Home / Artikel / Bonus Demografi Jawa Tengah

Bonus Demografi Jawa Tengah

“Jateng hampir menikmati bonus demografi, jumlah penduduk usia produktif 15-64 tahun hampir lipat dua dari kelompok umur tidak produktif”

PADA 31 Oktober 2011, berdasarkan hasil kajian Dana Kependudukan PBB (UNFPA), jumlah penduduk dunia mencapai angka 7 miliar. Entah bagaimana mereka menghitungnya, namun terlepas dari itu, ini adalah peringatan tentang ”bencana” jika pertumbuhan penduduk makin tak terkendali. Tahun 1800 jumlah penduduk dunia hanya 1 miliar jiwa. Jumlah itu naik lipat dua dari tahun 1930. Artinya, untuk bertambah 1 miliar jiwa diperlukan waktu 130 tahun.

Namun setelah itu, untuk bertambah 1 miliar lagi, rentang waktunya makin pendek, hanya 30 tahun. Artinya, penduduk dunia menjadi 3 miliar pada 1960 dan berturut-turut bertambah 1 miliar pada 1975 (rentang waktu 15 tahun), 1987 (rentang waktu 12 tahun), dan 2000 (rentang waktu 13 tahun) menjadi 6 miliar jiwa. Puncaknya, hanya dalam 11 tahun penduduk dunia bertambah lagi 1 miliar.

Kegelisahan dunia juga dirasakan negeri ini. Meski sebenarnya kita kaya-raya, baik sumber daya alam maupun sumber bahan pangan, faktanya ekonomi kita dikendalikan ekonomi dunia. Karenanya, jika jumlah penduduk kita yang saat ini mendekati angka 240 juta jiwa terus bertambah 1,49 % per tahun (sesuai hasil Sensus Penduduk 2010), maka ”bencana” juga akan makin mengancam.

Lebih celaka lagi, dari 240-an juta jiwa itu, 60 % tinggal di Jawa, yang luasnya hanya sekitar 7 % dari luas Indonesia. Bahkan tingkat urbanisasi di negeri ini hampir 50 %. Padahal orang juga paham, kehidupan kota-kota saat ini membawa banyak masalah, seperti persoalan ketenagakerjaan, lingkungan dan aneka konflik sosial lainnya.

Di tingkat regional, dari 32,3 juta penduduk Jawa Tengah jika dirinci menurut kelompok umur, diperoleh angka: pada kelompok umur 0-14 tahun 26,73 %, kelompok umur 15-64 tahun 65,72 %, dan kelompok umur 65 tahun ke atas 7,55 %. Angka itu menunjukkan bahwa Jateng hampir menikmati bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif 15-64 tahun hampir lipat dua  dari kelompok umur tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas). Hanya masalahnya, apakah kelompok usia produktif itu termasuk penduduk yang bermutu, karena data BPS (2010) menunjukkan ada 5.204.437 jiwa penduduk Jateng bekerja kurang dari 35 jam per minggu, alias setengah penganggur.

Meski laju pertumbuhan penduduk (LPP) Jawa Tengah hanya 0,37 % dan tercatat terendah di Indonesia, melihat besarnya kelompok umur balita maka tersirat bahwa LPP rendah tersebut bukan karena turunnya angka kelahiran, karena total fertility rate (TFR) di provinsi ini masih 2,3. Demikian pula rasio anak terhadap wanita melonjak tajam dari 128 balita per 1.000 wanita menjadi 318,62 balita per 1.000 wanita. Ini artinya fertilitas makin tinggi. Dengan kata lain, rendahnya LPP hampir dapat dipastikan karena faktor lain, misalnya migrasi keluar.

Jadi Mata Pelajaran

Kenyataan itu diperberat oleh fakta bahwa di Jateng ada 36,05% perempuan menikah pada usia di bawah 19 tahun, bahkan ada 11,9% perempuan usia 10-15 tahun yang sudah menikah (Susenas, 2009). Kenyataan ini menunjukkan bahwa program pemberdayaan perempuan, peningkatan status sosial ekonomi, peningkatan pendidikan dan sebagainya, merupakan hal mendasar yang harus digarap serius.

Jika tingkat pendidikan pasangan usia subur (pus) rendah maka akan memiskinkan mereka, serta memengaruhi usia kawin pertama, dan sebaliknya. Kemiskinan menyebabkan mereka kekurangan gizi dan nutrisi serta menghambat keikutsertaan dalam KB, karena ada yang berpendapat banyak anak banyak rezeki atau banyak anak berarti nantinya membantu ekonomi keluarga. Banyaknya petugas lapangan KB (PLKB) yang beralih tugas juga menjadi persoalan.

Dari hasil sensus penduduk 2010 diperoleh angka perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan 98,8 yaitu, artinya sebaran penduduk menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa umumnya kabupaten dan kota di Jateng lebih banyak penduduk perempuan, kecuali Kabbupaten  Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Kendal, Batang, Brebes, dan Kota Pekalongan.

Jumlah wanita usia subur (WUS) usia 15-49 tahun cukup tinggi yaitu 53,38%, dengan kelompok umur wanita 10-14 tahun paling tinggi. Kenyataan ini merupakan tantangan yang berat bagi program kependudukan dan KB di provinsi ini. Hal yang harus ditingkatkan adalah pembentukan pusat informasi konseling kesehatan reproduksi remaja (PIK), memasukkan tema KB dan kesehatan reproduksi remaja ke mata pelajaran yang ada, bukan kurikulum tersendiri. (10)

Saratri Wilonoyudho, dosen Unnes, kandidat doktor Ilmu Kependudukan-Urbanisasi UGM

Sumber: Suara Merdeka, 8 November 2011

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: