empati terhadap seseorang, tetapi belum tentu nilai itu masuk dan melekat dalam manusianya. Karena, jiwa manusia tersebut akan larut dalam penghayatan tanpa penjiwaan ketika berhadapan dengan manusia lainnya. Semangat, jiwa, dan nilai serta budaya adalah bagian dari pemersatu manusia di masa mendatang. Revolusi industri 4.0 adalah instrumen pengantar dan bukan menjadi tujuan akhir di mana nilai dan budaya disematkan.

Kampus masa depan adalah kampus yang hadir dengan menyiapkan keempat hal tersebut dan memiliki data semuanya dalam Giga Data Kampus. Bukan kampus yang menjadi follower, penyewa ruang memori dari robot informasi, sehingga membuat sebagian orang frustrasi karena gaya mekanistik yang dianggap maju. Semoga pemerintah sadar bahwa bangsa ini pemilik aset di mana ada perempuan, anak-anak, pemuda, dan memiliki tanah dan air yang harus diformulasi menjadi kekuatan kampus masa depan.

Kita bukanlah pengikut perubahan global, tetapi adalah bagian yang ikut mengubah global. Untuk pendidikan kita ke depan harus menjadi revolusi industri 4.0 sebagai instrumen untuk memperkuat kampus dan bangsa hingga kuat dengan nilai-nilai yang dijiwai oleh setiap insannya.

Yonvitner, Dosen IPB University

Editor: YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 1 Juli 2021

Share
%d blogger menyukai ini: