Home / Berita / Biaya Kuliah; Mengandalkan Tradisi ”Poka Sawar Limbang Sama”

Biaya Kuliah; Mengandalkan Tradisi ”Poka Sawar Limbang Sama”

Lusia  Amir Syaiman (19) telah dua semester ini menjadi mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia merupakan satu dari puluhan remaja Desa Lembur, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, yang mengandalkan biaya kuliah melalui tradisi poka sawar limbang sama. Frans Sarong

Rangkaian kata poka sawar limbang sama adalah ungkapan berkias dalam bahasa setempat. Maknanya adalah ’usaha atau memperjuangkan bersama membangun titian melintasi sungai yang sedang dilanda banjir bandang’.

Belakangan, kalangan masyarakat di Lembur mengadopsi ungkapan itu sebagai penyemangat usaha bersama guna mengatasi keterbatasan kemampuan orangtua membiayai sekolah anak hingga perguruan tinggi. Setelah merasakan manfaat yang nyata, perjuangan bersama itu lalu mengental menjadi sebuah tradisi berjuluk poka sawar limbang sama. Khusus di Lembur dan sekitarnya, tradisi itu bergulir sejak 1970-an.

Lusia—anak pertama dari empat bersaudara—berasal dari keluarga petani pasangan Benitius Amir dan Theresia Sayman. Seperti rata-rata warga lain di Lembur, kehidupan keluarga Benitius hampir total bergantung pada ladang kering yang sebagian menjadi kebun tanaman perkebunan skala kecil, seperti cengkeh, kemiri, kakao, dan kopi.

”Rata-rata keluarga di Lembur belakangan bisa menyekolahkan anak mereka hingga bangku kuliah. Itu semua umumnya berkat dukungan tradisi poka sawar limbang sama,” tutur Yoseph Sende (61), tetua adat Rende di Lembur.

Biaya KuliahPesta sekolah poka sawar limbang sama bagi setiap anak lazimnya menjelang kuliah tahun pertama, yang dilaksanakan bulan Juni hingga Agustus. Namun, bagi Lusia, acara baru dilakukan pekan ketiga Juli lalu, yang berarti setahun setelah ia kuliah di FKIP USD, Yogyakarta.

Benitius dan Theresia mengatakan, pesta sekolah bagi Lusia sedianya dilaksanakan menjelang kuliahnya tahun lalu. Namun, kegiatan itu diputuskan ditunda karena di Lembur dan sekitarnya saat itu ada lebih dari lima anak yang juga menggelar pesta sekolah dan pelaksanaannya dalam waktu berdekatan.

”Kami memilih menunda karena dipastikan hasilnya tidak maksimal. Kebetulan kami punya sedikit simpanan untuk biaya kuliah tahun pertama Lusia,” kata Theresia.

Keputusan keluarga Benitius tidak melenceng. Melalui pesta sekolah poka sawar limbang sama bagi Lusia di Rende, Lembur, Minggu (20/7), urunan dana terkumpul Rp 101 juta. Itu berarti penghasilan bersih lebih dari Rp 85 juta setelah dikurangi biaya pesta untuk membeli seekor sapi dan babi untuk lauk, beras, bumbu, serta kebutuhan lain.

Kepala Desa Lembur Antonius Jelorong mengatakan, hasil pesta sekolah untuk kuliah Lusia itu tergolong maksimal. ”Pesta sekolah poka sawar limbang sama itu kini menjadi semacam kearifan lokal yang sangat diandalkan masyarakat setempat untuk menyiasati keterbatasan kemampuan keluarga membiayai anak mereka hingga bangku kuliah. Pesta sekolah itu hanya untuk kuliah,” tutur Antonius, Jumat (8/8).

Sekitar Juni lalu di desa itu juga digelar tiga acara serupa.
Meluas

Antonius Jelorong, Benadus Lalu, Leo Kelang, dan sejumlah tetua di Lembur mengakui, mereka mengenal tradisi pesta sekolah poka sawar limbang sama sejak 1970-an. Bagi mereka, usaha rintisan awal yang berlangsung pada Juli 1977 itu selalu dikenang karena memunculkan seorang remaja sebagai putra pertama Lembur yang berhasil melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi, di Kupang.

Belakangan tradisi urunan dana membiayai kuliah anak tidak hanya dikenal di Lembur dan sekitarnya, tetapi meluas di Manggarai Timur, bahkan Manggarai dan Manggarai Barat, dengan sebutan berbeda. Jika di Lembur dan Kecamatan Kota Komba dikenal dengan sebutan poka sawar limbang sama, di kawasan lain disebut inung wae kolang anak sekolah atau penong mbere anak sekolah.

Tradisi itu terus mekar, terutama di pedesaan yang rata-rata dengan lingkungan keluarga miskin.

Pesta sekolah bagi Lusia berlangsung sejak menjelang siang hingga pagi dini hari berikutnya, melibatkan kalangan luas dari desa asal dan juga sejumlah desa sekitarnya. Tamu tidak harus hadir secara bersama untuk jangka waktu tertentu seperti resepsi pernikahan. Mereka bisa datang kapan saja pada hari acara. Setiap tamu biasanya datang dengan setoran ”wajib”, tetapi tanpa patokan besarannya.

Setelah makan tahap awal ”secara gratis”, para tamu bertahan secara berkelompok di beberapa titik. Mereka lalu memesan makanan dan minuman jenis lain, dengan tambahan biaya bahkan jauh lebih besar dari ”setoran wajib” sebelumnya. Semua ”ditebus” dua kali lebih mahal dari harga normal.

Tradisi itu bukanlah arisan. Tidak ada keharusan mengembalikan uang dalam jumlah sama kepada tamu yang kemudian menggelar acara serupa. Tradisi itu menekankan semangat kebersamaan untuk menyiasati keterbatasan keluarga. Semangat kebersamaan itulah yang menjadi penuntun bagi sang tamu untuk menentukan besaran ”setoran wajib” secara pantas. Setoran wajib sang tamu dalam kerangka ”balasan” tidak jarang lebih besar dari yang diterima ketika ia sebelumnya menggelar acara serupa.

Namun, tuntutannya, tetua keluarga harus aktif menghadiri undangan acara serupa keluarga lain, dengan ”setoran wajib” sesuai dengan kepantasan dan kemampuan. Keseluruhan penghasilan harus benar benar untuk membiayai kuliah anak, tidak dipakai untuk kebutuhan lain.

Sumber: Kompas, 15 Agustus 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: