Home / Berita / Bertualang di Alam Wallacea

Bertualang di Alam Wallacea

Keindahan alam sebenarnya relatif. Kalau kita masuk ke dalamnya dengan segala keganasan dan kebesarannya, keindahan alam terasa lebih merasuk ke benak kita.

Pada 9-23 November 1996 wartawan Tiras Natsir Kongah mengikuti ekspedisi Tim Operasi Wallacea yang disponsori oleh Hongkong Bank. Ada 25 orang dalam tim, terdiri dari 12 orang warga negara asing dan sisanya pribumi. Mereka memasuki Ujungpandang, kemudian terbang ke Kendari. Setelah itu naik kapal ke bau-bau di Kepulauan Buton. Dari situ mereka bersiap untuk bertualang melalui jalan darat ke Lasalimo, maligano, Danau Togomotonu, menyeberangi Laut Banda –laut terdalam di Indonesia (palung terdalamnya 10.000 meter)— ke Pulau Hoga, lalu mengakhiri perjalannnya dengan menyelam di seputar Pulau kalidupa. “Kawasan yang kami kunjungi masih relatif lebih cantik. Tetapi penyusupan kapal nelayan asing sudah begitu dahsyat, sehingga saya sedih melihat alam negeri ini dirusak,” kata Natsir yang putra asli Sumatera Utara ini.

Berikut ini pengalaman Natsir Kongah selama hampir dua minggu berkelana di hutan-hutan Sulawesi Tenggara dalam dua bagian tulisan.

Seekor anak burung ranggong (Red Konebbed Hornbili) itu mencoba menjulurkan kepalanya dari tengah batang kayu berlubang untuk melihat dunia luar. Tubuh kecil yang belum penuh ditumbuhi bulu itu ditemani oleh induk betinanya, sedang menunggu waktu untuk bisa mengarungi kehidupan di alam bebas hutan Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Regenerasi spesies burung langka itu kelihatan berjalan terus, sementara masyarakat yang ada di sekitarnya nyaris tak pernah menyaksikan adegan langka itu. Mereka lebih peduli dengan kegiatan kehidupan keseharian, bertani, berkebun atau ke laut untuk menangkap ikan.

Operasi Wallacea menangkap apa yang tidak mereka lihat. Proyek ini berjalan berkat kerjasama antara Yayasan Pengembangan Wallacea, yang dipimpin oleh Dr. Ibnu Sutowo —mantan dirut Pertamina— Departemen Kehutanan (terutama Direktorat Jenderal PHPA), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Ecosurveys Ltd. (berkedudukan di Inggris). Hongkong Bank menjadi sponsor utamanya melalui program Care for Nature. Tim yang dibantu oleh sukarelawan yang datang secara berganti dari berbagai negara ini, mencoba mengumpulkan data biologi bermacam- macam hewan maupun tumbuhan yang terancam kepunahan.

Nama operasi ini memang sengaja diambil untuk mengenang jasa Alfred Russel Wallace, ilmuwan yang hidup sezaman dengan Charles Darwin, peneliti flora maupun fauna di Asta Tenggara. Wallace yang dikenal sebagai orang yang rendah hati itu, bertahun-tahun melakukan penelitian di buml Nusantara ini untuk kepentingan ilmu pengetahuan. DaIam bukunya The Malay Archipelago, Alfred mencatat secara ilmiah wilayah maupun sosial budaya masyarakat yang disinggahinya. Di Sulawesi, ia menemukan keunikan bentuk flora dan fauna yang memiliki cirl khas tersendiri.

Selain itu, Wallace juga mencatat sisi sosiologi maupun antropologi dari masyarakat yang dijumpainya, seperti masyarakat Singapura, Malaka, dan Gunung Ophir. Di Kalimantan, Wallace meneliti orangutan, maupun kehidupan orang-orang Dayak yang berdiam di sana. Hasil penelitian ini, dipakai pula oleh Charles Darwin yang terkenal clengan karya kontroversi tentang evolusi manusia (yang menyebutkan manusia berasal dari kera) sebagai salah satu referensinya.

Oleh dunia nama Alfred Russel Wallace diabadikan untuk menentukan apa yang disebut “Garis Wallacea” yang merupakan petunjuk penting bagi para ahli ilmu tumbuh-tumbuhan dan ahli ilmu hewan. Garis. Wallace sendiri merupakan garis imajiner yang berada di selat antara Pulau Bali dan Lombok terus ke utara melewati selat Makassar.

Keanekaragaman hayati Sulawesi, yang merupakan bentuk peralihan antara Asia (oriental) dan Australia seperti sudah disinggung tadi memang mempunyai ciri tersendiri, dibandingkan dengan gugusan pulau-pulau lain yang ada di Indonesia. karena memang pulau yang terbentuk ketika mencairnya es, saat evolusi angiosperms yang sebagian daratannya pecahan dari Borneo (Kalimantan) dan sisa lainnya merupakan bagian dari Australia. Latar belakakang sejarah bumi inilah yang membuat pulau berbentuk huruf “K” ini memiliki kekayaan alam yang berbeda.

Buton
Dari sekian banyak kekayaan alam Sulawesi itu, Pulau Buton di Sulawesi Tenggara merupakan salau satu tempat yang memiliki keanekaragaman hayati yang menjadi titik perhatian para peniliti. Buton, selama ini dikenal sebagai penghasil aspal terbesar dunia. Ternyata, lebih dari itu, kekayaan yang terkandung di dalamnya jauh lebih besar dengan banyaknya ragam spesies burung yang ada di kepulauan seluas 6.463 km2 itu. Menurut penelitian yang dilakukan LIPI, dari 1.539 spesies burung yang ada di Indonesia, 35% di antaranya ada di Sulawesi, khususnya Pulau Buton. Pulau kecil yang di sebelah selatan berbatasan dengan Laut Flores, sebelah timur berbatasan dengan Laut Banda dan sebelah barat berbatasan dengan Teluk Bone ini, merupakan surga burung-burung indah yang hampir belum terjamah.

Dari kesimpulan awal yang diperoleh oleh Tim Peneliti Operasi Wallacea menyebutkan, terdapat 187 jenis burung yang ada di pulau penghasil kacang mete dan cokelat ini, termasuk di dalamnya 44 jenis burung endemik Sulawesi dan enam jenis burung endemik Indonesia. Endemik di sini diartikan sebagai jenis-jenis burung yang tidak dapat ditemukan di wilayah di Indonesia, kecuali di Sulawesi (endemik Sulawesi) dan tidak dapat ditemukan di negara manapun kecuali di Indonesia (endemik Indonesia).

Daerah ini pula kini mulai dikenal luas oleh penggemar burung yang ada di berbagai belahan dunia. Mereka datang dari Inggris, Amerika, Australia, Singapura, Malaysia maupun negara lainnya. Baik sebagai sukarelawan yang ikut meneliti dalam Operasi Wallacea, maupun sekadar berwisata di alam bebas. Hutannya yang masih relatif bagus, meski di sana-sini terjadi penebangan liar untuk pertanian maupun kebutuhan akan perumahan masyarakat yang terus berkembang. Kawasan ini mulai pula dilirik oleh para twicer (pencari spesies baru) burung sebagai lahan yang empuk untuk menemukan jenis-jenis burung baru.

Daerah ini juga dimanfaatkan sebagai tempat ekowisata yang cukup menarik, selain untuk penelitian juga cocok bagi yang suka dengan tantangan alam dan keindahan ragam hayati. Para petualang bisa menuju lokasi yang memiliki keanekaragaman jenis burung yang tinggi, seperti daerah Lebo, Lawele, Kinapani, Danau Togomotono dan kawasan Hutan Kapandaa itu —sekitar 200 kilometer dari Bau-Bau, ibukota Kabupaten Buton— melalui perjalanan darat. Pemandangan cukup indah, menyenangkan, dan menyuguhkan tantangan yang begitu menarik. Mobil yang bisa melintasi daerah dengan jalan yang sebagian besarnya masih belum beraspal ini baiknya jenis jip yang memiliki gardan ganda (four wheel drive). Dari 46 anak sungai yang dilewati, sebagian di antaranya masih belum memiliki jembatan, sehingga kendaraan harus siap melintasi air setinggi 30 cm. Tak jarang pula kedalaman air lebih dari itu sehingga tim survei harus mencari kayu sendiri, kemudian membuat jembatan darurat agar mobil bisa lewat.

Kondisi ini dengan catatan bila cuaca baik-baik saja. Kalau di tengah perjalanan terjadi hujan lebat, maka bersiap-siaplah menyingsingkan lengan baju dan celana untuk segera turun membantu mobil yang terbenam di kedalaman lumpur “jalan”. Atau siapkanlah diri Anda untuk bermalam di tengah hutan menunggu bala bantuan.

Sambil berjibaku dengan lumpur dan lintah karena tidak ada mobil derek di tengah hutan dan mobil lainnya yang melintas, tim survei masih bisa memanfaatkan kesempatan untuk menikmati pemandangan sekitarnya: sekawanan babi hutan yang melintas, atau monyet-monyet yang bergantungan di pohon. Kawanan binatang itu seenaknya saja bermain tanpa harus terganggu oleh bisingnya suara knalpot mobil yang “mengerang” karena supir menginjak pedal gas dalam-dalam.

Pernah suatu kali (dua bulan sebelum tim kami lewat), mobil tim survei ketika melintasi sungai yang tak memiliki jembatan, di daerah Lasalimo-Kabupaten Buton, tiba-tiba diterjang oleh arus deras dari atas bukit. Selanjutnya mobil jip Harid-top tahun 1985 yang membawa tim ekspedisi itu hanyut ke hilir sungai, dan tanpa ampun menelan mobil, beserta isinya.

Rasa penat menempuh perjalanan selama delapan jam, seketika hilang setelah sampai di square 25 Desa Maligano. Sambil minum air merah celupan kayu sapang, dan ditemani oleh suara burung-burung yang sedang mencari lahannya untuk beristirahat, tak terasa perjalanan panjang itu melelahkan. Sebagian dari anggota tim langsung tergoda untuk mengamati suara-suara burung itu. Sayang, hari mulai beranjak sore sehingga warna-warni bulu burung sudah mulai tak jelas lagi untuk dinikmati.

Keesokan paginya, setelah menginap di rumah penduduk — tim kembali ke lokasi semula (square 25). Tempat ini merupakan salah satu tempat pengamatan yang cukup baik karena tingginya keanekaragaman jenis burung yang ada. Tim ekspedisi burung Operasi Wallacea yang memulai aktivitasnya selama dua minggu, 11 November-22 November 1996– terdiri dari 15 sukarelawan, yakni 8 dari lnggris, 2 dari Singapura, 1 dari Selandia Baru dan 3 dari Indonesia, dibantu oleh instruktur sekaligus periset dari LIPI dan PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam).

“Dalam pengamatan selama dua jam dipagi hari, saya bisa menemukan rata-rata 30 jenis burung. Di sore hari jumlahnya kadang bisa lebih banyak lagi. Sungguh ini suatu keasyikan tersendiri bagi saya,” ujar Indra Townsendm, 59, sukarelawan warga Inggris yang tinggal di Singapura dengan girang sambil melihat burung pergam putih (White Imperial Pigeon/Ducuta luctuosa) yang sedang diamatinya.

Di tengah hutan sekunder tua, di pulau yang terbentuk dari batuan kapur pada zaman Quaternar-Tertier ini kita masih bisa melihat pula dengan leluasa sekumpulan burung (2-5 ekor) dari jenis julang Sulawesi (Red-Knobbed Hornbill/ Aceros cassidix) terbang sesukanya dari satu pucuk pohon ke dahan pohon yang tinggi lainnya. Tim survei kali ini cukup beruntung, karena di bulan-bulan ini, periode Juli-November merupakan musim kawin bagi jenis burung yang terbang tinggi ini. Sehingga bisa melihat dengan jelas aktivitas yang dilakukan oleh burung ranggong, nama lain dari julang Sulawesi yang memiliki paruh panjang berwarna kuning, dengan jambul merah di atas paruh, bulu hitam pada bagian badan, dan garis kuning pada bagian lehernya yang sedang sibuk mencari makanan di pucuk pohon beringin lagi berbuah.

Sang betina yang sedang menjaga anak yang baru dilahirkannya itu, setia menanti sang jantan mencari makanan. Setelah dapat, makanan berupa buah itu diberi kepada sang betina untuk segera diteruskan kepada anaknya. Di dalam lubang seluas 5×10 cm di tengah batang pohon yang mati itulah betina membesarkan anaknya sampai ia bisa tetbang dan mampu mengarungi kehidupannya. Di kawasan ini dengan mudah pula dapat dilihat pelbagai jenis burung endemik.
Kawasan panas (Hot Spot Area)
Survei ekologi yang kini sudah memasuki tahun kedua, telah berhasil mendata sebagian kehidupan burung di Pulau Buton. Tim Operasi Wallacea membagi 83 grid besar 10×10 menit, atau sekitar 324 km2 setiap grid-nya. Grid-grid ini kemudian dibagi lagI menjadi grid-grid yang lebih kecil, berukuran satu meter persegi atau sekitar 32,4 km2.

Pengamatan burung dilakukan terhadap setiap grid oleh kelompok-kelompok relawan yang didatangkan oleh Ecosurvey Ltd. Sejauh ini sudah ada 200 lebih relawan yang ikut membantu untuk mendata, mereka masuk perkelompok kecil 15-20 orang selama dua minggu. Bahkan tak jarang, para relawan Ini memperpanjang masa pengamatan mereka menjadi empat minggu atau lebih. Kelompok-kelompok ini dipandu oleh tenaga ahli yang disiapkan oleh LIPI maupun PHPA, termasuk dari Ecosurvey Ltd sendiri.

Waktu pengamatan, idealnya lakukan pada pagi hari, antara pukul 05.30- 09.30 dan sore hari antara pukul 14.00-18.00. Di waktu pagi ini burung-burung itu sibuk mencari nafkah, sambil berkicau. la berkomunikasi dengan sesamanya. “Burung di manapun alat komunikasi yang ia pakai kicauannya (song), irama yang ia keluarkan untuk menunjukkan keberadaannya atau untuk merayu sang betina idamannya,” ujar Dr. Asep S. Adhikerana, ahli burung yang juga peneliti ekologi, Puslitbang Biologi LIPI.

Di luar musim berkembang biak, biasanya burung akan berhenti berkicau setelah lewat pukul 08.00 lalu pergi untuk mencari makanan. Tapi bila masuk musim berkembang biak, ia tak henti-hentinya untuk berkicau. Di musim itu, ia sibuk mencari tempat untuk dijadikan wilayahnya.”Burung yang menyatakan atau menguasai wilayah tertentu akan bernyanyi pendek cit cuit cit. Kalau sudah ada kode seperti itu, burung lain yang mendengar isyarat itu tak akan masuk atau menyerobot wilayah atau yang dikuasai oleh sesamanya itu,” tambah Asep.

Para relawan itu, selain menikmati keindahan burung di alam aslinya, juga mengidentitaskan dari burung yang terlihat dan terdengar. Baik, jumlah individu pada setiap perjumpaan, karakter habitat tempat pengamatan dilakukan, sampai pada ciri-ciri biologi/ekologi yang dianggap perlu untuk bisa dikembangkan.

Dari pengamatan ini, para pengamat ataupun twicer bukan tak mungkin menemukan jenis burung yang baru, yang belum tercatat dalam kepustakaan burung dunia. Drs. Wayan Dirgayusa, peneliti ekologi dari Puslitbang Biologi LIPI, pernah menemukan jenis burung yang belum pernah ada diketemukan dan tercatat dalam literatur kepustakaan burung yang ada di Belanda maupun Inggris. Sekarang sedang diupayakan tintuk menjaring jenis burung tersebut agar bisa diteliti dengan seksama. “Apakah ini betul jenis burung baru, masih perlu diteliti lebih lanjut. Soalnya untuk menentukan ini jenis baru atau tidaknya melalui prosesnya yang panjang, sampai pada tes DNA segala,” ujar Wayan, begitu ia biasa dipanggil.

Dari beberapa area yang dipilih sebagai tempat yang cocok bagi pengamatan permanen, dengan , banyaknya ragam jenis burung di hot spot area, dipilih daerah Lebo, Maligano, Lawele, Kinapani (Danau Togomotonu dan kawasan Hutan Kapandaa) kawasan Hutan Lindung Lakonti (termasuk Air Jatuh dan Karyabaru) serta areal persawahan Wakalambe.

Di kawasan Hutan Lebo, misalnya, banyak sekaIi ditemukan jenis burung endemik, termasuk maleo yang merupakan satu-satunya kerabat burung gosong yang tidak ditemukan dinegara lain, kecuali di Sulawesi (lihat: Si Cantik Maleo yang Rawan) dan Buton khususnya. Selain itu, burung ranggong masih mudah untuk bisa dijumpai dengan jumlah kelompok yang besar.

Buat yang pernah sekali saja melihat maupun mendengar suara burung ini, akan mudah sekali mengenal dan mengetahui keberadaannya. Karena ranggong memiliki ciri khas dari suara kibasan sayapnya yang terdengar kuat, meskipun ia berada di ketinggian 300-an meter. Ketika ia hendak mulai terbang, paling tidak 5-10 kali ia mengepakkan sayapnya dengan keras. Setelah jauh terbang sekitar 500-an meter, ia baru kembali mengibaskan sayapnya untuk memperkencang laju terbangnya.

Burung jenis ini, walaupun tak buas seperti elang, tapi memiliki karisma yang tinggi di antara jenis burung-burung lainnya. Ia memiliki kapling tersendiri, dan jangkauannya cukup luas. Bila saja ia sudah menetap di suatu pohon, maka dengan sendirinya jenis burung yang lain akan minggir. Cuma saja, ia tak begitu kuasa oleh jerat yang dipasang manusia untuk menangkapnya. Beberapa, kasus yang ditemukan menunjukkan masih terjadi penangkapan burung-burung jenis ini oleh warga yang belum mengerti akan keberadaan hewan yang dilindungi ini. Mereka tergiur oleh tingginya harga burung ranggong di pasaran yang mencapai Rp 200.000 per ekornya. Lebih menggemaskan lagi, masih ada saja pejabat yang datang dari di tingkat satu maupun pusat yang berkunjung ke pulau ini minta dibawakan oleh-oleh burung. Burung yang ia bawa dari jenis yang langka lagi.

Berjalan sekitar dua kilometer dari kantor kelurahan Desa Maligano, di sekitar hutan bakau dan kolam-kolam ikan milik rakyat rnengundang daya tarik tersendiri bagi para pengamat. Di sana merupakan tempat atraksi dari berbagai jenis elang (raptors) dan raja udang (King fisher). Umumnya burung-burung yang ada di sekitarnya merupakan burung yang kehidupannya tak bisa jauh dari pinggir laut. Bangau merupakan burung yang sering terlihat di sini, selain ada juga jenis kuntul, blekok, bambangan, kowak, dan kokonan.

Istirahatlah sejenak, lalu langkahkan lagi kaki Anda menuju Danau Togomotonu di daerah Kinapani, 8 kilorneter dari Desa Maligano. Di sana Anda akan menemukan jenis burung hutan dan burung air yang tinggi kelimpahan jenisnya. Danau ini merupakan satu-satunya yang ada di Pulau Buton, dengan debit airnya yang terus-menerus menurun. Luasnya tak seberapa, paling sekitar 1.000 rneter persegi. Tapi di sinilah burung-burung lebih suka bermain dan mencari makan.

Danau yang cukup indah ini, dikelilingi dengan hiasan hutan primer tua. Disekitar itu pula tinggal warga transmigrasi asal Bali yang sudah menetap sejak sepuluh tahun lalu. Mereka membangun pura, tempat mereka beribadah sehinga menambah suasana asri dari Danau Togomotonu ini.

Ini kondisi sekarang. Entahlah lima tahun yang akan datang, akankah wajah Danau Togomotuno yang artinya dalam bahasa daerah setempat kampung yang tenggelam itu bisa dinikmati keasriannya sepanjang masa? Soalnya, jarak 200 meter dari bibir pantai danau saja hutan-hutannya sudali pada habis digunduli oleh perusahaan kontraktor untuk keperluan pemukiman. Boleh jadi, kalau Pemda Buton tidak bertindak cepat, selain hutannya habis —burung-burung yang adapun akan pergi entah ke mana. Mati.

Dari segi hidrologis, hutan yang ada di bukit kecil itu sebagai penyangga limpahan dan serapan air hujan, penyedia air bagi danau bila terjadi musim kemarau, Dan, juga sebagai penyangga sedimentasi tanah yang dapat menghabiskan danau ini. Bila saja hutan ini habis, maka danau itu dengan sendirinya akan lenyap, selanjutnya para burung pun akan terbang. Dan bila lenyap, apa lagi yang dianggarkan oleh Buton buat para turis maupun peniliti agar mau bertandang?


Si Cantik Maleo yang Rawan

Maleo. Nama ini sering disebut-sebut, tapi jarang manusia bisa melihatnya di alam bebas sekalipun ia orang Sulawesi tempat di mana habitatnya cuma ada di negeri Angin Mamiri ini. Kalaupun ingin bersikeras mau memergokinya sedang lewat, siapa pun mestilah meluangkan waktu yang cukup serta kesabaran yang tinggi menunggu ia keluar dari lebatnya hutan untuk bertelur di pinggir sungai yang berpasir.

Freddy Pangedja, 40, staf PerlIndungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) yang sudah ikut membantu Operasi Wallacea sejak dua tahun lalu, hanya pernah melihat burung maleo (Macrocephalon maleo) sebanyak 24 ekor di Hutan Lebo, Maligano. Tempat ini, merupakan habitat terbanyak yang pernah dijumpai dari square-square (petak-petak pengamatan) yang telah ditetapkan. Untuk seluruh daerah di Pulau Buton diperkirakan jumlahnya cuma tinggal 200 ekor.

Wartawan TIRAS termasuk anggota Tim Operasi Wallacea yang beruntung melihat burung yang tubuhnya sedikit lebih besar dari pada ayam jantan ini. Pagl hari, Kamis (12/11/96) pukul 07.10 WITA terlihat ada 11 ekor burung maIeo yang termasuk ke dalam jenis burung gosong. Sang jantan tampak kelihatan sedang sibuk, mengais-ngais pasir untuk persiapan menanamkan telur betina yang segera akan keluar. Sementara si betina ikut mengawasi kalau-kalau ada gangguan dari binatang lain. Gali-menggali ini saling bergantian dilakukan sampai kedalaman pasir mencapai 40- 50 cm dari permukaan tanah.

Biasanya mereka menggali lubang itu memakan waktu satu sampai dua jam, setelah itu telur ditanam kembali. Dan Momua ini –panggilan untuk maleo bagi masyarakat Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara— menanam telurnya tanpa pernah kembali lagi menengok perkembapgannya sampai ia menetas.

Satu hal dari kebiasaan baik yang agaknya pantas ditiru oleh manusia dari burung ini adalah sifatnya yang monogami. Dia tidak akan pernah berganti pasangan, kecuali pasangannya itu mati. Burung yang memiliki kutu yang sangat gatal bila terkena kulit ini mampu pula bertelur sepanjang tahun, dengan puncaknya pada Juli sampai November. Dalam sekali musim, si betina mampu mengeluarkan 10-15 butir telur. Dengan bantuan sinar matahari, biasanya telur itu akan menetas setelah 50 harl, dan si kecil maleo berusaha merayap sendiri untuk naik ke atas permukaan tanah.

Baru setelah si kecil maleo berada di alam sebenarnya, sang induk datang untuk memberi ujian dengan mematuk-matuk dan menerkam anaknya yang masih lugu itu agar segera berlari ke semak belukar. Tak jarang sang jabang bayi itu mati oleh ganasnya ujian yang diberikan oleh maleo dewasa. Maklum, ujian keras tadi mungkin untuk menghadapi ancaman pemangsa lain yang siap menghabisi keluarga maleo, seperti ular, biawak, anjing hutan maupun babi hutan.

Dari sekian banyak predator itu, yang sangat “mengancam” justru datang dari manusia. Bahkan sejak telur-telur itu baru saja ditanam oleh induknya, manusia sudah mencurinya. Tak jauh dari tempat pengintaian yang dibuat oleh tim operasi, terlihat bekas-bekas pelepah daun yang digunakan oleh pemburu sebagai penyekat agar setiap gerakan tak terlihat atau terdengar oleh burung yang memiliki pendengaran dan kepekaan yang sangat tajam itu. “Kepekaannya sungguh luar biasa, dari jarak 1.000 meter ia sudah dapat menanggap gelagat yang kurang baik untuknya,” ujar Freddy yang pernah meneliti secara intensif kehidupan burung maleo di daerah Cagar Alam Tangkoko, Sulawesi Utara.

Kebiasaan mengambil telur burung ini memang sudah sejak lama ada. Menurut penuturan La Santa, 95, pemuka masyarakat yang ada di Desa Maligano, keadaan ini sudah ada sejak berkuasanya Sibatara Wakaka, raja Buton I yang menduduki singgasananya sekitar Abad ke-13. Sang Raja paling demen akan telur burung maleo ini. Setiap ada tamu kerajaan maupun acara-acara yang dilangsungkan di dalam istana, telur yang beratnya sekitar 250 gram (6 kali lebih besar dari telur ayam kampung) tetap menjadi menu santapan istimewa. “Ibaratnya kalau tak ada telur di acara pesta, bisa-bisa acara diurungkan,” ujar LaSanta sambil bergurau.

“Pola kebiasaan sang Raja itu terus berlangsung. Setiap warga mengadakan acara kenduri untuk perkawinan, mencukur rambut anak, serta pesta adat lainnya, telur burung maleo harus ada untuk melengkapi syarat,” ujar La Santa. Tapi, untuk sekarang ini, La Santa sendiri mengaku sudah agak sulit buat mendapatkan telur yang isinya didominasi oleh kuningnya itu. Sejak tahun ’70-an telur-telur ini sudah susah untuk didapat, “Kalau ada pesta yang akan diselenggarakan dan tak mendapatkan telur maleo, terpaksa digantikan dengan telur ayam saja,” kata La Filu, teman La Santa yang menerjemahkan penjelasannya dari bahasa Taluki (bahasa daerah setempat) ke bahasa Indonesia.

Meski demikian, untuk menjaga kelestarian burung maleo –yang keberadaan-nya dilaporkan oleh Dr. Forster Maleo pertama kalinya pada tahun 1840 kepada Musium Leiden di Belanda— masyarakat di sekitar Pulan Buton sudah memagarinya dengan “Adat Syarat” yang sudah berkembang lama dengan konsekuensi hukuman tertentu. Adat itu menyebutkan:”Boleh mengambil telurnya, tapi jangan mengganggu burung”.

Tapi, efektifkah adat syarat ini untuk menjaga kelestarian maleo? Di satu sisi tak boleh mengganggu maleo, tapi telurnya terus dikonsumsi? Susah. “Yang jelas memang peran berbagai pihak sangat perlu untuk meluruskan kebiasaan masyarakat, dan mendidik mereka untuk bisa sama-sama menjaga kelangsungan burung yang keberadaannya sudah sangat langka ini,” ujar La Ode Hanufi, kepala Desa Maligano.

Dan memang kesadaran ini kelihatan masih minim. Di pinggir Pelabuhan Maligano, seorang ibu penjual gogos (semacam lemper) menawarkan kepada TIRAS untuk membeli telur burung maleo dengan harga Rp 3.000 per butirnya. Setelah disanggupi, si ibu itu pulang ke rumah untuk mengambil stok telurnya. Di tengah jalan janda dua anak itu dibisiki oleh temannya untuk tidak menjual —karena ia salah menilai calon pembeli.

Si Ibu buru-buru ngacir karena takut. “Mereka sebenarnya sudah tahu kalau telur maupun burung maleo ini dilindungi, tapi tetap saja mereka lakukan untuk biaya tambahan hidup keluarganya,” ujar Hanufi. Dan yang lebih parah lagi, petugas Jagawana yang dipercaya oleh pemerintah untuk menjaga habitat di kawasan ini pun ikut-ikutan pula mengambil telur untuk diperdagangkan. Malah masyarakat di sana bila ditanya yang suka mengawasi keberadaan burung telurnya ini, seorang warga bernama Mansyur, dengan enteng menjawab, “Bule-bule turis itu.”

La Haris, bocah,umur lima tahun yang tinggal Hutan Lebo, dengan lugu menjelaskan orang tuanya kerap mengambil telur-telur maleo ini untuk dijual ke pasar. Anak yang belum bersekolah itu ditemani oleh adiknya La Edi dan La Fransius dengan enaknya mengeluarkan dua butir telur hasil buruan ayahnya. “Setiap hari ada saja telur yang didapat,” kata Haris dalam bahasa daerah.

Morfologi
Sekilas, bentuk maleo ini seperti ayam jantan. Bulunya berwarna hitam dari kepala sampai ekor, sedang pada bagian dada bawah berwarna merah muda. Pada bagian kepala sampai tengkuk tak memiliki bulu alias botak. Pada bagian puncak kepala memiliki benjolan yang agak besar, seperti tanduk yang tumpul, berwarna hitam mengkilat. Untuk maleo jantan, tanduk ini ukurannya lebih besar lagi serta letaknya agak mengarah ke belakang. Binatang yang memiIiki mata berukuran besar, dan warna kelopak hijau kebiru-biruan bercampur jingga, dengan biji mata kecokelat-cokelatan ini, bila sedang berkokok mengeluarkan suara “kee-ourrrrrrrrrrr” atau “coo-uourrr”dan sekali lagi memang persis seperti ayam. “Ayam juga kan sebenarnya dalam ilmu pengetahuan termasuk ke dalam jenis burung. Cuma, burung yang satu ini memang, banyak sekali memiliki keistimewaan,” ujar Dr. Asep Adhikerana, ahli burung di Puslitbang Biologl LIPI Bogor.

Oleh karena kelangkaan dan keistimewaannya itu, pemerintah sejak 1970 telah menetapkan jenis binatang ini, masuk ke dalam kategori yang “terancam punah” —dengan konsekuensi harus mendapat perlindungan yang cukup serius. Ada tujuh cagar alam yang ditetakan sebagai daerah suaka alam di Sulawesi yang ditetapkan naenjadi habitat maleo, meliputi: (1) SulaWesi Utara: Gagar Alam Tangkoko Batuangus, Taman Nasional Dumoga Bone dan Cagar alam Panua; (2) Sulawesi Tengah: Cagar Alam Lore Kalamanta, Cagar Alam Bakiriang; (3) Sulawesi Tenggara: Cagar Alam Tanjung Batikolo dan Suaka Margasatwa Buton Utara (kini pemda setempat sedang mengsulkan untuk diubah menjadi taman Nasional Gunung Lambelut; (4) Sulawesi Selatan: Cagar Alam Mamuju.

Maleo ini sendiri terbagi lagi menjadi empat jenis, yaitu tipe Tumokang yang mengharapkan suhu panas untuk menetaskan dirinya pada air panas, tipe Tangkoko Batuangus, yang mengambil sumber panas dari sinar matahari, tipe pantai tanpa vegetasi yang sumber panasnya dari sinar matahari, dan tipe pantai dengan vegetasi rendah dan terbuka. Sumber panas yang diperoleh burung dari tipe ini berasal dari sinar matahari. Sedangkan untuk vegetasinya pada tanaman semak dan perdu. Jenis maleo yang ada di Hutan Lebo-Maligano termasuk pada tipe yang keempat.

Di wilayah kehidupan maleo biasanya banyak dijumpai beberapa jenis tumbuhan, antara lain nantu (Palaqium obtusifolium), gora utan(Syzigium sp), rao (Dracontotomelon mangiferum) dan pohon beringin (Ficus benjamina)serta tumbuhan-tumbuhan berbuah lainnya yang bisa ia makan. Tanaman tadi, selain sumber hidupnya, juga menjadi tempat bertenggernya di kala istirahat atau tidur. Selain buah, maleo juga pemakan hidangan laut, seperti serangga, siput, dan kepiting yang dijumpainya di pinggir pantai.

Kelak nama burung ini akan lebih sering disebut-sebut lagi, tatkala B.J.Habibie, menristek dan ketua umum BPPT yang putra Sulawesi itu jadi meluncurkan mobil nasionalnya dengan merek dagang Maleo. Agaknya, bukan karena faktor Habibie yang berasal dari Sulawesi itu membuat nama ini dipakai. Lebih dari itu, untuk mengingatkan kita akan keindahan maupun ancaman kelangkaan dari jenis burung yang juga dipakai sebagai maskot Sulawesi Tengah ini bisa terus diingat dan terpelihara.

Sumber: Majalah Tiras, No 47/ Tahun II/ 19 Desember 1996

Share
%d blogger menyukai ini: