Home / Berita / Kesasar Jurusan Tidak Berarti Kiamat

Kesasar Jurusan Tidak Berarti Kiamat

Setelah masuk kuliah beberapa lama, banyak mahasiswa gelisah, jangan-jangan mereka salah jurusan. Maunya belajar musik, nyatanya dia ”terjebak” di jurusan ekonomi. Sebagian dari mereka menjadi galau, malas belajar, bahkan ada yang memutuskan berhenti kuliah. Apakah itu menyelesaikan persoalan? Belum tentu juga. Terus, harus bagaimana?

Mahasiswa yang salah jurusan itu banyak. Bagaimana enggak, waktu SMA, SMK, atau madrasah aliyah, mereka enggak banyak tahu tentang ilmu yang akan mereka tekuni, perguruan tinggi yang akan mereka masuki, hingga peluang kerja yang akan mereka jalani. Setidaknya itu terbaca dari hasil survei Litbang Kompas terkait minat siswa masuk ke perguruan tinggi dan perguruan tinggi yang populer (top of minds) pada akhir 2015.

Hasil survei itu menunjukkan, 24,6 persen siswa yang menjadi responden mengatakan belum tahu atau tidak tahu perguruan tinggi yang akan dipilih. Survei melibatkan 1.640 siswa SMA (negeri dan swasta) yang tergolong unggul di 12 kota besar, yaitu Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Banjarmasin, Makassar, dan Manado.

Nah, jangankan mereka tahu jurusan, ternyata tahu perguruan tinggi saja tidak. Maka, wajar kalau banyak siswa salah pilih jurusan kuliah. Tapi, baiklah, enggak usah menangisi kondisi itu. Salah jurusan sebenarnya enggak berarti kiamat kok. Banyak juga mahasiswa yang merasa kesasar jurusan lalu menerima kenyataan. Mereka tetap menekuni ilmu ”asing” di kampusnya dan akhirnya bisa berprestasi.

Simak cerita Eusebius Luhung Angling Kesumo, mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta. Dulu, ia merindukan kuliah di jurusan musik. Ia membujuk orangtuanya, ”Pak, Buk, boleh dong saya masuk (jurusan) musik.”

Ayahnya menjawab, ”Le (panggilan orang Jawa untuk anak lelaki), musik itu enggak menjamin kehidupanmu besok. Sudah terlalu banyak musisi.”

Ia pun menuruti kata orangtuanya, lalu memilih jurusan yang jauh dari keinginannya, yakni Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan USD. Awalnya, ia berat menjalaninya. Banyak pergulatan yang ia alami selama kuliah, termasuk membolos.

”Bayangan kuliah di jurusan musik yang santai, bisa berambut gondrong, memakai kaus ketika ke kampus, itu sirna. Sebaliknya, sebagai calon guru, saya harus berpakaian rapi, bersepatu, rambut potong pendek,” kata Luhung.

Akhirnya dalam proses itu ia bisa mengaitkan mata kuliah dengan hobi bermain musik. Musik tetap menjadi hobinya, sedangkan mata kuliah seperti bisnis dan manajemen menjadi dasar untuk mengembangkan hobinya.

Menjadi kecanduan
Rasa kecewa mendalam juga pernah melanda Retno Nurul Aisyah, mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Alumnus madrasah aliyah ini ingin kuliah di Timur Tengah, tetapi orangtua tak mengizinkan.

Ia pasrah, lalu banting setir memilih jurusan jurnalistik. Biasa belajar mata pelajaran seputar agama Islam lengkap dengan kitab-kitab berbahasa Arab, lalu belajar soal teori komunikasi, membuat Retno patah arang. Pada semester pertama, ia ogah-ogahan kuliah.

Di tempat kos, ia sering menangis karena menyesal berada di jurusan itu. Gadis asal Padang, Sumatera Barat, tersebut bahkan berniat ikut lagi tes masuk perguruan tinggi negeri, tapi batal karena perlu uang lagi. Ia pun bertahan.

”Masuk semester kedua, saya coba ikhlas dan menikmati perjalanan tak direncanakan ini, hingga saya dipertemukan dengan banyak orang hebat yang menginspirasi di jurusan ini. Hal itu menyadarkan bahwa saya harus bangga dan bersyukur kuliah jurnalistik,” lanjutnya.

Dari tak kenal dunia menulis, kini mahasiswi semester keempat itu kecanduan menulis. Beberapa tulisannya sudah dimuat di majalah sekolah dan koran lokal Bandung.

Masih banyak cerita inspiratif dari mereka yang pernah kesasar jurusan. Jika ada mahasiswa baru yang masih merasa salah jurusan, mungkin mereka patut mencoba untuk mengubah cara pandang. Barangkali setelah itu pelan-pelan mereka bisa mencintai ilmu yang semula asing itu. Pelajar SMA juga perlu mencari sebanyak mungkin informasi tentang ilmu dan perguruan tinggi yang akan dipilih.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Mungin Eddy Wibowo, pelajar SMA sebaiknya mendapat bimbingan dari sekolah ketika akan memilih jurusan di perguruan tinggi. Sekolah perlu memberikan informasi terkait perguruan tinggi dan jenis pekerjaan yang bisa dijalani setelah lulus kuliah. (GIANIE/LITBANG KOMPAS/TRI)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 April 2016, di halaman 25 dengan judul “Kesasar Jurusan Tidak Berarti Kiamat”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: